Liputan6.com, New Delhi - Abhijeet Dipke nyaris tidak tidur dalam 72 jam terakhir, menghadapi gelombang pesan di media sosial setelah sebuah candaan santai berubah menjadi sesuatu yang tak terduga.
Anak muda India berusia 30 tahun itu merupakan lulusan baru hubungan masyarakat dari Universitas Boston di Amerika Serikat (AS). Tanpa diduganya, ia kini memimpin sebuah gerakan politik satire besar-besaran bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Rakyat Kecoak, dengan ribuan orang bergabung secara daring setiap harinya.
"Janta" sendiri berarti rakyat dalam bahasa Hindi.
Gerakan itu muncul setelah Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant mengatakan dalam sidang terbuka pada Jumat (15/5/2026) bahwa parasit sedang menyerang sistem. Ia juga menyamakan anak muda yang tidak mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki masa depan karier dengan kecoak.
"Ada anak-anak muda seperti kecoak yang tidak mendapatkan pekerjaan atau tidak memiliki masa depan karier. Sebagian dari mereka kemudian masuk ke dunia media, sebagian aktif di media sosial, menjadi aktivis RTI maupun aktivis lainnya, lalu mulai menyerang semua orang," katanya seperti dikutip dari Al Jazeera.
Kant kemudian mengklarifikasi pernyataannya dengan mengatakan bahwa komentarnya merujuk pada sejumlah orang yang memperoleh gelar secara curang dan tidak ditujukan kepada anak muda India, yang ia sebut sebagai pilar India maju.
Namun, pernyataan itu memicu kemarahan besar, terutama di kalangan pengguna internet muda India. Ucapan tersebut menyentuh keresahan anak muda yang tengah menghadapi pengangguran dalam skala besar, inflasi, dan perpecahan agama yang semakin tajam setelah 12 tahun pemerintahan nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi.
Ketika kemarahan meluas di media sosial, Dipke menulis di X pada Sabtu (16/5): "Bagaimana jika semua kecoak bersatu?"
Ia kemudian menindaklanjuti candaan itu — sekaligus luapan frustrasi mendalam di baliknya — dengan membuat situs web dan akun media sosial untuk Cockroach Janta Party, permainan kata dari Bharatiya Janata Party (BJP) milik Modi, di Instagram dan X.
"Mereka yang berkuasa menganggap warga negara sebagai kecoak dan parasit," kata Dipke kepada Al Jazeera pada Selasa (19/5) dari Chicago. "Mereka harus tahu bahwa kecoak berkembang biak di tempat yang busuk. Dan itulah India saat ini."
"Seperti Angin Segar"
Akun Instagram CJP telah melampaui 11,1 juta pengikut dalam tiga hari dan lebih dari 350.000 orang telah mendaftar menjadi anggota partai melalui formulir Google. Sebagai perbandingan, BJP, yang disebut-sebut sebagai partai terbesar di dunia, memiliki 8,8 juta pengikut di Instagram.
Di antara mereka yang mendaftar terdapat tokoh politik ternama, termasuk Mahua Moitra, anggota parlemen oposisi dari Negara Bagian Benggala Barat, dan Kirti Azad, mantan anggota parlemen dari Negara Bagian Bihar.
Ashish Joshi, seorang birokrat yang pensiun dari pemerintahan pusat awal tahun ini, termasuk salah satu orang pertama yang mendaftar ke partai tersebut setelah membacanya di media sosial.
"Dalam satu dekade terakhir, ada begitu banyak ketakutan di negara ini. Dan orang-orang takut berbicara," kata Joshi kepada Al Jazeera, sembari menyinggung tindakan keras pemerintah India terhadap para pembangkang.
"India telah menjadi begitu penuh kebencian sehingga Cockroach Janta Party terasa seperti angin segar."
Menyamakan anak muda dengan kecoak dinilai Joshi memiliki sisi lain, "Kecoak adalah serangga yang tangguh; mereka bertahan hidup. Dan ternyata mereka bahkan bisa membentuk partai dan merayapi sistem Anda."
"Antipati yang Mengakar"
Dalam beberapa tahun terakhir, Asia Selatan menjadi pusat protes bersejarah Gen Z yang menggulingkan pemerintahan di Sri Lanka, Nepal, dan Bangladesh.
India, negara dengan populasi terbesar di dunia, juga menghadapi persoalannya sendiri yang terus membara. Meski ekonominya berkembang pesat, ketimpangan pendapatan, ditambah pengangguran dan tingginya biaya hidup, telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara India menghasilkan lebih dari delapan juta lulusan setiap tahun, tingkat pengangguran di antara mereka mencapai 29,1 persen, sembilan kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah bersekolah. Lebih dari seperempat populasi India merupakan Gen Z — sekaligus kelompok terbesar di dunia.
Karena itu, ucapan Kant menyentuh persoalan yang sangat sensitif.
Komentarnya muncul pada pekan yang diwarnai protes nasional oleh mahasiswa muda terkait kebocoran soal ujian, yang memaksa pembatalan tes masuk kedokteran yang dikelola pemerintah.
"Komentar ketua mahkamah agung itu mencerminkan prasangka dan antipati yang mengakar terhadap aktivis dan anak muda secara umum," kata Prashant Bhushan, seorang pengacara terkemuka dan aktivis hak asasi manusia, kepada Al Jazeera. "Dan ini juga merupakan mentalitas dari pemerintahan saat ini."
Bhushan mengatakan bahwa sejak lama ia merasa India membutuhkan kebangkitan anak muda karena ekonomi dan masyarakatnya sedang berdarah demi keuntungan para kapitalis kroni seperti Ambani dan Adani, merujuk pada miliarder India yang dianggap dekat dengan Modi.
Kemarahan atas komentar Kant bertepatan pula dengan pekan yang cukup sulit bagi diplomat India, yang menghadapi sorotan media Norwegia setelah Modi menghindari pertanyaan wartawan selama kunjungannya ke negara Eropa tersebut.
Sejak berkuasa pada 2014, Modi belum pernah menerima pertanyaan dalam konferensi pers dan lebih memilih wawancara yang dikendalikan secara ketat.
"Sebagian orang terhubung dengan satire, seperti dalam kasus Cockroach Janta Party karena itu lucu, sementara yang lain terhubung karena mereka frustrasi," kata Bhushan. "Orang-orang akhirnya mulai bertanya dan menuntut akuntabilitas."
Ia mengatakan bahwa dirinya akan bergabung dengan partai itu, tetapi untuk saat ini ia belum memenuhi syarat.
Syarat Keanggotaan
Partai satire buatan Dipke memiliki empat syarat keanggotaan: menganggur, malas, kecanduan internet, dan gemar mengeluh di internet.
Moto mereka di X berbunyi: "Sebuah front politik dari anak muda, oleh anak muda, untuk anak muda. Sekuler – Sosialis – Demokratis – Malas."
Di Instagram, partai itu menyebut dirinya sebagai "serikat kecoak malas dan pengangguran", serta mengajak Gen Z untuk bergabung.
Manifesto CJP berisi sindiran tajam terhadap berbagai isu politik di India, seperti tuduhan manipulasi pemilih oleh pemerintahan Modi, media korporasi yang dianggap terlalu tunduk kepada pemerintah, serta penunjukan hakim pensiunan ke jabatan pemerintahan.
Dipke mengatakan bahwa ia membangun partainya secara daring hanya dalam 24 jam sejak pertama kali mengunggah tentangnya, dengan memanfaatkan alat kecerdasan buatan (AI) seperti Claude dan ChatGPT untuk merancang tampilan serta manifesto partai. Inisiatifnya sejalan dengan tradisi panjang gerakan politik kontra budaya global yang menggunakan satire, absurditas, dan pertunjukan untuk menantang politik arus utama.
Untuk saat ini, apa yang bermula sebagai candaan tampaknya tidak lagi dianggap sekadar gurauan oleh Dipke, yang sejauh ini menjadi satu-satunya penggerak partai tersebut.
Ia mengatakan bahwa dirinya rela mengorbankan tidur demi menjaga momentum gerakan sambil mengorganisasi kampanye media sosial terkait isu-isu politik yang sedang berlangsung.
"Sudah terlalu lama orang-orang diam di India," katanya. "Ada tanggung jawab untuk memanfaatkan momen ini dan tidak sekadar menertawakannya."

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6694915/original/097715800_1779515098-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6626358/original/037930000_1779458149-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6592656/original/012474300_1779431611-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6506518/original/000212800_1779364562-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6503689/original/022371600_1779360654-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6406847/original/046597600_1779279608-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6397120/original/026427000_1779271740-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6383836/original/090765600_1779259035-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6318029/original/031088700_1779192091-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6306822/original/015688700_1779181180-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6235685/original/014821300_1779112548-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6216892/original/067994200_1779094277-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566056/original/006454700_1777109894-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5842274/original/056071600_1778744130-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5766907/original/096774100_1778670063-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5398355/original/055599100_1761882725-Untitled.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493594/original/084966300_1770260452-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492093/original/003732200_1770119848-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487982/original/048924600_1769689308-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5038666/original/014666900_1733474753-94e7daec-b3e5-4c5a-8b8c-040db79346dc.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493785/original/084377000_1770266802-ktp_disabilitas.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080102/original/008701700_1736158590-20250106-Dapur_MBG-MER_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493134/original/064229400_1770195236-ranperda.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5494606/original/026254100_1770300440-budi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5256055/original/037675900_1750224442-medium-shot-sick-woman-home.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489399/original/049593700_1769851331-PA_Cimahi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486576/original/078593500_1769590756-photo-collage.png.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495969/original/051449600_1770450657-Gemini_Generated_Image_jaauspjaauspjaau.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3292202/original/009672500_1604991193-20201110-Lama-Rusak_-Lift-JPO-Sarinah-Dibiarkan-Terbengkalai-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5495514/original/009145800_1770373849-disabilitas_phtc.jpeg)