Liputan6.com, Taipei - Agus Lie, seorang mantan pekerja migran Indonesia (PMI) dikenal sebagai migran berprestasi. Selain mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota (pemkot) Taoyuan, Taiwan, pada tahun 2025 sebagai Imigran Baru Terbaik, sebelumnya ia juga menggondol penghargaan lain pada tahun 2021 sebagai Pekerja Teladan Elite dari Asosiasi Perawatan Wanita Imigran Baru Kota Taoyuan.
Dalam wawancaranya bersama CNA, Agus, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa jauh sebelum dirinya mendapatkan dua penghargaan ini, hidupnya pernah mengalami kesulitan, terutama saat menjadi PMI pada tahun 2000 silam. Agus pun menuturkan bahwa ia sempat hilang kontak karena keadaan. Berikut ini kisah Agus yang diceritakan pada reporter CNA:
Pernah ditindas agensi liar
Agus menceritakan kehidupannya pada masa silam jika ia mulai datang sebagai PMI pada tahun 2000. Di kontrak pertamanya, selama tiga tahun ia bekerja di sebuah pabrik di Taoyuan. Pertama mengenal lingkungan baru, tidak bisa bahasa Mandarin. Ia juga beradaptasi keras dengan makanan sehari-hari dan tidak tahu kebiasaan kehidupan dan budaya di Taiwan. Namun, semangat Agus untuk belajar Mandarin tidak pupus.
Setiap hari pulang kerja, ia meluangkan waktu satu jam khusus untuk belajar mengenal tulisan Mandarin. Ia mulai dari mengenal dua huruf sehari dan belajar menulis setiap hari. Agus juga sering menonton drama Taiwan dan berita di TV Taiwan. Dari kebiasaan itulah ia mengenal dan bisa membaca huruf Mandarin.
Meski begitu, ia mengalami banyak kendala yang menyedihkan. Ia mengatakan perbedaan cuaca di musim dingin yang tidak enak dan pabrik yang tidak ada lembur. Pernah juga ia mendapat kabar jika hasil medical di Taiwan tidak lolos. Hatinya pun berdebar-debar dan takut dipulangkan ke Indonesia. Agus berharap ia tetap di Taiwan dan bekerja.
Agus mengatakan, lingkungan kerjanya pun tidak bagus. Ia harus rela tinggal di tempat kerja yang panas, kotor, berdebu, setiap hari mengepel dan menyapu untuk ukuran pabrik besar. Pada saat seperti itu, Agus mendapat pelajaran penting dari manajernya. Melihat kerja Agus, sang manajer pernah mendekatinya dan mengajarkan langsung bagaimana menyapu tempat kerja dengan baik.
Agus pun berpikir bahwa ia belajar dari seorang manajer dengan jabatan tinggi yang sudi mengajarkan bawahan yang paling bawah utuk bekerja dengan baik, bahkan menyontohkannya secara langsung.
Ketika ditanya bagaimana keadaan PMI pada saat itu, Agus mengatakan bahwa tahun 2000 kehidupan PMI sangat mengharukan karena hak-haknya tidak bisa terlindungi. Ia menuturkan pada saat itu mengalami potongan dari agensi yang jumlahnya fantastis. Dikarenakan hal itu, dan ajakan dari teman-temannya, Agus memutuskan untuk kabur dan menjadi PMI hilang kontak selama lima tahun.
Selama jadi PMI tidak berdokumen, ia ditindas oleh agensi liar. Kesehariannya diliputi rasa takut tertangkap polisi dan ia juga tidak punya kebebasan untuk keluar ditambah lagi perlakuan semena-mena dari agensi liar. Agus menuturkan bahwa per bulan ia hanya mengantongi uang 3.000 dolar Taiwan atau sekitar Rp1,6 juta saja.
Meski begitu, waktu istirahatnya digunakan untuk mempelajari kehidupan dan budaya orang Taiwan. Ia pun rajin mengatur gaji dan kebutuhan sehari-hari dengan hemat.
"Saya usahakan untuk menabung sebagian hasil jerih payah, meskipun tak banyak," ujar Agus yang berusia 48 tahun ini.
Tak hanya itu saja, Agus juga menceritakan bahwa dulu, saat ia memperpanjang paspor di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) ia juga mengalami penarikan ongkos yang memberatkan.
"Dulu KDEI tak seperti sekarang ini yang bagus mengalami kemajuan pesat. Dulu bikin paspor di KDEI saja harganya selangit," tuturnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492093/original/003732200_1770119848-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492003/original/048588800_1770114240-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491074/original/095134400_1770082938-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489804/original/075477200_1769933120-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489709/original/004215900_1769924869-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3302712/original/022858200_1605936242-CjkinzN007032_20201121_CBPFN0A001.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488546/original/079634700_1769756193-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487982/original/048924600_1769689308-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5486847/original/047724500_1769613681-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_20.47.16.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486797/original/034163500_1769608300-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_20.47.18.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406089/original/006566900_1762512009-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161503/original/090966100_1741846958-1741840983693_penyebab-autis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5032120/original/020113400_1733123995-fotor-ai-2024120214155.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5398804/original/020121200_1761897445-Abdul_Rauf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380909/original/004147800_1760438190-Ilustrasi_perundungan_di_Grobogan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405703/original/088328900_1762495927-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406988/original/070457800_1762657462-uld_pb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5369993/original/045407100_1759484291-WhatsApp_Image_2025-10-03_at_16.34.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293741/original/045684500_1753341485-2148817396.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406319/original/030571500_1762537820-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403042/original/097694400_1762315278-job_fair_disabilitas_pramono_anung.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355962/original/087526300_1758388524-Untitled.jpg)