Disabilitas Tak Jadi Batasan, Syamsun Ramli Gigih Kejar Gelar Doktor di Bidang Arsitektur

18 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Jatuh dari ketinggian 17 meter membuat Syamsun Ramli menjadi penyandang disabilitas fisik. Pria yang akrab disapa Ramli adalah mahasiswa penyandang disabilitas yang tengah mengenyam pendidikan Program Studi Doktor Arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dia berkisah, pada 1998 ia masih menjadi mahasiswa semester dua Teknik Sipil Universitas Brawijaya (UB) dan aktif dalam kegiatan pencinta alam. Dalam sebuah latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi, ia terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter. Benturan merusak empat ruas tulang belakangnya di bagian torakal (T5–T8), menyebabkan paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah.

“Awalnya saya benar-benar tidak mau menggunakan kursi roda, karena berkursi roda waktu itu terasa seperti akhir dari segalanya,” kenang Ramli mengutip laman ITB, Rabu (25/2/2026).

Seiring berjalannya waktu, ia pun mengubah cara pandangnya. Rasa putus asa perlahan berganti kesadaran bahwa ia masih diberi hidup. “

Setelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,” ujar pria 48 tahun itu.

Masa pemulihan bukan hanya soal luka fisik. Selama hampir sepuluh tahun, Ramli tidak dapat duduk, berpindah tempat, atau melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan. Ia menggambarkan dirinya kala itu seperti boneka yang sepenuhnya bergantung pada orang lain.

Di masa-masa tiga tahun pertama, peran orang tua menjadi sangat besar. Sososk ibu, khususnya, setiap hari melatihnya berjalan menggunakan alat bantu, dengan harapan suatu hari anaknya dapat kembali berjalan. Dukungan tanpa lelah dari orang tua membuatnya perlahan berani membayangkan masa depan lagi.

Dalam perjalanan hidupnya, sosok sang istri, Sri Nursiani, juga menjadi bagian penting dari kekuatan itu. Sejak masa kuliah, Sri setia mendampingi Ramli—membantu mobilitasnya, menemani aktivitas akademik, hingga hadir dalam berbagai fase perjuangan yang tidak mudah.

Jumpa Sosok Dokter Baik Hati

Dalam perjalanan panjang tersebut, Ramli menyebut satu nama yang tak pernah ia lupakan, Tjuk Risantoso, dokter spesialis ortopedi dan konsultan bedah tulang belakang yang menangani berbagai masalah pada tulang, sendi, dan saraf akibat cedera maupun kondisi lainnya.

Di masa ketika banyak pihak meragukan kemungkinan pemulihannya, dr. Tjuk adalah sosok yang bersedia mengambil tindakan operasi pada tulang belakang Ramli.

Peran dr. Tjuk untuk Ramli tidak berhenti di ruang operasi. Ketika Ramli hampir memutuskan berhenti kuliah karena keterbatasan biaya, dr. Tjuk justru menegurnya keras—teguran yang diingat Ramli sebagai bentuk kepedulian mendalam.

Tak tanggung-tanggung, dr. Tjuk membantu membiayai pendidikan Ramli dengan satu syarat, Ramli harus menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Janji itu ditepati, Ramli berhasil menyelesaikan studinya hanya terpaut beberapa bulan dari target yang diberikan. “Beliau bukan hanya menyelamatkan fisik saya, tapi juga masa depan saya,” ujar Ramli mengenang sosok dokter yang sangat berjasa baginya.

Perjuangan Menuntut Ilmu

Perjuangan Ramli menuntut ilmu juga tidak lepas dari solidaritas teman-temannya. Pada masa ketika ia benar-benar tidak memiliki biaya, teman-teman seperjuangan di Teknik Sipil bergantian membantunya—mulai dari hal sederhana seperti makanan hingga kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, dukungan mereka membuatnya tetap bertahan di bangku kuliah. Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam tentang arti kebersamaan dan empati dalam dunia pendidikan.

Setelah lulus, perjuangan Ramli belum berakhir. Ia membutuhkan waktu delapan tahun untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam setiap lamaran, ia selalu jujur bahwa dirinya adalah pengguna kursi roda, namun memastikan bahwa hal tersebut tidak akan mengganggu profesionalitasnya.

Kesempatan akhirnya datang ketika ia diterima sebagai Site Engineer dan Desainer di CV. Tiga Pilar, Malang, perusahaan pertama yang memberinya ruang untuk membuktikan kemampuannya di dunia profesional. Di sana, ia belajar memastikan rancangan benar-benar dapat terbangun di lapangan—pengalaman yang memperkaya pemahamannya tentang hubungan antara desain, struktur, dan kebutuhan manusia di dalamnya.

Pengalaman tersebut menjadi pijakan penting dalam perjalanan kariernya. Selain berkarya di dunia profesional, Ramli juga mulai mengabdikan diri di bidang pendidikan sebagai dosen arsitektur di Universitas Ibrahimy, Situbondo, peran yang terus dijalaninya hingga sekarang. Perjalanan ini menunjukkan bahwa kesempatan pertama yang diberikan kepadanya tidak ia sia-siakan, melainkan menjadi awal dari kontribusi yang lebih luas di bidang teknik dan arsitektur.

Pendidikan adalah Ikhtiar Utama

Perjalanan akademik Ramli bergerak seiring pengalaman hidupnya. Ia menyelesaikan Sarjana (S1) Teknik Sipil, lalu melanjutkan Magister (S2) Arsitektur Lingkungan Binaan, sebelum akhirnya menempuh Program Doktor (S3) Arsitektur di ITB.

Penelitiannya kini berfokus pada sistem struktur penahan gempa untuk bangunan bertingkat yang berkelanjutan, bidang yang berada di irisan antara teknik sipil dan arsitektur.

Ia juga merupakan penerima Beasiswa Penyandang Disabilitas dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dukungan yang menurutnya sangat berarti dalam memungkinkan kelanjutan studinya.

“Kalau tanpa Beasiswa dari LPDP mungkin akan sangat berat,” tuturnya.

Bagi Ramli, pendidikan adalah jalan yang membantunya bangkit setelah hidupnya berubah drastis akibat kecelakaan. Melalui proses belajar, ia menemukan kembali arah, harapan, dan keyakinan bahwa dirinya tetap mampu berkembang serta berkontribusi.

Lingkungan belajar di ITB menurutnya sangat mendukung. Berbagai akses di kampus membantunya tetap mandiri dalam menjalani aktivitas akademik sehari-hari, sehingga ia dapat fokus menempuh studinya dengan baik.

“Kalau saya tidak sekolah, mungkin saya tidak punya kehidupan seperti sekarang. Pendidikan itu ikhtiar utama,” tuturnya, merangkum perjalanan panjang dari masa pemulihan hingga kini menempuh studi doktoral.

Ia pun belajar bahwa menerima keterbatasan adalah langkah awal untuk terus melangkah. “Semua orang punya keterbatasan. Saya menerima dulu keterbatasan itu, lalu saya menyesuaikan,” ujarnya, menegaskan bahwa dari penerimaan itulah tumbuh kekuatan untuk terus belajar dan bertahan.

Read Entire Article