Bagi Trump, kesepakatan damai dengan Iran diharapkan akan menjawab tantangan politik di dalam negeri melalui narasi “menang” dalam perang melawan Iran. Meskipun “menang” di sini sudah bergeser dari pergantian rezim dan penghancuran program nuklir Iran menjadi berhentinya konflik bersenjata serta terbukanya kembali Selat Hormuz, turunnya harga BBM dan inflasi di dalam negeri AS dan dimulainya negosiasi final dengan Iran.
Narasi ini dibutuhkan oleh Trump di tengah approval rating yang berada di zona merah dalam berbagai isu terutama inflasi (-45,7 poin), ekonomi (-28,6 poin), perdagangan (-24,4 poin) dan imigrasi (-9,9 poin) menurut data Silver Bulletin. Dukungan dari kelompok-kelompok pemilih yang mengantarkannya ke Gedung Putih—terutama di kalangan pemilih suburban, laki-laki, Gen X, Katolik, dan kulit putih berpendidikan SMA ke bawah—anjlok 19 hingga 36 poin menurut data agregat yang dirilis CNN.
Ambruknya koalisi pendukung Trump berdampak besar pada elektabilitas anggota Kongres Partai Republik menjelang midterm elections November 2026 nanti. Partai Republik diprediksi akan kehilangan hingga 15 kursi dalam pemilihan DPR dan 4 kursi dalam pemilihan Senat.
Trump dan Partai Republik berharap publik akan melihat terbukanya kembali Selat Hormuz, turunnya harga BBM dan berbagai komoditas, serta berakhirnya perang terbuka dengan Iran sebagai bukti bahwa tekanan militer dan ekonomi AS berhasil membuat Iran bersedia mengakhiri konflik.
Lebanon Menjadi Jebakan Bagi Netanyahu
Pada sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membutuhkan kemenangan nyata, bukan sekadar gencatan senjata Iran-AS. Netanyahu akan sulit mengklaim kemenangan di hadapan publik Israel ketika Hizbullah masih bersenjata, rezim Iran tidak runtuh, dan isu program nuklir Iran belum terpecahkan melalui kesepakatan Iran-AS.
Padahal, situasi politik yang dihadapi Netanyahu menjelang pemilu Israel pada Oktober 2026 juga genting. Berbagai survei menunjukkan bahwa partai-partai Zionis anti-Netanyahu semakin kuat sehingga mampu meraih kursi mayoritas di Knesset. Sebagian besar pemilih Israel juga tidak menginginkan Netanyahu kembali ke kursi perdana menteri. Dalam situasi seperti ini, Netanyahu tidak bisa begitu saja membiarkan Hizbullah tetap kuat di Lebanon.
Di sinilah Lebanon menjadi jebakan politik bagi Netanyahu. Menghentikan perang membuatnya terlihat lemah di mata publik Israel yang menginginkan gempuran terhadap Hizbullah dilanjutkan. Tapi meneruskan perang akan merusak kesepakatan damai Trump dan semakin merenggangkan hubungan Israel dengan AS.
Mengapa Trump Bisa Menekan Israel
Popularitas Trump yang sangat tinggi di Israel—di mana 73% warga Israel meyakini bahwa Trump lebih simpatik terhadap Israel dibandingkan presiden-presiden AS lain menurut survei Jewish People Policy Institute—membuat Netanyahu sulit membangkang secara terbuka. Jika dianggap merusak kesepakatan, risiko politik yang ditanggung Netanyahu tidak kecil.
Pada saat yang sama, dukungan warga AS terhadap Israel dan Netanyahu telah anjlok hingga di bawah -20 poin dalam beberapa tahun terakhir. Kombinasi dukungan kuat warga Israel terhadap Trump dan ketidaksukaan mayoritas warga AS terhadap Israel dan Netanyahu memberi ruangbagi Trump untuk menekan Tel Aviv tanpa terlihat anti-Israel. Trump akan menyatakan dukungan terhadap keamanan Israel, tetapi meminta Netanyahu untuk membatasi serangan terhadap Hizbullah tanpa perlu mundur dari Lebanon.
Dengan cara ini, Trump bisa mempertahankan dua narasi sekaligus: tetap pro-Israel di mata basis pendukungnya dan tampil sebagai presiden yang mencegah terjadinya perang berkepanjangan, menjaga harga energi dan melindungi ekonomi AS.
Ujian 60 Hari
Yang akan terjadi dalam 60 hari ke depan akan menentukan apakah kesepakatan damai Iran-AS saat ini masih memiliki arti penting. Iran jelas akan memanfaatkan jeda perang untuk memperkuat legitimasi di dalam negeri, membangun kembali perekonomian, dan menampilkan dirinya sebagai bangsa yang sukses menghalau serangan AS dan Israel.
Iran juga mendapat pelajaran penting dari perang ini: selama Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital energi global, dan ketika perekonomian negara-negara Teluk, inflasi di dalam negeri AS, serta pasar dunia menjadi taruhan besar, AS akan berpikir berulang kali sebelum menyerang Iran kembali.
Namun beragam persoalan mendasar masih bertahan. Israel tetap akan melihat Iran sebagai ancaman eksistensial selama negara ini terus mengayakan uranium hingga mendekati “weapon-grade”. Iran akan terus menggunakan isu Palestina sebagai pembenaran politik dan moral untuk membingkai perang melawan Israel sebagai isu Arab, Muslim, dan global.
Akibatnya, meskipun perang terbuka antara Israel dan Iran mereda, perseteruan kedua negara kemungkinan akan berlanjut dalam bentuk lama: perang proksi, operasi rahasia, serangan siber, sabotase, dan upaya untuk melemahkan kepemimpinan rezim Iran.
Dengan kesepakatan damai ini, Trump punya alasan untuk mengklaim AS sebagai pemenang perang. Iran bisa mengatakan bahwa tetap “survive” setelah digempur habis-habisan oleh AS dan Israel adalah sebuah kemenangan. Netanyahu pun dapat menjadikan pendudukan wilayah Lebanon Selatan dan berhentinya serangan Iran dan Hizbullah sebagai bentuk kemenangan Israel.
Namun, tanpa kerangka besar yang memadukan skema perdamaian, perlucutan nuklir, jaminan keamanan dan kemakmuran bersama di seluruh Timur Tengah, kesepakatan damai Iran-AS hanya akan menjadi jeda singkat bagi konflik “abadi” di kawasan ini.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258652/original/015289500_1781397142-ChatGPT_Image_Jun_14__2015__07_02_18_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5571401/original/013579500_1777619034-WhatsApp_Image_2026-05-01_at_12.32.20.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7743569/original/085322900_1780550754-260604_OPINI_Ariyanto_200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544330/original/075877400_1775099919-WhatsApp_Image_2026-04-02_at_10.15.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7151723/original/030696300_1779940284-260528_OPINI_Venkatachalam_Anbumozhi_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5766118/original/075930700_1778672833-WhatsApp_Image_2026-05-13_at_18.46.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5564408/original/085834400_1776938975-WhatsApp_Image_2026-04-23_at_16.08.45.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535836/original/056287100_1774776617-7e3e8a4a-1ceb-45ec-be47-3f60a013262f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547516/original/020253100_1775461054-260406_OPINI_Djoko_Setijowarno_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5185637/original/024575800_1744455939-250410_OPINI_PRI_AGUNG_RAKHMANTO_200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363057/original/012614000_1758880226-WhatsApp_Image_2025-09-26_at_16.48.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542197/original/090304100_1774936095-260330_OPINI_Widyaretna_Buenastuti__200x-100.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8030823/original/016638800_1780872304-ChatGPT_Image_Jun_8__2026__05_35_24_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5081967/original/073104400_1736231382-02c26726-d739-4068-b821-a2cf9adc52ed.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5285910/original/095796100_1752731667-16631cc1-b2ee-4f96-8d2f-d092078a7837.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5284413/original/015257600_1752633547-72dabf29-5dee-4de2-bc9f-770e1ee1ad21.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524414/original/084643300_1772944927-d57bec51-034f-4168-9898-fa5ce79c0681.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4169180/original/086333600_1663940351-Operasi_Bibir_Sumbing.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/3527801/original/036262700_1627871993-tulii.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520688/original/027980600_1772628031-WhatsApp_Image_2026-03-04_at_19.38.52.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529535/original/094909600_1773369238-slb.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5504493/original/054488000_1771238831-Persita_Tangerang_Vs_PSBS_Biak-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4246194/original/008864600_1669877746-667ba755-ce6d-41d7-8a2c-a6862fc10828.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4677825/original/076979800_1701941809-2150761394.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531986/original/061113300_1773638837-disabilitas__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515676/original/024863000_1772184782-5ad3d24d-0479-4c52-8309-000aca44f6b9.jpeg)