Kemensos Kaji Integrasi Program Makan Lansia dan Disabilitas dengan MBG

5 days ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Sosial (Kemensos RI) mengkaji transformasi program permakanan bagi kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Rencananya, program permakanan ini akan diintegrasikan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengatakan bahwa pada 2025 Kementerian Sosial sudah menjalankan program permakanan bagi lebih dari 100 ribu lansia penerima manfaat.

Sasaran utama permakanan lansia yang dijalankan oleh Kementerian Sosial adalah warga berusia di atas 75 tahun yang tinggal sendirian, yang dibuktikan melalui data kartu keluarga (KK). Serta, dapat diperluas kepada lansia di bawah usia tersebut apabila alokasi anggaran masih tersedia.

Selain lansia, program serupa juga diberikan kepada penyandang disabilitas berdasarkan usulan pemerintah daerah dengan kriteria tertentu, dengan dukungan anggaran yang juga telah disiapkan.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul mengungkapkan bahwa selama ini penyaluran permakanan dilakukan oleh petugas dengan skema antar ke rumah keluarga penerima manfaat, yang menimbulkan biaya layanan distribusi pada setiap titik penyaluran.

"Selama ini penyalurannya itu dilakukan oleh petugas ya, ada biayanya itu sekali antar itu ke satu titik ada yang Rp25 ribu ada Rp30 ribu. Nah, program ini kemudian kita usulkan untuk bertransformasi menjadi program makan bergizi gratis khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas," kata Gus Ipul di Jakarta, Jumat (9/1/2025) seperti mengutip Antara.

Dalam penyaluran MBG ini, pendamping atau caregiver akan turut terlibat mempermudah akses lansia dan disabilitas dalam mendapatkan makanan bergizi gratis.

Kaji Penambahan Jumlah Pendamping Bersertifikat

Selain mengkaji soal integrasi program permakanan dengan MBG, Kemensos juga tengah mengkaji upaya penambahan pendamping (caregiver) terlatih dan bersertifikat untuk mendampingi lansia dan penyandang disabilitas.

Penambahan jumlah pendamping terlatih penting bagi mereka yang hidup sendiri dan membutuhkan dukungan perawatan harian.

Menurut Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, pendamping bertugas memberikan pendampingan, perawatan dasar, serta dukungan lain sesuai kebutuhan penerima manfaat.

Pihaknya menilai kebutuhan pendamping di masyarakat sangat besar, tidak hanya untuk lansia dan penyandang disabilitas, tetapi juga untuk anak-anak, termasuk di fasilitas seperti Taman Anak Sejahtera.

“Tapi ini masih tahap simulasi dan pengkajian, tetapi peluangnya besar karena kebutuhan caregiver tidak hanya di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri,” kata Gus Ipul.

Penambahan jumlah pendamping bersertifikat dinilai dapat sekaligus mendorong pengembangan ekonomi perawatan atau care economy melalui penciptaan lapangan kerja.

Guna mewujudkan upaya ini, Kemensos berencana menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan pelatihan khusus caregiver.

80 Persen Pendamping di Indonesia adalah Anggota Keluarga

Selama ini, Lebih dari 80 persen pendamping lansia di Indonesia adalah anggota keluarga dari lansia itu sendiri.

Ini berbeda dengan negara-negara lain di Amerika dan Eropa yang cenderung lebih banyak mempekerjakan pendamping profesional ketimbang anggota keluarga.

“Dari data di Indonesia, ternyata lebih dari 80 persen caregiver lansia di Indonesia adalah keluarga. Berbeda dengan di Amerika dan Eropa,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), dr. Imran Pambudi, MPHM., dalam temu media bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), di Jakarta Pusat, Rabu (9/7/2025).

Maka dari itu, upaya Kementerian Kesehatan adalah mengedukasi keluarga yang berperan sebagai pendamping. Imran mengatakan, edukasi terkait kesehatan lansia tak hanya didorong pada caregiver profesional tapi juga pada anggota keluarga yang mengurus lansia.

“Kita memang perlu sosialisasi, memberi informasi kepada keluarga karena sebagian besar mereka mengurus lansia. Ini menjadi sangat penting karena mereka (lansia) tinggal di rumah, bukan di nursing home. Meski nursing home di sini bagus-bagus, tapi budaya Asia itu tidak seperti itu.”

“Warga di China juga tidak mau orangtuanya di tempat lain. Makanya keluarga memiliki peran sentral baik secara fisik, emosional, maupun sosial,” ucap Imran.

Read Entire Article