Spanyol vs Argentina: Bukan Yamal vs Messi, tapi Rodrigo vs Rodrigo

1 day ago 7

Jika De Paul adalah cerita tentang harapan, Rodri adalah cerita tentang keteraturan. Perbedaan latar belakang itu seolah ikut menjelma menjadi cara mereka bermain.

Rodri menjadi pusat gravitasi permainan Spanyol. Hingga menjelang final, Opta mencatat peraih Ballon d'Or itu mencatat rata-rata 101 operan dan 94 operan sukses setiap 90 menit. Rodri menyentuh bola 114 kali per laga, serta telah menyelesaikan 655 operan sekaligus rekor terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia. Bahkan rata-rata operan suksesnya melampaui catatan Xavi pada Piala Dunia 2010.

Ketika Spanyol membangun serangan, Rodri selalu menjadi simpul pertama. Ketika rekan setim membutuhkan jalan keluar dari tekanan, Rodri selalu menawarkan ruang.

Sebaliknya, statistik De Paul hampir tidak menarik perhatian. Nol gol. Nol assist.

Namun angka-angka itu justru menipu. De Paul memulai seluruh pertandingan Argentina di Piala Dunia ini. De Paul adalah pelindung Messi, mesin penekan lawan, penghubung lini tengah, sekaligus pemain pertama yang berlari ketika Argentina kehilangan bola. Julukannya El Motorcito alias mesin kecil yang menggambarkan perannya dengan sempurna.

De Paul tidak datang ke Piala Dunia untuk mengejar statistik. De Paul datang agar statistik Messi, Lautaro Martinez, dan Julian Alvarez menjadi mungkin.

Jika Messi adalah pena yang menulis sejarah Argentina, maka De Paul menjadi tangan yang memegang kertasnya.

Karena itu, final ini bukan hanya benturan dua tim terbaik. Final ini juga benturan dua cara sebuah bangsa memandang sepak bola.

Spanyol melihat sepak bola sebagai ilmu keteraturan. Sid Lowe, kolumnis yang sering menulis tentang sepak bola Spanyol berkali-kali menggambarkan keberhasilan La Roja sebagai kemenangan organisasi, penguasaan ruang, dan kontrol ritme pertandingan. Penguasaan bola berkembang menjadi keyakinan bahwa struktur lebih penting daripada improvisasi individu.

Argentina memandang sepak bola dari arah yang lain. Sepak bola Argentina lahir dari jalan-jalan sempit, dari keluarga pekerja, dari keyakinan bahwa satu pertandingan dapat mengubah kehidupan. Yang mereka bawa ke lapangan bukan hanya taktik, melainkan juga sejarah keluarga dan pengorbanan orang tua.

Tentu kecenderungan ini tidak berlaku mutlak. Argentina juga melahirkan pemain dari keluarga mapan, sebagaimana Spanyol memiliki pemain yang datang dari latar sederhana. Namun, jika melihat wajah kedua tim secara keseluruhan, polanya cukup jelas. Spanyol lebih banyak menghasilkan pemain yang tumbuh di keluarga kelas menengah dengan budaya pendidikan, akademi, dan perencanaan karier. Di Spanyol, sepak bola menjadi salah satu jalan meraih prestasi, tetapi bukan satu-satunya.

Sebaliknya, Argentina melahirkan lebih banyak pemain dari keluarga pekerja yang memandang sepak bola sebagai kesempatan mengubah kehidupan. Di Argentina, bagi banyak keluarga, sepak bola sering kali menjadi jalan yang paling nyata untuk mengubah nasib. Latar sosial inilah yang ikut membentuk citra Argentina sebagai tim yang lebih emosional, kompetitif, dan bermental petarung.

Maka ketika Spanyol dan Argentina bertemu di MetLife Stadium, yang saling berhadapan bukan sekadar dua sistem permainan. Yang bertemu adalah dua filsafat hidup.

Perbedaan titik berangkat itu tidak menentukan karakter setiap individu, tetapi cukup sering tercermin dalam watak kolektif kedua tim ketika memasuki lapangan.

Satu membangun sepak bola seperti insinyur merancang jembatan: setiap ruang dihitung, setiap umpan memiliki alasan. Yang lain memainkannya seperti seorang petarung yang memahami bahwa setiap duel bisa menentukan masa depan keluarganya.

Opta Analyst memang sedikit lebih mengunggulkan Spanyol. Superkomputer mereka memberi peluang kemenangan 45 persen bagi La Roja, sementara Argentina 26 persen, dengan kemungkinan laga berakhir imbang dalam 90 menit sebesar 29 persen.

Namun sejarah Piala Dunia berulang kali menunjukkan bahwa Argentina adalah tim yang paling gemar mempermalukan probabilitas.

Jika menerjemahkan superkomputer Opta sesuai watak kedua tim sepanjang turnamen, keanggunan kolektif Spanyol diprediksi akan sedikit lebih kuat daripada mental petarung Argentina. Bisa jadi final berlangsung ketat hingga menit-menit akhir.

Read Entire Article