Liputan6.com, Jakarta - Disleksia merupakan gangguan belajar berbasis neurobiologis yang secara spesifik memengaruhi kemampuan seseorang dalam memproses bahasa. Menurut Katie Davis, PsyD, seorang ahli neuropsikologis pendidikan dan penilaian ilmu saraf di New York City, “ Disleksia adalah gangguan membaca yang ditandai dengan defisit pemrosesan fonologis primes.”
Melansir dari Everyday Health, Minggu, 11 Januari 2026, kondisi ini menyebabkan penderitanya sering kesulitan menguraikan kata-kata individual serta memiliki kemampuan mengeja yang buruk.
Meskipun sering dianggap sebagai hambatan intelektual, organisasi Understood menegaskan bahwa disleksia bukahlan tanda bahwa seseorang tidak cerdas, banyak pengidapnya justru memiliki kreativitas yang sangat tinggi.
Secara historis, kondisi ini pertama kali diidentifikasi hampir 150 tahun lalu, tepatnya pada 1887 oleh ahli saraf Jerman sebagai kebutaan kata, sebelum akhirnya istilah disleksia dicetuskan oleh Rudolph Berlin pada 1887.
Berdasarkan data International Dyslexia Association (IDA), diperkirakan 15 hingga 20 persen populasi dunia menunjukkan gejala disleksia. Penting untuk melakukan deteksi dini, Mayo Clinic memperingatkan bahwa tanpa intervensi, disleksia seringkali dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan, kemarahan, hingga depresi yang berdampak jauh.
Kenali Tanda dan Gejala Disleksia Sejak Dini hingga Dewasa
Gejala disleksia sangat bervariasi dan seringkali baru terdeteksi saat anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Kimberly R. Freeman, PhD, menjelaskan, “ Disleksia biasanya pertama kali diketahui oleh guru atau orangtua yang mengamati masalah membaca di lingkungan kelas.”
Menurut panduan dari Mayo Clinic dan Universitas Yale, gejala pada anak prasekolah meliputi keterlambatan berbicara, kesulitan mempelajari lagu berima, serta sering salah mengucapkan kata-kata sederhana.
Memasuki usia sekolah dasar, tandanya menjadi lebih spesifik seperti kemampuan membaca yang jauh di bawah tingkat kelas, kesulitan mengingat urutan, serta hambatan dalam melihat persamaan atau perbedaan bunyi pada kata.
Pada remaja dan dewasa, gejalanya berkembang menjadi proses membaca yang sangat lambat, kesulitan mengeja kata-kata kompleks, hingga ketidakmampuan memahami ungkapan kiasan atau lelucon, Memahami variasi gejala ini sangat penting agar individu tidak merasa putus asa, karena diagnosis yang tepat merupakan langkah awal untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.
Mengapa Disleksia Terjadi? Faktor Genetik dan Kinerja Otak
Studi pencitraan otak menunjukkan perbedaan nyata pada struktur otak pengidap disleksia, khususnya pada area yang bertanggung jawab atas pemahaman bahasa.
Dr. Davis menyatakan bahwa “Disleksia disebabkan oleh disfungsi dalam sirkuit saraf yang mendukung membaca,” yang melibatkan wilayah di lobus temporal dan frontal di belahan otak kiri. Hal ini membuktikan bahwa disleksia adalah kondisi biologis murni, bukan karena kurangnya motivasi atau kemalasan dalam belajar.
Faktor keturunan juga memegang peran kunci. National Institute of Neurological Disorders and Stroke mencatat bahwa disleksia cenderung diturunkan dalam keluarga. Jika orang tua memiliki riwayat disleksia, risiko pada anak akan meningkat.
Selain faktor genetik, Mayo Clinic menyebutkan beberapa faktor risiko lingkungan dan prenatal, seperti lahir prematur, berat badan lahir rendah, serta paparan zat tertentu selama dalam kandungan yang dapat memengaruhi perkembangan saraf janin, terutama pada area otak yang memproses bunyi dan kata.
Mengenal Jenis-Jenis Disleksia dan Cara Mendiagnosisnya
Disleksia bukanlah kondisi yang seragam, spesialis mengategorikannya ke dalam beberapa jenis untuk menentukan penanganan yang tepat. Menurut NeuroHealth Arlington Heights, jenis-jenis tersebut meliputi:
1. Disleksia Fonologis: Kesulitan memecah kata menjadi bunyi-bunyi penyusunnya.
2. Disleksia Permukaan (Visual): Kesulitan mengenali kata secara utuh melalui penglihatan.
3. Defisit Penamaan Cepat: Ketidakmampuan menyebutkan angka atau warna dengan cepat.
4. Defisit Ganda: Kombinasi antara gangguan fonologis dan hambatan penamaan cepat.
Proses diagnosis tidak bisa dilakukan melalui tes medis biasa seperti tes darah. Evaluasi formal melibatkan spesialis seperti ahli patologi bicara atau ahli neuropsikologi. Tes yang digunakan mencakup penilaian memori kerja verbal, kecepatan pemrosesan fonologis, dan kemampuan memecahkan kode bahasa.
Freeman menambahkan bahwa faktor lain seperti gangguan penglihatan atau pendengaran harus disingkirkan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa diagnosis disleksia yang diberikan benar-benar akurat dan sesuai dengan kondisi pasien.
Langkah Penanganan dan Komplikasi Jika Tidak Diobati
Disleksia adalah kondisi seumur hidup, namun gejalanya bisa dikelola dengan sangat efektif. Rencana perawatan sering melibatkan program membaca multisensori seperti pendekatan Orton-Gillingham, yang mengintegrasikan indra penglihatan, pendengaran, dan sentuhan.
Bagi siswa, sekolah biasanya menyediakan bantuan melalui Rencana Pendidikan Individual (IEP), seperti tambahan waktu ujian atau penggunaan alat perekam instruksi di kelas untuk membantu mereka mengejar ketertinggalan.
Jika diabaikan, disleksia dapat memicu komplikasi sosial dan emosional, termasuk rasa rendah diri yang berujung pada penarikan diri secara sosial. Mayo Clinic juga mencatat bahwa disleksia sering muncul bersamaan dengan ADHD, diskalkulia (gangguan matematika), atau disgrafia (gangguan menulis).
Meski penuh tantangan, intervensi dini memberikan harapan yang sangat positif. Dengan dukungan tim yang tepat dan latihan yang konsisten, penderita disleksia dapat mencapai potensi maksimal mereka, sukses secara akademis, dan meraih karier yang cemerlang di masa depan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473439/original/088752300_1768444172-elisa.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5120439/original/082910600_1738657565-ad46ba01-231b-434c-9958-e30141a5491a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473720/original/094777700_1768453988-palembang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1569062/original/001858200_1492418690-20170417--Transjakarta-Luncurkan-Bus-untuk-Warga-Kebutuhan-Khusus-Disabilitas-TJ-Care--Jakarta-04.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424801/original/004683600_1764156227-Screenshot_2025-11-26_181924.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471031/original/073879800_1768274899-relawan_dokter.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467731/original/087454100_1767928616-disabilitas_es_teh.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377386/original/037511600_1760092677-eggs-wooden-platter-kitchen-towel-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367828/original/050200100_1759315919-WhatsApp_Image_2025-10-01_at_15.17.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5462436/original/072940900_1767579309-pppk_paruh_waktu.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463237/original/093893900_1767603233-RT_8.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460814/original/003770000_1767321823-Ezra.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4641894/original/056970400_1699518945-Seleksi_CASN_atau_CPNS_2023_2.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4613149/original/015548500_1697509706-Screenshot_2023-10-17_091840.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452898/original/039508500_1766462162-guru_hina_difabel.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456791/original/022887300_1766974834-Posyandu_Disabilitas_2025.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455297/original/009310000_1766644331-catur.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452727/original/035236000_1766455041-peparkot_serang.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453378/original/090115300_1766476856-disab_cirebon.png)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406089/original/006566900_1762512009-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5032120/original/020113400_1733123995-fotor-ai-2024120214155.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161503/original/090966100_1741846958-1741840983693_penyebab-autis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405703/original/088328900_1762495927-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380909/original/004147800_1760438190-Ilustrasi_perundungan_di_Grobogan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5398804/original/020121200_1761897445-Abdul_Rauf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5369993/original/045407100_1759484291-WhatsApp_Image_2025-10-03_at_16.34.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406988/original/070457800_1762657462-uld_pb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293741/original/045684500_1753341485-2148817396.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406319/original/030571500_1762537820-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355962/original/087526300_1758388524-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403042/original/097694400_1762315278-job_fair_disabilitas_pramono_anung.jpeg)