Kusta Berujung Disabilitas, Apa Bedah Plastik Rekonstruksi Bisa Jadi Solusi?

16 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Kusta yang tak ditangani lama-kelamaan bisa berujung pada kondisi disabilitas. Jemari menekuk hingga amputasi telah dialami beberapa pasien kusta yang terlambat menjalani pengobatan.

Timbul tanya, apakah pasien yang memasuki fase jemari kaku dapat ditolong dengan tindakan bedah plastik?

Dokter spesialis bedah plastik-rekonstruksi dan estetik, Imam Susanto mengatakan, upaya rekonstruksi untuk pasien kusta sangat tergantung pada kondisi pasien.

“Rekonstruksi kasus kusta sangat tergantung pada derajatnya, apakah sendinya sudah rusak, kalau sudah rusak diapain aja enggak bisa, kecuali membentuk tangan di posisi yang gampang untuk melakukan fungsinya,” kata Imam kepada Health Liputan6.com saat ditemui di RS EMC Sentul, Bogor, Kamis, 12 Februari 2026.

Dengan kata lain, mengubah posisi jari dari menekuk menjadi lurus amat mungkin dilakukan dengan bantuan rekonstruksi. Namun, fungsi jari tak dapat kembali seperti semula jika sendinya telah rusak.

“Kalau zaman sekarang itu masuknya ke bidang ilmu sendiri, sub hand jadi di bedah plastik itu ada sub-sub-nya, salah satunya tangan.”

Senada dengan Imam, dokter spesialis bedah plastik-rekonstruksi dan estetik, Profesor David S. Perdanakusuma juga menyampaikan bahwa rekonstruksi tangan ini masuk pada ranah hand surgery.

“Bisa bedah plastik menangani pasien kusta, di sub bedah plastik tangan, hand surgery,” ujarnya.

David menjelaskan, bedah plastik adalah upaya memberi nilai tambah pada tubuh yang dianggap kurang. Bedah plastik adalah salah satu cabang ilmu bedah yang dalam tindakannya sangat memerhatikan hasil penampakan. Istilah plastik sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni plasticos yang artinya mengolah atau membentuk.

Bedah plastik terbagi menjadi dua area, yakni area estetik dan area rekonstruksi. Area estetik bertujuan mengubah orang “normal” menjadi lebih bagus, cantik, indah, muda, dan lebih kencang.

“Ini adalah area estetik, dari normal menjadi super normal. Area estetik ada dua area (yang dibedah) yaitu wajah dan tubuh,” jelas David.

Sementara, area rekonstruksi mengubah orang yang bentuk tubuh atau wajahnya “tidak normal” menjadi mendekati normal. Misalnya, orang yang mengalami kecelakaan hingga wajahnya rusak, maka bedah rekonstruksi diperlukan agar wajah setidaknya kembali ke bentuk yang mendekati bentuk semula, meski tidak pulih total.

Bedah rekonstruksi mencakup area yang lebih banyak yakni kepala dan wajah, luka dan luka bakar, bedah mikro, bedah tangan, hingga genitalia.

Prinsip bedah rekonstruksi adalah memperbaiki kerusakan atau ketidaknormalan. Termasuk memperbaiki disabilitas bawaan lahir seperti bibir sumbing, memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan atau trauma, dan cacat setelah operasi.

“Cacat pascaoperasi jadi misalnya ada tumor payudara, payudaranya diangkat, itu tugas bedah plastik buat ada payudara lagi. Di wajah ada tumor, diangkat, kemudian diperbaiki lagi wajahnya.”

“Apakah setelah rekonstruksi jadi cantik? Enggak, tapi paling tidak mendekati normal,” jelasnya.

Korelasi Kusta dengan Disabilitas

Bedah plastik tak serta-merta mengembalikan kondisi jari pengidap kusta, maka dari itu, pencegahan dan penanganan kusta sejak dini menjadi hal krusial agar tak berujung disabilitas.

Kusta atau lepra adalah infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan. Disebabkan bakteri Mycobacterium leprae, penyakit ini dapat menular melalui percikan ludah saat batuk atau bersin. Masalah yang timbul pada bagian tubuh dapat disebabkan kuman kusta yang menyerang saraf. Ini menyebabkan saraf di tubuh tidak berfungsi, begitu pula sistem nyerinya.

Jika sistem nyeri tidak berfungsi, maka pasien tidak bisa merasakan luka yang ada di tubuh. Luka pun bisa terabaikan dan baru terlihat setelah kondisinya memburuk.

Menurut Kepala Puskesmas Pondoh Indramayu periode 2022, dr. Novie Indra Susanto, jika sudah terjadi demikian, maka tindakan terakhir yang bisa dilakukan adalah amputasi.

“Penyebab amputasi itu umumnya karena jaringannya sudah mati sudah tidak berfungsi, kalau sudah mati apa lagi yang mau dipertahankan. Bahkan kalau dirawat juga dia nanti gas-gas beracun bisa merembet dan meracuni bagian yang masih sehat.”

“Kalau dipertahankan takutnya dia meluas, amputasi adalah pilihan terakhir,” ujar Novie kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Desa Segeran, Juntinyuat, Indramayu Rabu (6/7/2022).

Di sisi lain, amputasi juga merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan pasien.

Selain tangan dan kaki, kusta juga bisa berdampak pada mata. Kusta yang menyerang bagian mata bisa membuat pasien kesulitan untuk berkedip.

“Dengan dia enggak bisa berkedip itu kan otomatis ada bagian mata yang selalu terbuka nanti dia kering. Kalau terbukanya ekstrem maka bisa terjadi kerusakan mata. Ini bisa disiasati dengan penggunaan tetes mata agar jaringan permukaan mata tidak rusak,” sarannya.

Upaya Kemenkes Eliminasi Kusta

Belakangan, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk membantu mengeliminasi kasus kusta maka di Indonesia perlu ada Kusta Warrior Club atau komunitas lawan kusta.

“Tahun ini harus jadi Kusta Warrior Club di 514 kota, rekrut penyintas kusta, latih mereka untuk bicara di depan umum dan biarkan mereka yang bicara. Bukan saya yang bicara kusta, tapi mereka (penyintas), testimoni mereka akan lebih powerful (kuat),” kata Budi dalam temu media di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.

Komunitas ini bertujuan mengumpulkan para penyintas atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) untuk bersatu dan mengedukasi masyarakat. Budi meminta agar para OYPMK dilatih berbicara di depan umum agar bisa menjadi pembicara dalam seminar atau acara-acara publik.

Let them speak (biarkan mereka bicara), ini akan menciptakan gerakan yang sangat kuat,” ucapnya.

Menurut Budi, kusta masih distigmatisasi akibat kurangnya informasi yang benar di masyarakat. Padahal, kusta bukan penyakit kutukan, melainkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, sulit menular, memiliki tingkat fatalitas hampir nol, serta dapat disembuhkan.

“Kusta bukan kutukan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, penularannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Yang terpenting, kusta sudah ada obatnya dan bisa sembuh,” ujar Budi.

Budi menekankan, stigma membuat pasien kusta takut dan malu melapor sehingga pengobatan sering terlambat. Menurutnya, pemberian informasi yang benar menjadi kunci untuk memutus stigma dan mempercepat penanganan kusta di masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menyampaikan optimismenya terhadap upaya Indonesia dalam menghapus kusta.

“Dengan komitmen yang sangat kuat ini, saya yakin Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta,” ujar Sasakawa dalam kesempatan yang sama.

Dengan menghilangkan stigma, maka pasien akan lebih berani lapor dan memeriksakan diri. Dengan begitu, angka temuan kusta di Indonesia akan meningkat.

Meningkatnya jumlah kasus kusta yang terdeteksi justru merupakan tanda positif. Hal tersebut menunjukkan semakin banyak pasien yang berani melapor dan mendapatkan pengobatan.

Dengan kata lain, semakin cepat terdeteksi, maka semakin cepat diobati. Sebaliknya, jika tidak diobati, kusta dapat berujung pada kondisi disabilitas fisik seperti kaki, tangan, dan jari bengkok, kaku serta tak dapat digerakkan.

Kisah Penyintas Kusta

Dalam kesempatan yang sama, Samsul, penyintas yang mengalami kusta pada 1999, menceritakan pengalamannya menghadapi diskriminasi akibat kurangnya pengetahuan.

Ia menilai penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami, khususnya kepada guru dan masyarakat umum, sangat penting untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit yang menakutkan.

“Awalnya teman-teman menjauhi saya karena mereka tidak tahu. Tapi setelah saya jelaskan dan mereka melihat saya baik-baik saja, lama-kelamaan mereka bisa menerima dan berteman kembali, bahkan sampai saya kuliah,” ujar Samsul.

Ia menilai penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami sangat penting untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit yang menakutkan dan tidak dapat disembuhkan.

Kusta 100 Persen Dapat Disembuhkan

Kabar baiknya, penyakit kusta 100 persen dapat disembuhkan apabila belum mengalami disabilitas permanen. Obatnya pun bisa didapat di puskesmas secara gratis.

Guru Besar Departemen Dermatologi dan Venereologi FK-KMK UGM Profesor Hardyanto Soebono menjelaskan soal gejala kusta yang dapat menyerupai penyakit kulit lain.

“Karena bentuknya yang bisa menyerupai penyakit kulit lain, gejala utama penyakit ini ditandai dengan kulit yang mati rasa,” kata Hardyanto mengutip laman UGM, Selasa (13/1/2026).

Ia mencontohkan, deteksi dini yang paling mudah dilakukan adalah dengan menggunakan kapas yang dipilin.

“Tes paling gampang dengan menggunakan kapas yang dipilin, dirasakan (ditusuk-tusuk) pada bagian bercak dan sekitarnya terasa atau tidak, jika tidak terasa, ada kemungkinan terindikasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut dengan penyakit kusta karena kusta termasuk dalam penyakit menular yang paling lemah. Masyarakat harus cepat menyadari adanya penyakit kulit dan harus segera dikonsultasikan.

“Pemerintah harus lebih memberikan perhatian terhadap pemberantasan penyakit kusta, dengan diberlakukan kembali wakil supervisor (wasor) untuk pemeriksaan pasien,” tutupnya.

Hardyanto mengingatkan, kusta bukan penyakit kuno yang bisa diabaikan begitu saja. Faktanya, hingga kini Indonesia masih menempati peringkat ketiga di dunia dengan jumlah kasus pasien penyakit kusta terbanyak setelah India dan Brasil.

Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan, ditemukan sekitar hampir 15.000 kasus baru kusta. Di Indonesia, prevalensi kusta tercatat sebesar 0,63 kasus per 10.000 populasi, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban kasus kusta tertinggi di dunia. Angka prevalensi penyakit kusta pada beberapa daerah masih tinggi seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua.

Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta memiliki angka prevalensi kusta paling rendah, tetapi hingga saat ini masih ditemukan penyakitnya.

“Setiap bulan saya mendapat pasien baru, artinya penularan penyakit itu masih terjadi terus di masyarakat,” pungkas Hardyanto.

Read Entire Article