Liputan6.com, Jakarta - Kecelakaan di Tol Cipularang Jakarta–Bandung pada 2011 membuat Rani Mei Lestari menjadi penyandang disabilitas.
“Disabilitas saya adalah disabilitas fisik paraplegia, yaitu kelumpuhan atau hilangnya fungsi tubuh dari pinggang hingga tungkai kaki akibat kecelakaan lalu lintas. Artinya, disabilitas yang saya alami bukan bawaan lahir dan hingga saat ini sudah berlangsung sekitar 15 tahun,” kata Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Bekasi, kepada Disabilitas Liputan6.com, Senin, 11 Mei 2025.
Sejak saat itu, perempuan yang akrab disapa Rani harus menggunakan kursi roda dan sama sekali tidak bisa menggerakkan kaki, termasuk untuk berdiri maupun berjalan.
Dengan kondisi paraplegia, ia tidak mampu melakukan aktivitas secara mandiri. Ia mengaku sangat membutuhkan dukungan dan bantuan orang lain, termasuk untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
“Bagian tubuh yang masih bisa saya kontrol hanya dari pinggang ke atas, seperti tangan dan kepala, sementara pinggang, panggul, dan kaki sama sekali tidak bisa digerakkan. Karena itu, saya membutuhkan dukungan dalam menjalani aktivitas sehari-hari maupun aktivitas fisik lainnya,” ujarnya.
Di tempat tinggal pun perlu ada beberapa penyesuaian untuk memudahkan mobilitas dan membuatnya merasa aman.
“Misalnya, untuk ke toilet saya masih harus dibantu dan membutuhkan fasilitas yang sudah disesuaikan. Dengan kondisi ini, saya tidak bisa beraktivitas sendiri tanpa pendampingan,” katanya.
Tetap Semangat Jadi Pengusaha
Sebelum menjadi penyandang disabilitas, Rani adalah seorang pengusaha. Setelah mengalami disabilitas, ia tetap melanjutkan profesi tersebut.
“Saat itu saya masih memiliki dua fitness center atau gym di Cikarang dan Karawang, serta mengelola beberapa fitness center di hotel-hotel di Cikarang. Namun, seiring waktu, usaha tersebut mulai berkurang karena kondisi saya yang belum stabil dan masih dalam proses pemulihan.”
Proses pemulihan memakan waktu sekitar dua hingga tiga tahun, mulai dari hanya bisa berbaring hingga akhirnya dapat duduk dan kembali beraktivitas. Tak patah arah, ia pun mulai menjalankan bisnis dalam jaringan (daring) melalui gawai, bergabung ke berbagai grup di media sosial untuk melakukan jejaring bisnis.
“Saat itu saya masih memiliki jaringan relasi dari sebelum menjadi disabilitas. Kondisi ekonomi saya sempat sangat terpuruk karena saya adalah single parent dengan tiga anak, sekaligus menjadi tulang punggung keluarga besar untuk orang tua dan adik-adik saya,” ungkapnya.
Dia bahkan harus menjual seluruh aset, mulai dari rumah, kendaraan, hingga tempat usaha. Kemudian memulai kehidupan baru dari nol, bahkan dari kondisi minus.
“Alhamdulillah, saya kemudian dipertemukan dengan bisnis yang tepat hingga akhirnya bisa kembali bangkit. Dari situ saya mulai aktif menjadi motivator dan berbagi kisah perjuangan hidup saya. Saya sering diundang ke berbagai kegiatan bisnis untuk menceritakan perjalanan hidup tersebut,” kenangnya.
Kantongi Banyak Penghargaan
Dari bisnis daring yang dijalani, ia mendapatkan banyak penghargaan, termasuk total reward sekitar Rp1,5 miliar dan kesempatan mengunjungi 11 negara.
“Setelah itu, saya mulai mencari teman-teman sesama disabilitas dan ingin mendedikasikan diri untuk membantu mereka yang masih mengalami kesulitan ekonomi. Awalnya saya mencari komunitas melalui internet dan sempat menemukan grup dari Malaysia, namun belum menemukan komunitas dari Indonesia.”
Hingga suatu saat, ia mendapat undangan dari Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat dan di sanalah ia mulai bertemu dengan teman-teman sesama disabilitas.
“Kemudian saya bertemu dengan Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Jawa Barat dan diminta aktif di PPDI Kabupaten Bekasi. Setelah aktif di sana, saya mendapat arahan dari para senior untuk lebih mengembangkan organisasi, termasuk membangun HWDI di Kabupaten Bekasi yang sebelumnya belum ada,” katanya.
Menurutnya, di Kabupaten Bekasi banyak isu terkait perempuan, khususnya perempuan disabilitas, yang membutuhkan aktivis untuk menggerakkannya. Dari HWDI Kabupaten Bekasi, ia bertemu dengan salah satu program United Nations (UN) Women dan juga Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, hingga akhirnya diminta menjadi salah satu penggerak di Kabupaten Bekasi.
“Dari situ saya mulai semakin aktif bergerak dan mendapatkan dukungan dari berbagai lembaga, baik nasional maupun internasional. Setelah mendapat amanah dari HWDI Jawa Barat, saya menjadi lebih fokus di HWDI dan melakukan berbagai advokasi di bidang kedisabilitasan, khususnya untuk perempuan,” paparnya.
Seiring waktu, jaringan dan dukungan yang terkumpul juga semakin besar. Dari mulut ke mulut dan dukungan antar lembaga, semakin banyak perempuan disabilitas yang datang dan terdata.
“Saya juga rutin melakukan blusukan atau kunjungan ke berbagai daerah di Kabupaten Bekasi. Saat ini tercatat sekitar 500 anggota HWDI, baik perempuan, laki-laki, maupun anak-anak. Di luar itu, ada juga para pendamping disabilitas seperti ibu atau anak dari penyandang disabilitas yang turut terlibat meski belum semuanya tercatat secara formal,” ujarnya.
Buka Lapangan Kerja untuk Disabilitas
Tak henti di situ, Rani menginisiasi Disabilitas Produktif dan Mandiri (DISPROMAN) untuk membuka lapangan pekerjaan bagi teman-teman disabilitas.
Awalnya, banyak anggota di organisasi dan lingkungan Rani yang meminta bantuan untuk dicarikan pekerjaan. Ia memang sempat bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk membantu teman-teman disabilitas mendapatkan pekerjaan. Namun jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan banyaknya penyandang disabilitas yang membutuhkan pekerjaan.
“Saya kemudian berpikir, kalau terus menunggu lowongan pekerjaan datang, rasanya akan membuang waktu mereka. Karena itu, saya mulai mencari cara untuk membuka lapangan pekerjaan yang mudah dipelajari oleh teman-teman disabilitas,” katanya.
Ia sempat mencoba beberapa jenis usaha lain, tapi laundry menjadi pilihan pertama karena relatif mudah dipelajari. Pelatihannya juga tidak membutuhkan waktu lama hingga mereka siap bekerja, serta tidak memerlukan latar belakang pendidikan yang tinggi.
“Selain itu, wilayah kami di Cikarang merupakan kawasan industri dengan banyak karyawan, kos-kosan, serta keluarga muda yang membutuhkan jasa laundry karena tidak memiliki banyak waktu untuk mencuci sendiri.”
Hal inilah yang membuatnya memutuskan untuk membuka usaha laundry. Sejak awal, tujuan Rani memang bukan hanya membuka satu usaha, tetapi juga membangun beberapa cabang agar semakin banyak lapangan pekerjaan yang bisa dibuka untuk teman-teman disabilitas.
“Apalagi, teman-teman dari 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi juga banyak yang ingin bekerja. Namun, saat ini kami baru memiliki dua cabang dan sedang menuju cabang ketiga, sehingga kapasitas untuk menerima tenaga kerja disabilitas masih cukup terbatas.”
Dalam satu outlet laundry sendiri, idealnya hanya membutuhkan sekitar dua hingga maksimal empat pekerja agar operasional tetap bisa berjalan optimal.

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5686554/original/086411100_1778560418-laundry.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5573771/original/033476200_1777951840-cruise_tasik_putrajaya__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5017318/original/099458700_1732262470-newsOg_2024_7_1_1719815508059-zvpcn.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566128/original/061953900_1777115034-autisme__3_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1706763/original/051840500_1505126853-20170911-Tes-CPNS-HEL-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559535/original/070152800_1776580144-atlet_disabilitas__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558618/original/015304300_1776432999-haji_inklusif.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556806/original/087308300_1776307172-haji__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5484174/original/027555400_1769415446-ruang_aman.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551959/original/093586800_1775791958-disabilits_cirebon.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5495514/original/009145800_1770373849-disabilitas_phtc.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517524/original/006034600_1772431208-cute-baby-going-their-first-steps.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545343/original/031225100_1775184971-kembar.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3412535/original/054771300_1616808099-IMG20210321090928.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540107/original/085496200_1774680201-dXBsb2Fkcy8yMDI2LzMvMjcvNzRhNWRmMmMtMTNlZS00NDZjLThmNWMtNjJiMmNmOWE1Nzg0LnBuZw__.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4246194/original/008864600_1669877746-667ba755-ce6d-41d7-8a2c-a6862fc10828.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531986/original/061113300_1773638837-disabilitas__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529535/original/094909600_1773369238-slb.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4795577/original/010523500_1712309234-86ce4040-151f-47f1-9387-79ff32f5be98.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4169180/original/086333600_1663940351-Operasi_Bibir_Sumbing.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477859/original/053823700_1768883478-disabilitas_kab_probolinggo.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473955/original/050209800_1768462709-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493594/original/084966300_1770260452-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482139/original/022541100_1769162196-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471330/original/010256700_1768283654-John_Herdman_-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473439/original/088752300_1768444172-elisa.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1569062/original/001858200_1492418690-20170417--Transjakarta-Luncurkan-Bus-untuk-Warga-Kebutuhan-Khusus-Disabilitas-TJ-Care--Jakarta-04.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473720/original/094777700_1768453988-palembang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492093/original/003732200_1770119848-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475938/original/017585800_1768700080-617892648_18557551528040415_7133346425969213578_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5270755/original/066749600_1751441103-library_upload_21_2025_02_996x664_sidibe_602371c.jpg)