Perang AI: Ketika Algoritma Menentukan Nasib Perang Iran-Israel-AS

1 day ago 14

Sementara bom berjatuhan di Iran, perang lain berlangsung di layar smartphone miliaran orang di seluruh dunia. Iran, yang sadar tidak bisa menandingi teknologi militer lawan, meluncurkan serangan ke ranah persepsi. Video deepfakememperlihatkan pejabat militer Israel seolah mengakui kejahatan perang. Rekaman lama ledakan di China di-recycledan disebarkan sebagai bukti “serangan rudal Iran yang berhasil.” Jaringan bot menyebarkan narasi kepanikan.

Tujuannya bukan mengalahkan musuh di medan pertempuran, tapi menciptakan kekacauan epistemologis yaitu keadaan di mana orang tidak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang palsu.

Yang menarik, dari sisi berlawanan muncul fenomena baru: seorang warga sipil Israel bernama Yonatan Back dalam waktu 6 jam membangun sebuah dashboard bernama StrikeRadarmenggunakan Claude AI. Platform ini menganalisis data terbuka untuk memprediksi probabilitas serangan militer di berbagai titik. Alat intelijen strategis yang dulu hanya dimiliki negara adidaya, kini bisa dibuat oleh satu orang dalam satu sore.

Para analis menyebut ini sebagai Demokratisasi Intelijen Strategis . Istilah ini mungkin cocok untuk menggambarkan pergeseran, yang mengubah bukan hanya cara berperang, tapi juga siapa yang berhak “tahu” dalam sebuah konflik.

Manusia Telah Berubah Menjadi Titik Data

Jauh sebelum ada AI, seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger sudah memperingatkan tentang bahaya ini. Dalam esainya yang terkenal, “The Question Concerning Technology”(1954), Heidegger memperkenalkan konsep Gestell yang dalam bahasa Jerman berarti “kerangka” atau “enframing.” Iaberargumen bahwa teknologi bukan sekadar alat. Teknologi adalah cara pandang yang mengubah bagaimana kita melihat seluruh dunia.

Dalam pandangan teknologis, segalanya  termasuk manusiahanya bernilai sejauh ia bisa dikalkulasi, diukur, dan dimanfaatkan. Dalam kacamata Martin Heidegger, inilah fase Bestand, di mana teknologi mereduksi martabat manusia menjadi sekadar 'persediaan cadangan' atau titik data yang siap dikonsumsi oleh mesin perang.

Bayangkan sistem Lavender. Ia tidak melihat target sebagai seorang ayah yang pulang ke rumah untuk makan malam bersama anaknya. Yang dilihatnya adalah serangkaian variabel: frekuensi komunikasi dengan jaringan tertentu, pola geolokasi yang mencurigakan, skor asosiasi kelompok. Hasilnya: angka antara 0 dan 100. Dan yang lebih mengkhawatirkan: para operator di balik layar pun mengalami hal serupa. Mereka tidak melihat manusia.Mereka melihat koordinat, probabilitas, dan tombol hijauatau merah. Heidegger memperingatkan: “Bahaya terbesar teknologi bukan bahwa ia menghancurkan manusia, melainkan bahwa ia mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri.”

Di layar perang itu, tidak ada wajah. Hanya angka.

Dunia Setelah Perang AI Pertama

Konflik ini tidak berhenti di Iran. Ia mengirimkan gelombang kejut ke seluruh planet.

China, Rusia, India, Turki, dan Inggris semuanya mempercepat program AI militer mereka. Perlombaan senjata baru telah dimulai, kali ini bukan soal nuklir, tapi soal algoritma dan kecepatan pengambilan keputusan. Yang mengkhawatirkan para ahli: tidak ada “Konvensi Jenewa” untuk perang algoritma. Tidak ada perjanjian internasional yang mengikat tentang senjata otonom. Dunia sedang berlomba membangun sesuatu yang belum ada aturannya.

Presiden Trump menilai Operasi Epic Fury dianggap “berhasil” karena bisa mencapai target, pimpinan musuh tewas, infrastruktur militer banyak yang lumpuh. Tetapi ini masih tahap awal operasi, perang belum selesai.

Tapi hal ini masih meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih berat.

Jika OODA Loop kini dijalankan oleh mesin, apakah manusia masih yang “memutuskan”? Jika Agenda-Setting dan Framingkini dikerjakan oleh algoritma, siapa yang mengontrol kebenaran? Jika tanggung jawab moral bisa hilang ke dalam prosedur system, maka seperti yang diperingatkan Arendt : apakah kita masih bisa menyebut perang ini sebagai tindakan manusia?

Heidegger pernah bertanya: “Apakah kita sedang menguasai teknologi, atau teknologilah yang menguasai kita?”

Dalam era perang AI, ancaman terbesar bukanlah mesin yang membunuh. Ancaman eksistensial terbesar bukanlah mesin yang membunuh tanpa ampun, melainkan manusia yang kehilangan nalar kritis dan berhenti mengajukan pertanyaan etis sebelum tombol 'eksekusi' ditekan oleh algoritma.

Read Entire Article