Super El Nino Diprediksi Picu Lonjakan Kebakaran Hutan Global

1 day ago 12

, London - Dunia diperkirakan menghadapi tahun kebakaran hutan yang "sangat parah” pada 2026. Para peneliti memperingatkan, perubahan iklim dan kemungkinan terjadinya El Nino dalam intensitas kuat dapat memperburuk situasi, setelah dunia mencatat rekor kebakaran hutan dalam beberapa bulan pertama tahun ini.

"Tahun ini musim kebakaran global dimulai dengan sangat cepat,” kata peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London sekaligus anggota jaringan ilmuwan iklim World Weather Attribution (WWA), Theodore Keeping, pada Selasa (12/5/2026).

Menurut Keeping, luas area yang terbakar akibat kebakaran hutan saat ini sudah 50 persen lebih tinggi dibanding rata-rata pada periode yang sama dalam beberapa tahun terakhir. Secara global, total lahan yang terbakar juga telah melampaui rekor sebelumnya lebih dari 20 persen sejak pencatatan yang dimulai pada 2012.

Lonjakan kebakaran terbesar terjadi di kawasan Afrika Barat dan Sahel. Hampir seluruh negara di wilayah tersebut mencatat luas area terbakar tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, dikutip dari laman DW Indonesia, Kamis (14/5).

"Secara keseluruhan, 85 juta hektare lahan terbakar di Afrika tahun ini, dibanding rekor sebelumnya sebesar 69 juta hektare,” ujar Keeping.

Saat Hujan Justru Memperbesar Risiko Kebakaran Hutan

Curah hujan tinggi pada musim sebelumnya juga disebut ikut memperparah risiko kebakaran hutan tahun ini. Hujan yang lebih besar dari biasanya memicu pertumbuhan rumput dan vegetasi dalam jumlah besar. Ketika kondisi berubah menjadi panas dan kering, vegetasi itu berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.

Selain itu, gelombang panas dan kekeringan ekstrem dalam beberapa bulan terakhir membuat kebakaran mulai muncul di wilayah yang biasanya lebih hijau dan tidak terlalu rentan terhadap api.

"Kondisi ini membuat kebakaran lebih mungkin terjadi di daerah yang biasanya tidak rawan terbakar,” ujar Keeping.

Fenomena perubahan cuaca ekstrem dari sangat basah menjadi sangat kering dalam waktu singkat ini dikenal sebagai "hydroclimate whiplash”. Menurut Keeping, kondisi tersebut semakin sering terjadi di Afrika Barat.

Selain Afrika, Asia juga menjadi salah satu penyumbang terbesar kebakaran hutan global tahun ini. Kebakaran besar terjadi di India, Asia Tenggara, hingga wilayah timur laut China.

Sejauh ini, luas area terbakar di Asia tercatat hampir 40 persen lebih tinggi dibanding rekor sebelumnya.

Amerika Serikat dan Australia juga mengalami peningkatan area terbakar yang tidak biasa sepanjang 2026.

Prediksi Ilmuwan soal Super El Nino 2026

Semua kondisi ini terjadi di tengah potensi munculnya "Super El Nino” pada paruh kedua 2026. El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca global dan sering memicu kondisi lebih panas serta kering di berbagai wilayah dunia.

Berdasarkan prakiraan terbaru, ada kemungkinan sebesar 61 persen El Nino akan mulai terbentuk pada periode Mei hingga Juli dan bertahan setidaknya sampai akhir tahun, bahkan bisa lebih lama.

"Risiko kebakaran ekstrem yang berbahaya bisa menjadi yang terburuk dalam sejarah modern jika El Nino kuat benar-benar terjadi,” kata Theodore Keeping.

Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan, terutama bagi kesehatan masyarakat. Direktur Eksekutif Sunway Center for Planetary Health di Malaysia, Jemilah Mahmood, mengatakan asap kebakaran hutan membawa dampak kesehatan yang jauh lebih berbahaya dibanding polusi udara biasa.

"Asap kebakaran hutan bukan polusi biasa,” ujar Mahmood. Menurutnya, partikel halus PM2.5 dari asap kebakaran bisa 10 kali lebih berbahaya bagi kesehatan dibanding polusi dari kendaraan.

Studi jurnal medis Inggris The Lancet pada 2024 menemukan sekitar 1,5 juta kematian setiap tahun berkaitan dengan polusi udara. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat seiring perubahan iklim yang memicu kebakaran hutan lebih sering dan lebih besar.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Maret lalu juga memperingatkan kondisi iklim global kini semakin tidak seimbang. Konsentrasi gas rumah kaca dari pembakaran minyak, batu bara, dan gas terus meningkatkan suhu bumi, memanaskan lautan, dan mempercepat pencairan es.

"Perubahan iklim tidak akan hilang begitu saja jika manusia tidak melakukan sesuatu,” kata Mahmood.

Saat El Nino Bertemu Suhu Bumi yang Semakin Panas

Pendiri World Weather Attribution (WWA) sekaligus profesor ilmu iklim di Imperial College London, Friederike Otto, mengatakan kemunculan El Nino sebenarnya bukan hal baru karena merupakan bagian dari siklus alami iklim.

Namun, menurutnya, El Nino kini terjadi di tengah kondisi bumi yang sudah jauh lebih panas akibat perubahan iklim.

"El Nino memang bisa memicu kondisi cuaca yang sangat ekstrem tahun ini, tetapi itu bukan satu-satunya penyebab yang perlu dikhawatirkan,” ujar Otto.

Ia menjelaskan, suhu air laut di wilayah tengah Samudra Pasifik diperkirakan bisa mencapai lebih dari 3 derajat Celsius di atas rata-rata pada paruh kedua 2026.

Kondisi itu dinilai berbahaya karena El Nino kini "bertumpuk” dengan pemanasan global yang telah terjadi selama puluhan tahun akibat aktivitas manusia.

"Itu adalah El Nino yang terjadi di atas akumulasi pemanasan bumi selama beberapa dekade. Kombinasi inilah yang menjadi masalah utama,” kata Jemilah Mahmood.

Fenomena El Nino 2023-2024 sebelumnya tercatat sebagai salah satu dari lima yang terkuat dalam sejarah. Saat itu, El Nino memperparah dampak perubahan iklim buatan manusia dan membuat 2024 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

Kondisi tersebut memicu gelombang panas ekstrem dan berbagai bencana cuaca di banyak negara.

Otto mengatakan, dari lebih dari 100 peristiwa cuaca ekstrem yang telah diteliti WWA, perubahan iklim akibat aktivitas manusia memiliki pengaruh jauh lebih besar terhadap tingkat keparahan bencana dibanding El Nino itu sendiri.

Ia mencontohkan kebakaran hutan besar di Eropa tahun lalu, hujan ekstrem di berbagai negara, hingga kekeringan berkepanjangan di Suriah dan Iran yang terjadi tanpa pengaruh El Nino.

Meski begitu, Otto menegaskan kondisi bumi akan terus memburuk selama manusia masih bergantung pada bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas.

"Pemanasan planet akan semakin parah selama kita belum berhenti membakar bahan bakar fosil,” ujarnya.

Gelombang Panas Tetap Terjadi Meski La Nina Masih Berlangsung

Australia juga mengalami gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor, meski fenomena La Nina masih berlangsung pada saat itu. Padahal, secara teori, La Nina biasanya memberi efek pendinginan kecil terhadap suhu musim panas di Australia.

Namun menurut Friederike Otto, dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia kini jauh lebih kuat dibanding pengaruh alami fenomena cuaca tersebut.

"Perubahan iklim akibat manusia sudah melampaui pengaruh La Nina,” ujarnya.

Di sisi lain, Jemilah Mahmood menilai banyak pemerintah dunia mulai diam-diam melonggarkan komitmen iklim mereka, seolah krisis iklim bukan lagi ancaman mendesak.

Otto menegaskan, perubahan iklim adalah masalah utama yang seharusnya paling dikhawatirkan saat ini. Namun ia menilai kekhawatiran itu seharusnya mendorong tindakan nyata, bukan hanya kepanikan.

Menurutnya, dunia sebenarnya sudah memiliki pengetahuan dan teknologi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas.

"Kita tahu apa yang harus dilakukan. Kita punya pengetahuan dan teknologi untuk beralih jauh dari penggunaan bahan bakar fosil,” kata Otto, merujuk pada energi terbarukan dan teknologi penyimpanan energi.

Read Entire Article