Liputan6.com, Jakarta - Kisah Nabi Ibrahim selalu dikenang sebagai simbol pengorbanan, ketaatan, dan keberanian melawan ego manusia. Dalam tradisi Islam, Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan putranya, sebuah ujian spiritual yang mengguncang logika manusia.
Namun pada puncak ujian itu, Tuhan justru mengganti Ismail dengan seekor domba. Di sana, pengorbanan tidak dimaksudkan untuk memuliakan darah, melainkan untuk memerdekakan manusia dari penyembahan terhadap selain Tuhan.
Ironisnya, manusia modern justru menciptakan bentuk 'sesembahan' baru yang jauh lebih halus: teknologi, data, dan algoritma.
Jika dahulu Ibrahim mengangkat pisau demi membuktikan bahwa Tuhan lebih tinggi daripada ego dan kepemilikan, maka manusia hari ini justru menyerahkan dirinya secara sukarela kepada sistem digital yang mengendalikan cara berpikir, memilih, bahkan mencintai.
Pisau Ibrahim tidak jadi melukai manusia, tetapi algoritma modern perlahan memotong kebebasan manusia tanpa disadari.
Pisau Ibrahim dan Makna Pengorbanan
Dalam sejarah agama-agama Abrahamik, kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar cerita tentang seorang ayah dan anak. Ia adalah metafora besar tentang pertarungan manusia melawan keterikatan duniawi.
Ibrahim diminta melepaskan sesuatu yang paling dicintainya. Al-Qur’an menggambarkan momen spiritual itu sebagai ujian keimanan yang melampaui logika kepemilikan manusia:
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata,” (QS. Ash-Shaffat: 106).
Pengorbanan itu bukan tentang kekerasan, tetapi tentang kebebasan batin: apakah manusia masih mampu menempatkan nilai spiritual di atas kepentingan material dan ego pribadi?
Di titik inilah makna kurban menjadi sangat relevan untuk dibaca ulang pada zaman modern. Sebab hari ini manusia tidak lagi menyembah patung batu seperti masyarakat kuno. Patung itu telah berubah bentuk menjadi layar digital, statistik media sosial, dan kecerdasan buatan.
Dulu berhala berdiri di tengah kuil; sekarang ia hidup di genggaman tangan manusia selama dua puluh empat jam.
Teknologi memang membawa kemudahan luar biasa. Artificial Intelligence membantu manusia bekerja lebih cepat, mesin pencari menyediakan pengetahuan dalam hitungan detik, dan media sosial memperluas ruang komunikasi tanpa batas geografis.
Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia masih menjadi pengendali teknologi, atau justru telah berubah menjadi bahan bakar bagi sistem digital?
Dalam dunia digital modern, manusia bukan hanya pengguna. Ia juga produk. Setiap klik, pencarian, lokasi, emosi, dan kebiasaan dikumpulkan menjadi data.
Data itu kemudian diproses algoritma untuk memprediksi perilaku manusia. Dari sini, perusahaan teknologi mampu mengetahui apa yang kita sukai, apa yang kita takutkan, bahkan apa yang mungkin kita pilih sebelum kita sendiri menyadarinya.
Jika Ibrahim diuji dengan pisau fisik, maka manusia modern diuji dengan pisau tak terlihat bernama algoritma.
Ketika Data Menjadi 'Tuhan' Baru
Peradaban digital dibangun di atas keyakinan bahwa semakin banyak data, semakin besar kekuasaan. Data hari ini menjadi komoditas paling mahal di dunia. Banyak perusahaan teknologi raksasa bernilai triliunan dolar bukan karena mereka menjual barang fisik, melainkan karena mereka menguasai informasi tentang manusia.
Fenomena ini melahirkan apa yang oleh banyak pemikir disebut sebagai 'kapitalisme pengawasan' (surveillance capitalism). Dalam sistem ini, kehidupan manusia direkam secara terus-menerus untuk menghasilkan keuntungan ekonomi. Aktivitas digital kita bukan lagi aktivitas pribadi, melainkan bahan mentah industri teknologi.
Kita hidup dalam situasi paradoks. Di satu sisi, manusia merasa semakin bebas karena internet memberi ruang ekspresi tanpa batas. Namun di sisi lain, kebebasan itu sebenarnya sedang diarahkan oleh algoritma yang bekerja diam-diam di balik layar. Apa yang muncul di beranda media sosial bukanlah realitas objektif, melainkan hasil seleksi mesin yang dirancang untuk mempertahankan perhatian manusia selama mungkin.
Al-Qur’an sesungguhnya telah memberi peringatan agar manusia tidak kehilangan kesadaran kritis dan tidak mengikuti sesuatu secara buta:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya,” (QS. Al-Isra’: 36).
Ayat ini menjadi sangat relevan di era digital ketika manusia sering menerima informasi tanpa verifikasi, mempercayai opini yang dibentuk algoritma, dan menyerahkan kesadarannya kepada mesin.
Dalam dunia yang dipenuhi banjir informasi, manusia bukan hanya dituntut untuk melihat dan mendengar, tetapi juga untuk berpikir dan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihannya.
Akibatnya, manusia modern perlahan kehilangan otonomi berpikir. Banyak orang merasa memilih secara bebas, padahal pilihan itu telah dibentuk sebelumnya oleh sistem rekomendasi digital. Musik yang didengar, berita yang dibaca, barang yang dibeli, hingga opini politik yang diyakini sering kali bukan lahir dari refleksi mendalam, tetapi dari hasil manipulasi algoritma.
Di titik ini, teknologi tidak lagi netral. Ia mulai mengambil posisi layaknya 'otoritas' baru dalam kehidupan manusia. Algoritma menentukan siapa yang populer, siapa yang tenggelam, informasi mana yang viral, dan emosi apa yang harus dipelihara. Bahkan kecerdasan buatan mulai memengaruhi keputusan ekonomi, hukum, pendidikan, dan keamanan negara.
Manusia modern akhirnya menghadapi bentuk penjajahan baru: penjajahan digital. Yang mengkhawatirkan, penjajahan ini tidak dilakukan dengan kekerasan, tetapi dengan kenyamanan.
Manusia rela menyerahkan data pribadinya demi hiburan, kecepatan, dan kemudahan. Mereka tidak dipaksa masuk ke dalam sistem; mereka masuk dengan sukarela.
Artificial Intelligence dan Hilangnya Kesadaran Manusia
Kecerdasan buatan berkembang sangat cepat. AI kini mampu menulis artikel, menciptakan gambar, menerjemahkan bahasa, bahkan meniru suara manusia. Teknologi ini menjanjikan efisiensi besar dalam berbagai bidang. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul ancaman filosofis yang jarang dibicarakan: hilangnya kesadaran manusia sebagai makhluk reflektif.
Peradaban digital mendorong manusia hidup serba cepat. Segala sesuatu harus instan. Akibatnya, ruang kontemplasi semakin sempit. Orang membaca cepat tanpa memahami, berbicara tanpa berpikir, dan bereaksi tanpa merenung. Artificial Intelligence mempercepat proses ini karena manusia mulai terbiasa menyerahkan fungsi berpikir kepada mesin.
Al-Qur’an sesungguhnya telah memberi peringatan tentang pentingnya perenungan dan penggunaan akal secara mendalam:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi,” (QS. Ali ‘Imran: 190–191).
Ayat ini menegaskan bahwa manusia ideal bukan sekadar makhluk yang sibuk dan produktif, tetapi makhluk yang mampu berpikir, merenung, dan membaca makna di balik kehidupan. Dalam konteks modern, ancaman terbesar teknologi bukan hanya soal mesin yang semakin cerdas, tetapi manusia yang semakin malas menggunakan kesadaran kritisnya sendiri.
Ketika AI menulis untuk manusia, menghitung untuk manusia, memilihkan hiburan untuk manusia, bahkan menentukan pasangan hidup melalui algoritma aplikasi, maka perlahan kemampuan manusia untuk mengalami dunia secara autentik mulai melemah.
Di masa depan, ancaman terbesar AI mungkin bukan pemberontakan robot seperti dalam film-film fiksi ilmiah. Ancaman terbesar justru adalah manusia yang kehilangan kapasitas berpikir kritis karena terlalu bergantung pada mesin.
Di sinilah kisah Nabi Ibrahim menjadi relevan kembali. Ibrahim adalah simbol manusia yang berani melawan arus dominasi zamannya. Ia menghancurkan berhala karena menyadari bahwa manusia tidak boleh tunduk kepada ciptaannya sendiri. Pesan ini sangat penting di era AI. Teknologi adalah ciptaan manusia, bukan sebaliknya. Ketika manusia mulai tunduk total pada algoritma, maka sesungguhnya manusia sedang menciptakan berhala modern.
Yang lebih berbahaya lagi, berhala digital tidak tampak menyeramkan. Ia hadir dalam bentuk aplikasi yang menyenangkan, video pendek yang menghibur, dan sistem cerdas yang mempermudah hidup. Karena itulah manusia sulit menyadari bahwa dirinya sedang diperbudak.
Hari ini, banyak orang lebih takut kehilangan akses internet daripada kehilangan waktu untuk refleksi spiritual. Banyak yang lebih panik ketika akun media sosial hilang daripada ketika hubungan sosial di dunia nyata rusak. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak lagi sekadar alat, tetapi telah menjadi pusat identitas manusia modern.
Mengembalikan Manusia sebagai Subjek
Kurban dalam tradisi Ibrahim sesungguhnya mengajarkan pembebasan manusia dari dominasi apa pun selain Tuhan. Spirit ini seharusnya menjadi kritik terhadap peradaban digital modern. Teknologi tidak boleh ditempatkan sebagai pusat kehidupan manusia. Ia harus tetap menjadi alat, bukan tujuan akhir.
Karena itu, tantangan terbesar masyarakat modern bukan menghentikan perkembangan teknologi, melainkan memastikan bahwa kemajuan digital tetap berada dalam kendali etika dan kemanusiaan.
Artificial Intelligence harus dikembangkan dengan prinsip moral, transparansi, dan keadilan sosial. Tanpa itu, AI hanya akan memperkuat ketimpangan dan memperbesar kontrol elite teknologi terhadap masyarakat.
Pendidikan juga harus berubah. Generasi muda tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara mengkritisinya. Literasi digital bukan sekadar kemampuan memakai aplikasi, melainkan kemampuan memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana data manusia dimanfaatkan.
Selain itu, manusia modern perlu merebut kembali ruang kesadaran yang hilang. Di tengah banjir informasi dan distraksi digital, manusia membutuhkan waktu untuk diam, berpikir, membaca mendalam, dan membangun relasi nyata dengan sesama. Tanpa itu, manusia akan terus hidup dalam ilusi konektivitas tetapi mengalami kesepian eksistensial.
Kisah Ibrahim menunjukkan bahwa keberanian terbesar manusia bukan menguasai dunia, melainkan menguasai dirinya sendiri. Dalam konteks hari ini, keberanian itu berarti kemampuan berkata 'cukup' kepada teknologi yang terlalu mengontrol hidup manusia.
Artificial Intelligence memang dapat memperkuat kemampuan manusia, tetapi ia tidak boleh menggantikan nurani manusia. Sebab algoritma mungkin mampu menghitung segala kemungkinan, tetapi ia tidak memiliki belas kasih, kebijaksanaan, dan kesadaran spiritual sebagaimana manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar abad ini bukan apakah AI akan menjadi lebih pintar daripada manusia. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah manusia masih cukup bijaksana untuk mengendalikan ciptaannya sendiri?
Pisau Ibrahim dahulu tidak jadi melukai Ismail karena Tuhan menghendaki kehidupan. Namun hari ini, algoritma digital perlahan memotong kemerdekaan manusia sedikit demi sedikit tanpa darah dan tanpa suara.
Jika manusia tidak segera sadar, maka peradaban modern mungkin akan menjadi zaman ketika manusia kehilangan dirinya sendiri di tengah kecanggihan teknologi yang diciptakannya.
Oleh: Mubasyier Fatah, Praktisi Keamanan Siber dan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7151723/original/030696300_1779940284-260528_OPINI_Venkatachalam_Anbumozhi_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5766118/original/075930700_1778672833-WhatsApp_Image_2026-05-13_at_18.46.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5571401/original/013579500_1777619034-WhatsApp_Image_2026-05-01_at_12.32.20.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5564408/original/085834400_1776938975-WhatsApp_Image_2026-04-23_at_16.08.45.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535836/original/056287100_1774776617-7e3e8a4a-1ceb-45ec-be47-3f60a013262f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544330/original/075877400_1775099919-WhatsApp_Image_2026-04-02_at_10.15.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547516/original/020253100_1775461054-260406_OPINI_Djoko_Setijowarno_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5185637/original/024575800_1744455939-250410_OPINI_PRI_AGUNG_RAKHMANTO_200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363057/original/012614000_1758880226-WhatsApp_Image_2025-09-26_at_16.48.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542197/original/090304100_1774936095-260330_OPINI_Widyaretna_Buenastuti__200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537415/original/090843900_1774423208-WhatsApp_Image_2026-03-25_at_14.16.09.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537125/original/039179300_1774411375-WhatsApp_Image_2026-03-25_at_11.00.08.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535836/original/078997600_1774152702-b2a452c4-9c93-4efd-a134-c84efe2a5966.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493594/original/084966300_1770260452-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492093/original/003732200_1770119848-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487982/original/048924600_1769689308-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5038666/original/014666900_1733474753-94e7daec-b3e5-4c5a-8b8c-040db79346dc.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493785/original/084377000_1770266802-ktp_disabilitas.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080102/original/008701700_1736158590-20250106-Dapur_MBG-MER_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493134/original/064229400_1770195236-ranperda.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486576/original/078593500_1769590756-photo-collage.png.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5494606/original/026254100_1770300440-budi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495969/original/051449600_1770450657-Gemini_Generated_Image_jaauspjaauspjaau.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489399/original/049593700_1769851331-PA_Cimahi.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5256055/original/037675900_1750224442-medium-shot-sick-woman-home.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3292202/original/009672500_1604991193-20201110-Lama-Rusak_-Lift-JPO-Sarinah-Dibiarkan-Terbengkalai-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5495514/original/009145800_1770373849-disabilitas_phtc.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489446/original/075438100_1769866985-IMG_0127.jpeg)