Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir melaju dengan kecepatan yang sulit diimbangi oleh kesiapan sosial dan regulasi. Laporan berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa nilai industri drone global telah melampaui 30 miliar dollar AS pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh di atas 10 persen per tahun hingga dekade berikutnya.
Di saat yang sama, kemajuan kecerdasan buatan membuat mesin tidak lagi sekadar membantu manusia, tetapi mulai mengambil alih proses berpikir, memutuskan, bahkan bertindak secara mandiri.
Dalam konteks inilah, kemunculan swarm drone menjadi salah satu perkembangan paling signifikan. Teknologi ini bukan hanya menghadirkan efisiensi baru, tetapi juga membuka ruang bagi sistem yang mampu beroperasi secara kolektif tanpa kendali terpusat.
Puluhan hingga ratusan drone dapat bergerak bersamaan, berkomunikasi, dan mengambil keputusan berbasis algoritma. Apa yang dulu tampak seperti konsep futuristik, kini telah menjadi realitas yang digunakan dalam berbagai sektor, dari sipil hingga militer.
Mekanisme Teknologi: Dari Sistem Terdistribusi ke Kecerdasan Kolektif
Di balik kecanggihannya, swarm drone dibangun di atas kombinasi teknologi seperti kecerdasan buatan, swarm intelligence, dan Internet of Things. Namun, yang kerap luput dari perhatian publik adalah bagaimana sistem ini bekerja secara teknis—dan mengapa justru dari situlah potensi kekuatan sekaligus ancamannya muncul.
Secara arsitektur, swarm drone mengadopsi pendekatan distributed system. Tidak ada satu pusat kendali tunggal yang mengatur seluruh pergerakan. Setiap drone dilengkapi dengan sensor seperti kamera, GPS, lidar, hingga sensor termal, serta prosesor yang memungkinkan mereka memproses data secara mandiri. Mereka tidak hanya “menerima perintah”, tetapi juga membaca lingkungan dan merespons secara langsung.
Komunikasi antar drone menggunakan mesh network, yakni jaringan di mana setiap unit dapat berfungsi sebagai penghubung bagi unit lainnya. Konsekuensinya, sistem tetap dapat berjalan meski sebagian drone mengalami gangguan atau hilang. Struktur ini membuat swarm drone sangat tangguh, sekaligus sulit dilumpuhkan secara keseluruhan.
Lebih jauh, algoritma yang digunakan tidak bersifat kompleks secara individual, tetapi menghasilkan kompleksitas secara kolektif. Setiap drone hanya menjalankan aturan sederhana—menjaga jarak, mengikuti arah, atau merespons sinyal tertentu.
Namun, ketika aturan tersebut dijalankan secara bersamaan, muncullah fenomena yang dikenal sebagai emergent behavior, yakni perilaku kolektif yang tidak secara eksplisit diprogram, tetapi muncul dari interaksi sistem.
Dalam praktiknya, kemampuan ini membuat swarm drone sangat efektif untuk menghadapi situasi yang dinamis dan tidak pasti.
Dalam operasi pencarian dan penyelamatan, misalnya, drone dapat membagi wilayah secara otomatis, menyesuaikan jalur pencarian secara real-time, hingga memprioritaskan area tertentu berdasarkan deteksi panas atau citra visual.
Di sektor pertanian, teknologi ini memungkinkan pemetaan lahan yang presisi, penyemprotan berbasis kebutuhan tanaman, hingga deteksi dini penyakit.Pemanfaatan lain juga terlihat dalam pemantauan kebakaran hutan, pengawasan ekosistem, hingga deteksi aktivitas ilegal di wilayah terpencil. Semua ini menunjukkan bahwa swarm drone bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mendukung kemaslahatan manusia.
Ancaman Nyata: Dari Senjata Otonom hingga Risiko Siber
Namun, di balik manfaat tersebut, swarm drone juga menyimpan potensi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Justru karena sifatnya yang otonom, adaptif, dan terkoordinasi, teknologi ini menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan dalam konteks keamanan global.
Dalam pengembangan militer modern, swarm drone mulai diarahkan sebagai sistem senjata otonom. Bayangkan ratusan drone kecil, relatif murah, dan sulit dideteksi, yang dapat menyerang target secara bersamaan tanpa kendali langsung manusia. Dengan dukungan teknologi visi komputer, drone mampu mengenali objek, menentukan prioritas target, dan mengeksekusi serangan dalam hitungan detik.
Persoalan utama bukan hanya pada daya hancur yang dihasilkan, tetapi pada hilangnya kendali manusia dalam pengambilan keputusan. Ketika algoritma diberi kewenangan untuk menentukan siapa yang menjadi target, maka tanggung jawab moral berpindah dari manusia ke mesin. Padahal, mesin—secerdas apa pun—tidak memiliki kesadaran etis.
Risiko lain yang tidak kalah serius adalah aspek keamanan siber. Ketergantungan pada jaringan komunikasi membuat swarm drone rentan terhadap berbagai bentuk gangguan, seperti jamming (pengacauan sinyal), spoofing (pemalsuan data), hingga pengambilalihan sistem.
Dalam skenario terburuk, sebuah swarm dapat diretas dan diarahkan untuk menyerang pihak yang semula mengendalikannya. Ini bukan lagi sekadar masalah teknis, tetapi ancaman strategis yang berpotensi mengubah peta konflik global.
Dari sisi sosial, kehadiran teknologi ini juga memunculkan implikasi yang kompleks. Di satu sisi, ia dapat meningkatkan efisiensi dan menyelamatkan banyak nyawa. Namun di sisi lain, terdapat risiko kesenjangan teknologi yang semakin lebar antara pihak yang menguasai teknologi dan yang tidak. Dalam situasi ekstrem, hal ini dapat menciptakan monopoli kekuatan oleh segelintir pihak.
Selain itu, isu privasi menjadi perhatian serius. Jika langit dipenuhi oleh sistem yang mampu memantau, merekam, dan menganalisis setiap aktivitas manusia, maka batas antara keamanan dan pengawasan menjadi semakin kabur. Teknologi yang awalnya dimaksudkan untuk melindungi justru berpotensi menjadi alat kontrol yang berlebihan.
Dimensi Etika dan Arah Peradaban
Pada titik ini, pembahasan tentang swarm drone tidak bisa berhenti pada aspek teknis semata. Ia harus masuk ke wilayah etika, bahkan menyentuh dimensi yang lebih dalam: bagaimana manusia memaknai teknologi dalam kerangka peradaban.
Dalam perspektif etika, teknologi pada dasarnya adalah alat. Ia tidak memiliki nilai intrinsik selain yang diberikan oleh manusia. Namun, ketika alat tersebut memiliki kemampuan untuk bertindak secara otonom, maka muncul pertanyaan baru: sejauh mana manusia masih memegang kendali, dan siapa yang bertanggung jawab atas konsekuensinya?
Dalam ajaran Islam, teknologi tidak ditolak, tetapi juga tidak dilepas tanpa arah. Ia harus ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab moral. Prinsip maqashid syariah menempatkan perlindungan jiwa sebagai tujuan utama. Artinya, setiap inovasi seharusnya diarahkan untuk menjaga kehidupan, bukan mengancamnya.
Nilai ini sejalan dengan pesan universal bahwa menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Dalam konteks ini, penggunaan swarm drone untuk operasi kemanusiaan—seperti evakuasi bencana, distribusi bantuan, atau perlindungan lingkungan—dapat menjadi bentuk kontribusi nyata bagi kemaslahatan.
Sebaliknya, jika teknologi ini digunakan untuk menghancurkan, menindas, atau menciptakan ketakutan, maka ia berubah menjadi instrumen kezaliman yang terstruktur. Di sinilah relevansi kaidah dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih—bahwa mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengambil manfaat.Prinsip ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua yang bisa dilakukan oleh teknologi harus diwujudkan. Ada batas etis yang perlu dijaga, terutama ketika dampak yang ditimbulkan bersifat luas dan berpotensi merugikan.
Karena itu, pengembangan swarm drone membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Tidak cukup hanya melibatkan insinyur dan pengembang teknologi, tetapi juga ahli hukum, pembuat kebijakan, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Regulasi yang kuat, standar etika yang jelas, serta mekanisme pengawasan yang efektif menjadi kebutuhan mendesak.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang swarm drone bukan semata soal kecanggihan teknologi, tetapi tentang arah yang ingin ditempuh oleh peradaban manusia. Apakah teknologi akan menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, atau justru menjadi instrumen ancaman yang sulit dikendalikan?
Langit yang sama dapat menjadi saksi bagi dua kemungkinan tersebut. Dan pilihan itu, hingga hari ini, tetap berada di tangan manusia.
Oleh: Mubasyier Fatah, Praktisi Keamanan Siber dan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363057/original/012614000_1758880226-WhatsApp_Image_2025-09-26_at_16.48.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542197/original/090304100_1774936095-260330_OPINI_Widyaretna_Buenastuti__200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535836/original/056287100_1774776617-7e3e8a4a-1ceb-45ec-be47-3f60a013262f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537415/original/090843900_1774423208-WhatsApp_Image_2026-03-25_at_14.16.09.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537125/original/039179300_1774411375-WhatsApp_Image_2026-03-25_at_11.00.08.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535836/original/078997600_1774152702-b2a452c4-9c93-4efd-a134-c84efe2a5966.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524414/original/084643300_1772944927-d57bec51-034f-4168-9898-fa5ce79c0681.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520688/original/027980600_1772628031-WhatsApp_Image_2026-03-04_at_19.38.52.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497061/original/062450000_1770615193-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_11.07.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515676/original/024863000_1772184782-5ad3d24d-0479-4c52-8309-000aca44f6b9.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5185637/original/024575800_1744455939-250410_OPINI_PRI_AGUNG_RAKHMANTO_200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497048/original/066823900_1770614759-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_11.26.50.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441248/original/084139500_1765462277-1000257193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453378/original/090115300_1766476856-disab_cirebon.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5439128/original/057975800_1765350527-wihaji_stunting.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5435848/original/035309400_1765098846-ezzi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1448550/original/003955100_1482914623-20161228-Chappy-Hakim-IA1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5435812/original/001909700_1765096127-WhatsApp_Image_2025-12-07_at_15.26.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351360/original/077769500_1758030701-jdt.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5437040/original/037934400_1765195165-Timnas_Indonesia_U-22_vs_Filipina_U-22-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437222/original/007704600_1765245308-perempuan_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439522/original/007583400_1765360063-WhatsApp_Image_2025-12-10_at_15.22.33__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432891/original/058571300_1764826828-Foto_1_-_YGMP_Hari_Disabilitas_Internasional.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455127/original/080720800_1766634287-natal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441187/original/031456400_1765456783-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5259276/original/014362300_1750420330-BRI_Liga_1_-_Ilustrasi_Logo_Persis_Solo_untuk_Liga_1_2025_2026_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368253/original/080065000_1759368915-persib-bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5322703/original/076153700_1755752777-9208a499-d8a4-4234-9aef-877eb8c4fb63.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425056/original/092409900_1764209702-Untitled.jpg)