Tanggal Merah Januari 2026: Ada Hari Penting untuk Penyandang Disabilitas, Apa Saja?

1 month ago 44

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal merah Januari 2026 jatuh pada tanggal 1 dan 16. Pada 1 Januari 2026, para pekerja diliburkan untuk merayakan Tahun Baru 2026 Masehi. Sementara, 16 Januari 2026 merupakan tanggal merah untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Lantas, apakah ada tanggal merah khusus perayaan yang berkaitan dengan penyandang disabilitas di Januari 2026?

Melihat Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang dirilis Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag), tidak ada tanggal merah lain selain tanggal 1 dan 16.

Meski begitu, tetap ada hari penting yang terkait dengan disabilitas pada Januari 2026. Yakni Hari Braille Sedunia pada 4 Januari. Dan Hari Kusta Sedunia yang diperingati setiap hari Minggu terakhir bulan Januari.

Tanggal 4 Januari dipilih sebagai Hari Braille Sedunia lantaran bertepatan dengan tanggal lahir penemu huruf Braille yakni Louis Braille.

Nama Braille pun diambil dari nama pria kelahiran Prancis 1809 itu. Braille dikenal sebagai tulisan dalam bentuk titik-titik timbul yang khusus dibuat untuk penyandang disabilitas netra.

Dengan braille, penyandang disabilitas netra bisa membaca tulisan dengan cara meraba susunan titik-titik menggunakan permukaan jari. Sistem titik timbul ini merupakan kode yang diterima secara global untuk mereka yang memiliki gangguan penglihatan.

Mengenal Louis Braille

Louis Braille adalah penyandang disabilitas netra sejak umur 3 tahun karena kecelakaan yang sempat dialaminya.

Dia tak sengaja melukai salah satu matanya dengan penusuk atau alat tajam yang digunakan untuk membuat lubang pada bahan kulit hewan. Infeksi pun menjalar ke mata lainnya dan membuatnya menjadi penyandang disabilitas netra total pada usia 5.

Keadaan Louis yang disabilitas netra tidak serta merta membuat orangtuanya menyerah. Mereka ingin agar sang putra tetap mengenyam pendidikan. Dia bersekolah di desa dan belajar dengan cara mendengarkan.

Sejak kecil, Louis Braille dikenal sebagai siswa yang pandai belajar. Bahkan saat usia 10, dia menerima beasiswa untuk belajar di National Institute for Blind Youth di Paris dan mengenyam pendidikan di institute tersebut, seperti dilansir laman Biography.

Hari Kusta Sedunia 2026

Sementara, Hari Kusta Sedunia diperingati guna menyebarkan kesadaran tentang pentingnya penanganan kusta agar terhindar dari disabilitas fisik.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, hingga 2020 Indonesia menempati peringkat ketiga kasus kusta terbanyak. Orang yang mengalami dan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) mendapat stigma yang luar biasa dalam kehidupannya.

Hal ini mengakibatkan pasien terpuruk dalam berbagai sektor kehidupan yang semestinya diperoleh dengan setara sebagai warga negara. Namun faktanya, hal tersebut masih menjadi tantangan bagi orang yang mengalami kusta dan OYPMK di Indonesia.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas memasukkan kusta sebagai bagian dari disabilitas fisik. Oleh sebab itu, hak-hak para penyandang kusta atau OYPMK harus segera dihormati, dilindungi, dan dipenuhi. 

Kusta Bukan Penyakit Kutukan

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin sempat mengatakan, kusta bukanlah penyakit kutukan. Penyakit ini bisa disembuhkan dan tidak menimbulkan disabilitas bila diobati sejak dini.

“Kusta itu bisa disembuhkan. Obatnya ada, gratis," kata Menkes Budi saat kunjungan di Kecamatan Serang, Bekasi pada Rabu, 23 Juli 2025 dalam penguatan program eliminasi kusta.

Sayangnya, penyakit ini masih mendapat stigma sosial yang besar. Stigma membuat pasien dengan kusta jadi takut berobat karena khawatir diejek.

"Karena stigma, orang takut lapor. Takut diejek, dikira kena kutukan. Akhirnya, terlambat ditemukan, menular, bahkan menyebabkan disabilitas,” kata Budi.

Budi mengungkap bahwa kusta tidak mudah menular. Dibutuhkan kontak erat dan berkepanjangan untuk terjadi penularan. Berbeda dengan COVID-19 di mana virus penyebabnya yakni SARS-CoV-2 bisa menular saat berbicara.

"Kalau kusta harus kontak lama. Jadi, jangan takut berdekatan dengan orang yang terkena kusta, asal dia sedang diobati, aman,” kata Budi.

Read Entire Article