Penyandang Disabilitas di Sleman Diajak Jaga Lingkungan Lewat Biopori dan Gerakan Go Green

11 hours ago 6

Liputan6.com, Sleman - Melestarikan lingkungan adalah tanggung jawab semua pihak termasuk masyarakat penyandang disabilitas. Para difabel memiliki potensi untuk berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan lewat upaya-upaya sederhana seperti membuat biopori dan menerapkan konsep Go Green.

Guna mendukung peran ini, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, M. Darul Falah, membekali penyandang disabilitas dengan dua basis keilmuan praktis. Yakni gerakan Go Green dan pengaplikasian teknologi biopori.

Melalui materi Go Green, peserta diajak mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menekan volume sampah domestik serta menghemat pemakaian sumber daya air tanah.

“Gaya hidup ramah lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama tanpa terkecuali. Melalui teknologi biopori, kita membuat lubang silindris vertikal ke dalam tanah sedalam satu meter dengan diameter 10 hingga 30 cm,” kata M. Darul Falah dalam pelatihan di Balai Dusun Gejayan, Kelurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Sabtu (16/5/2026).

“Lubang ini kemudian diisi sampah organik rumah tangga untuk memicu aktivitas fauna tanah seperti cacing. Saluran-saluran alami yang terbentuk dari aktivitas biota tanah inilah yang akan mengoptimalkan resapan air hujan, mencegah genangan banjir, sekaligus menyuburkan pekarangan rumah walau areanya sangat terbatas,” tambahnya mengutip laman resmi Kabupaten Sleman, Jumat (22/5/2026).

Kelola Pangan Mandiri di Pekarangan Rumah

Dalam kegiatan ini, puluhan peserta disabilitas didampingi kader mempraktikkan langsung cara mengebor tanah, memasang pipa paralon berlubang, hingga memasukkan sampah organik. Keterampilan mekanis ini sengaja diajarkan agar dapat diadopsi dengan mudah di lingkungan tempat tinggal masing-masing peserta.

Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Condongcatur, Setyawati Marheni, menyampaikan bahwa program ini menjadi pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi pembatas bagi seseorang untuk terus belajar dan berkarya. Kemampuan mengelola pangan mandiri di pekarangan rumah dinilai menjadi langkah awal yang baik untuk mendongkrak rasa percaya diri serta ketahanan ekonomi keluarga difabel.

“Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya, belajar, dan berkebun. Harapannya kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi teman-teman disabilitas agar mereka bisa lebih mandiri, produktif, dan ikut ambil bagian dalam merawat lingkungan sekitarnya,” kata Setyawati.

Investasi Ilmu bagi Penyandang Disabilitas

Kegiatan ini adalah sebuah kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Instiper Yogyakarta, PPDI Condongcatur, Hidimu, dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Depok.

Ini merupakan pelatihan terpadu soal pemanfaatan lahan sempit untuk bercocok tanam. Melalui pelatihan ini, hubungan kemitraan antara akademisi, aparatur kelurahan, dan organisasi kemasyarakatan di Sleman diharapkan semakin solid.

Investasi keilmuan yang diberikan kepada kelompok rentan ini menjadi potret nyata bagaimana pembangunan daerah berbasis lingkungan hidup dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan hak-hak kesetaraan bagi seluruh warga negara.

Agenda pemberdayaan ini diikuti oleh puluhan penyandang disabilitas yang hadir bersama para pendamping keluarga, kader sosial, serta pengurus PPDI Condongcatur. Kehadiran perwakilan Pemerintah Kelurahan Condongcatur dalam forum tersebut menegaskan komitmen birokrasi lokal dalam mendukung terciptanya ruang publik yang inklusif, ramah difabel, sekaligus produktif melalui konsep pertanian perkotaan (urban farming).

“Sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi sosial seperti ini sangat kami butuhkan untuk terus membuka peluang-peluang baru bagi komunitas difabel,” pungkas Setyawati Marheni.

Read Entire Article