Oknum Guru Diduga Hina Remaja Disabilitas, Begini Pandangan Islam tentang Merendahkan Sesama

1 day ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Oknum guru diduga menghina penyandang disabilitas viral di media sosial. Dalam video yang sudah menyebar di berbagai akun, pria yang mengenakan batik biru Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI), diduga mencela remaja disabilitas bernama Cahyo.

Keduanya tengah berkomunikasi lewat saluran live, Cahyo yang disebut menyandang disabilitas wicara memang memiliki hambatan berbicara sehingga pelafalannya tidak seperti non disabilitas. Hal ini menjadi celah bagi oknum guru tersebut untuk mencemoohnya dengan cara meniru cara bicara Cahyo.

“Pak, Bapak itu guru lho Pak,” kata Cahyo yang merasa tersinggung atas olok-olok yang dilakukan oknum guru tersebut.

Video pun viral dan oknum guru itu membuat video permintaan maaf. Menurut Cahyo, melalui akun TikTok pribadinya, masalah ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

Dilihat dari pandangan Islam, sikap oknum guru ini tidak mencerminkan teladan yang baik. Pasalnya, manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang paling sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai ayat Al-Quran.

“Karena itu, tindakan menghina atau merendahkan sesama, terlebih jika dilakukan oleh seorang guru kepada orang lain, apalagi kepada penyandang disabilitas, adalah perbuatan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun,” kata Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur, Ustaz Sunnatullah mengutip NU Online.

Peran Guru Bukan cuma Penyampai Ilmu tapi Teladan Bagi Siswa

Dalam dunia pendidikan, sambung Sunnatullah, guru memiliki peran yang sangat penting. Ia bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing, pendidik, dan teladan bagi para siswanya.

Sikap dan ucapan seorang guru akan terekam kuat dalam ingatan, bahkan membentuk cara pandang dan kepribadian peserta didik.  

Perilaku menghina atau merendahkan tidak hanya mencoreng martabat seorang pendidik, tetapi juga dapat melukai mental dan meruntuhkan kepercayaan diri korban. Padahal, lingkungan pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman, ramah, dan mendukung, tempat setiap individu dapat tumbuh dan berkembang tanpa diskriminasi, termasuk atas dasar kondisi fisik.  

Islam Larang Segala Bentuk Penghinaan

Lebih dari itu, Islam dengan tegas melarang segala bentuk penghinaan terhadap sesama manusia.

Bahkan, sebagian ulama menilai perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Sebab, merendahkan manusia pada hakikatnya sama dengan merendahkan Sang Pencipta.

“Allah tidak pernah memandang rendah makhluk-Nya, maka manusia pun tidak pantas merendahkan satu sama lain.“ 

Dilansir NU Online, Islam mengajarkan bahwa Allah swt menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki martabat dan kehormatan yang harus dijaga.

Perbedaan fisik atau kemampuan seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan atau menghina seseorang. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

  لَقَدْ خَلَقْنَا الْأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin, [95]: 4).  

Dalam ayat yang lain, Allah swt berfirman: 

 خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ  

Artinya: “Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.” (QS. Al-Mu’minun, [23]: 14).  

Tak Ada Alasan untuk Merasa Lebih Sempurna

Dalam surat Al-Infithar, ayat  6-8, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang sempurna.

Allah berfirman:   يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ. الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ  

Artinya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang? Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infithar, [82]: 6-8).  

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa proses penciptaan manusia adalah bukti nyata dari kekuasaan dan keagungan Allah swt. Setiap tahapan penciptaannya, mulai dari setetes air mani hingga menjadi manusia yang sempurna adalah hasil karya Allah yang Maha Sempurna.

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi setiap orang untuk merasa lebih sempurna dari yang lain, karena semuanya memang diciptakan dengan sempurna.  

Read Entire Article