Anak Terlambat Bicara atau Gerak? Kenali Terapi yang Bisa Membantu

3 days ago 9

Liputan6.com, Bandung - Perkembangan anak di bawah lima tahun (balita) kerap menjadi prioritas seluruh orang tua. Hampir dipastikan harapan orang tua terhadap perkembangan balita tidak terkendala.

Namun, menurut dokter spesialis anak RS Al Islam Bandung Dr. Lia Marlia, Sp.A, ada sebagian orang tua mengeluhkan anaknya mengalami keterlambatan dalam perkembangan terutama adalah keterlambatan motorik semisal belum bisa mengangkat kepala, berguling, duduk, berdiri atau berjalan padahal anak sebayanya telah dapat melakukan hal tersebut.

"Hal ini biasanya akan mendorong para orangtua untuk membawa anaknya ke dokter. Biasanya mereka akan dibawa ke klinik anak atau ke klinik tumbuh kembang," terang Lia di laman RS Al Islam Bandung, ditulis Selasa (7/4/2026).

Lia menjelaskan di klinik tumbuh kembang ini, biasanya selain dilakukan wawancara yang komprehensif dengan orangtua yang meliputi riwayat kehamilan dan persalinan, juga si anak diperiksa secara fisik dan dilakukan tes perkembangan.

Jenis tes perkembangan yang akan dilakukan oleh dokter biasanya mempertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut diantaranya usia anak, keluhan utama, kemampuan dokter dan ketersediaan alat tes yang tersedia.

"Tes perkembangan yang sering dilakukan meliputi Denver II, BINS, Munchen, Griffith dan lain sebagainya. Selanjutnya dokter yang memeriksa akan menyampaikan hasilnya kepada orangtua tentang kondisi, dan sekaligus memberikan saran tentang penatalaksanaan selanjutnya," terang Lia.

Jenis Terapi sesuai Kebutuhan Anak

Lia menuturkan jika dari hasil serangkaian pemeriksaan tersebut ternyata sang anak mengalami kelainan atau keterlambatan pada aspek perkembangannya, maka akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium ataupun pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat membantu menegakkan diagnosis.

Tetapi ada sebagian anak dengan kelainan perkembangan yang tidak memerlukan pemeriksaan penunjang. Selanjutnya anak akan dianjurkan untuk terapi sesuai dengan kebutuhannya, dalam tiga tahap antara lain:

1. Fisioterapi

Terapi yang dilakukan untuk menangani masalah keterlambatan, gangguan dan kelainan pada alat dan fungsi gerak fungsional individu.

"Latihan yang dilakukan biasanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar dan motorik halus, mengoreksi postur yang abnormal, koordinasi gerak yang buruk, meningkatkan keseimbangan dan koordinasi, mengurangi tubuh kaku dan kejang otot serta penguatan dan daya tahannya," sebut Lia.

2. Terapi Wicara

Terapi yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bicara serta memahami dan mengekspresikan bahasa, selain bahasa yang bersifat verbal, terapi wicara juga mencakup bentuk bahasa non verbal.

Untuk mengoptimalkan terapi wicara biasanya yang pertama dilakukan adalah optimalisasi koordinasi mulut agar mampu menghasilkan suara untuk membentuk kata-kata.

"Olah mulut ini juga penting agar anak mampu membuat kalimat, termasuk kemampuan dalam artikulasi, kelancaran dan pengaturan volume suara," ungkap Lia.

3. Okupasi Terapi

Terapi yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fungsi individu seperti pemahaman, atensi, konsentrasi, kemampuan koordinasi visuomotor, activity daily living.

Pada anak biasanya terapi okupasi dikemas dalam bentuk permainan memanjat, meloncat, ayunan, menyusun balok-balok, puzzle, meronce, mewarnai, dan lain-lain.

Read Entire Article