Liputan6.com, Jakarta - Lebih dari dua dekade lalu, Jared Diamond mengajukan satu gagasan sederhana namun kuat: Sejarah manusia tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat secara fisik, melainkan oleh siapa yang paling mampu beradaptasi—mengelola lingkungan, teknologi, dan organisasi sosialnya.
Hari ini, gagasan itu terasa semakin hidup. Dunia sedang berada di tengah perlombaan teknologi global yang begitu intens, khususnya pada periode 2025–2026. Persaingan tidak lagi sekadar soal inovasi, tetapi telah menjelma menjadi arena perebutan pengaruh geopolitik, keamanan nasional, dan dominasi ekonomi. Kita menyaksikan perlombaan dalam kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, robot humanoid, hingga teknologi antariksa.
Dalam konteks ini, 'Guns' telah berevolusi menjadi algoritma dan sistem otonom, sementara 'Chips' menjadi fondasi dari seluruh kekuatan tersebut. Dunia tidak lagi hanya bertanya siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling siap—dalam sumber daya, organisasi, dan teknologi.
Era 'Guns & Chips': Ketika Chip, Data, dan Jaringan Menjadi Penentu Kekuatan
Kalau dulu kekuatan negara diukur dari jumlah tank, kapal perang, dan senjata, hari ini ukurannya berubah secara diam-diam—bahkan sering tidak terlihat. Kita hidup di era di mana kekuatan sejati justru berada pada tiga hal yang tidak kasat mata: chip, data, dan jaringan (network).
Inilah yang saya maksud sebagai era 'Guns & Chips'—bukan sekadar evolusi teknologi, tetapi perubahan mendasar tentang bagaimana kekuasaan dibangun dan dipertahankan.
Dari 'Guns' ke 'Chips': Evolusi Sumber Kekuatan
Chip merupakan Fondasi yang Tak Terlihat: Segala sesuatu hari ini bergantung pada chip. Dari ponsel di tangan kita, mobil, satelit, hingga sistem pertahanan paling canggih—semuanya tidak bisa berjalan tanpa semikonduktor. Namun yang sering luput kita sadari, chip bukan hanya komponen teknis. Ia adalah fondasi kekuasaan modern.
Negara yang menguasai desain dan produksi chip: Bisa menentukan arah inovasi teknologi bisa mengendalikan rantai pasok global, bahkan bisa 'mematikan' kemampuan teknologi negara lain.
Kita melihat bagaimana pembatasan ekspor chip menjadi alat geopolitik. Tanpa chip, kecerdasan buatan tidak berjalan. Tanpa chip, sistem militer modern lumpuh. Di titik ini, chip bukan lagi produk industri—ia adalah instrumen strategi global.
Dalam Guns, Germs, and Steel, dijelaskan bahwa kekuatan lahir dari kombinasi teknologi dan kemampuan mengelola lingkungan. Jika dahulu kekuatan ditentukan oleh senjata, baja, dan faktor geografis, kini semuanya bergeser ke teknologi digital.
Perubahan ini terasa nyata. Negara tidak lagi hanya berlomba membangun tank atau kapal perang, tetapi membangun pusat data, mengembangkan chip, dan menciptakan algoritma canggih.
Bahkan dalam banyak kasus, kekuatan militer modern sangat bergantung pada teknologi sipil yang dikembangkan oleh perusahaan swasta.
Kita juga melihat bagaimana model kekuatan berubah: Amerika Serikat mengandalkan inovasi berbasis swasta seperti Silicon Valley, sementara Cina menggabungkan kekuatan negara dan industri melalui strategi seperti military-civil fusion.
Ini bukan sekadar perbedaan pendekatan, tetapi mencerminkan dua cara berbeda dalam mengelola 'lingkungan teknologi'—sebuah konsep yang sangat dekat dengan pemikiran Diamond.
Data: Energi Baru Peradaban
Jika chip adalah fondasi, maka data adalah energinya.
Dunia hari ini menghasilkan data dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya—dari aktivitas media sosial, transaksi digital, hingga sensor-sensor yang tersebar di berbagai sistem. Data inilah yang menjadi “bahan bakar” bagi kecerdasan buatan.
Yang menarik, kekuatan tidak lagi hanya dimiliki oleh negara, tetapi juga oleh perusahaan yang menguasai data. Mereka bisa memahami perilaku manusia, memprediksi tren ekonomi, bahkan memengaruhi opini publik
Dalam konteks ini, kita melihat perubahan besar: Kekuasaan menjadi lebih tersebar, tetapi juga lebih sulit dikontrol.
Namun, ada sisi lain yang lebih dalam. Data bukan hanya soal jumlah, tetapi kemampuan mengelola dan mengolahnya. Banyak negara memiliki data, tetapi tidak semua mampu mengubahnya menjadi kekuatan strategis.
Network: Penghubung yang Menentukan Siapa Terhubung dan Siapa Tertinggal
Jika chip adalah fondasi dan data adalah energi, maka network adalah sistem peredaran darahnya.
Jaringan—baik itu internet, 5G, satelit, maupun cloud—menentukan bagaimana data bergerak, siapa yang bisa mengaksesnya, dan seberapa cepat keputusan bisa diambil.
Dalam dunia modern, kecepatan adalah kekuatan. Negara yang memiliki jaringan kuat: bisa merespons ancaman lebih cepat, bisa mengintegrasikan sistem militer dan ekonomi, bisa menciptakan ekosistem digital yang lebih efisien.
Sebaliknya, negara dengan jaringan lemah akan selalu tertinggal—bukan karena kurang sumber daya, tetapi karena tidak terhubung secara optimal.
Di sinilah kita melihat bagaimana jaringan menjadi arena persaingan global: pembangunan 5G, satelit orbit rendah, hingga pusat data raksasa bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi bagian dari strategi kekuasaan.
Kecerdasan Buatan sebagai Medan Pertarungan Baru
Jika ada satu bidang yang benar-benar menjadi pusat persaingan global hari ini, itu adalah kecerdasan buatan. AI bukan lagi teknologi masa depan—ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sekaligus alat strategis dalam ekonomi dan militer.
Perkembangan terbaru menunjukkan munculnya agentic AI—sistem yang tidak hanya menjalankan perintah, tetapi mampu berpikir, merespons, bahkan melakukan riset secara mandiri. Ini mengubah cara perusahaan bekerja, cara negara mengambil keputusan, dan bahkan cara perang dilakukan.
Amerika Serikat dan Cina berada di garis depan. Cina secara terbuka menargetkan menjadi pemimpin AI global pada tahun 2030, sementara perusahaan-perusahaan teknologi Amerika terus berinovasi untuk mempertahankan posisi mereka.
Yang menarik, dampaknya tidak hanya terasa di sektor teknologi. AI kini mulai memengaruhi nilai mata uang global, daya saing ekonomi, hingga struktur tenaga kerja. Perusahaan berlomba memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi, menekan biaya, dan menciptakan produk baru.
Namun di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih manusiawi: apakah kita masih mengendalikan teknologi, atau justru mulai dikendalikan olehnya?
Semikonduktor: Jantung Industri Teknologi
Jika AI adalah otak, maka semikonduktor adalah jantungnya. Tanpa chip, semua inovasi—AI, robot, hingga sistem pertahanan—tidak akan berjalan.
Persaingan chip hari ini sangat intens. Negara-negara berlomba membangun pabrik semikonduktor, mengamankan rantai pasok, dan mengurangi ketergantungan pada pihak lain. Krisis chip beberapa tahun terakhir menjadi pengingat bahwa dunia sangat bergantung pada teknologi ini.
Dalam konteks modern, chip bisa dianggap sebagai 'sumber daya strategis' baru—setara dengan baja atau minyak pada masa lalu. Negara yang menguasainya memiliki kendali besar atas ekonomi digital dan kekuatan militer.
Dan seperti yang diajarkan Diamond, sejarah selalu berpihak pada mereka yang mampu mengelola sumber daya strategis dengan lebih baik.
Perang Digital dan Blok Teknologi
Persaingan teknologi juga melahirkan fenomena baru: dunia yang semakin terfragmentasi secara digital.
Kita melihat munculnya dua kutub besar—Amerika Serikat dan China—yang tidak hanya bersaing, tetapi juga membangun ekosistem teknologi masing-masing. Di satu sisi, ada perusahaan-perusahaan seperti Apple, Google, Microsoft, dan NVIDIA. Di sisi lain, China memiliki Huawei, Alibaba, dan Tencent.
Menariknya, persaingan ini juga terjadi di level perusahaan. Konsolidasi raksasa teknologi semakin terlihat, seperti langkah Elon Musk melalui xAI dan X yang menggabungkan kekuatan data dan AI, atau langkah Meta dengan pengembangan sistem AI baru untuk menantang dominasi global.
Namun, fragmentasi ini membawa konsekuensi. Standar teknologi menjadi berbeda, interoperabilitas menurun, dan dunia berisiko memiliki “internet yang terpecah”. Selain itu, meningkatnya penggunaan AI juga memicu kekhawatiran tentang privasi data dan pengawasan teknologi.
Pasar global pun menjadi lebih sensitif. Kebijakan teknologi bisa langsung memengaruhi nilai saham, mata uang, bahkan stabilitas ekonomi.
Indonesia di Tengah Badai Kompetisi Global
Di tengah semua ini, Indonesia berada di posisi yang menarik—sekaligus menantang.
Dengan lebih dari 210 juta pengguna internet dan ekonomi digital yang terus tumbuh, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting. Namun, potensi itu tidak otomatis menjadi kekuatan.
Belanja riset yang masih rendah, kebutuhan talenta digital yang tinggi, dan ketergantungan pada teknologi asing menjadi tantangan nyata. Dalam konteks ini, pemikiran Jared Diamond terasa sangat relevan: bukan yang paling kuat yang menang, tetapi yang paling siap.
Artinya, Indonesia perlu fokus pada kesiapan—membangun sumber daya manusia, memperkuat institusi, dan menciptakan ekosistem teknologi yang sehat.
Lebih dari itu, Indonesia juga memiliki peluang unik: menjadi jembatan antara berbagai blok teknologi global. Posisi ini bisa menjadi kekuatan, jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Ancaman Baru: Teknologi dan Dimensi Kemanusiaan
Persaingan teknologi juga membawa risiko yang lebih dalam. Selain AI dan chip, dunia mulai kembali membicarakan potensi senjata biologi.
Jika dalam sejarah penyakit menjadi faktor yang tidak disengaja, kini teknologi memungkinkan rekayasa biologis yang jauh lebih kompleks. Ini membuka kemungkinan baru yang sekaligus mengkhawatirkan.
Kita dihadapkan pada dilema besar: Teknologi yang sama yang bisa menyelamatkan manusia juga bisa digunakan untuk menghancurkan.
Menjadi Penonton atau Penulis Sejarah
Di titik ini, Indonesia memiliki pilihan menjadi semakin jelas: tetap berada di pinggir sebagai penonton, atau masuk ke dalam arena sebagai penulis sejarah. Dalam dunia yang ditentukan oleh chip, data, dan jaringan, posisi pasif bukan lagi netral—ia adalah bentuk ketertinggalan yang perlahan namun pasti. Ketika negara lain berlomba membangun ekosistem teknologi yang mandiri dan terintegrasi, ketergantungan justru akan mempersempit ruang gerak dan kedaulatan.
Jika Indonesia menjadi penulis sejarah berarti berani membangun fondasi sendiri. Ini bukan hanya soal menciptakan teknologi, tetapi tentang membangun sistem: Dari pendidikan yang melahirkan talenta digital, kebijakan yang adaptif terhadap perubahan, hingga investasi jangka panjang dalam riset dan inovasi. Sebab negara yang mampu mengorkestrasi ketiga pilar—chip, data, dan network—akan memiliki kendali atas arah masa depan, bukan sekadar mengikuti arus.
Pada akhirnya, sejarah tidak pernah memberi ruang bagi mereka yang ragu. Ia ditulis oleh mereka yang siap, yang mampu membaca perubahan, dan yang berani bertindak. Dalam era 'Guns & Chips', pertanyaan lama kembali hadir dalam bentuk baru: bukan lagi siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling siap menentukan arah. Dan di sanalah masa depan akan diputuskan—bukan oleh kekuatan semata, tetapi oleh keberanian untuk menjadi penulis, bukan penonton.
Lalu pertanyaannya, ”Apakah masa depan ditentukan oleh kemampuan teknologi untuk membawa kita pada kolaborasi yang lebih inklusif, atau justru memperdalam konflik dan ketimpangan?”
Dalam perspektif Jared Diamond, masa depan tidak ditentukan oleh kekuatan, tetapi oleh kemampuan beradaptasi. Dan hari ini, adaptasi itu berarti kemampuan mengelola teknologi dengan bijaksana.
Dunia tidak hanya membutuhkan inovasi, tetapi juga kebijaksanaan. Karena pada akhirnya, teknologi bukan tujuan—ia adalah alat. Dan seperti semua alat, nilainya ditentukan oleh bagaimana kita menggunakannya. Dan seperti halnya di masa lalu, pertanyaannya tetap sama:apakah kita akan menjadi penonton, atau ikut menulis sejarah?
Oleh: Mubasyier Fatah, Praktisi Keamanan Siber dan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547516/original/020253100_1775461054-260406_OPINI_Djoko_Setijowarno_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5185637/original/024575800_1744455939-250410_OPINI_PRI_AGUNG_RAKHMANTO_200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363057/original/012614000_1758880226-WhatsApp_Image_2025-09-26_at_16.48.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544330/original/075877400_1775099919-WhatsApp_Image_2026-04-02_at_10.15.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542197/original/090304100_1774936095-260330_OPINI_Widyaretna_Buenastuti__200x-100.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535836/original/056287100_1774776617-7e3e8a4a-1ceb-45ec-be47-3f60a013262f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537415/original/090843900_1774423208-WhatsApp_Image_2026-03-25_at_14.16.09.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537125/original/039179300_1774411375-WhatsApp_Image_2026-03-25_at_11.00.08.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535836/original/078997600_1774152702-b2a452c4-9c93-4efd-a134-c84efe2a5966.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524414/original/084643300_1772944927-d57bec51-034f-4168-9898-fa5ce79c0681.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520688/original/027980600_1772628031-WhatsApp_Image_2026-03-04_at_19.38.52.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497061/original/062450000_1770615193-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_11.07.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515676/original/024863000_1772184782-5ad3d24d-0479-4c52-8309-000aca44f6b9.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453378/original/090115300_1766476856-disab_cirebon.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477859/original/053823700_1768883478-disabilitas_kab_probolinggo.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455127/original/080720800_1766634287-natal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368253/original/080065000_1759368915-persib-bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473955/original/050209800_1768462709-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457498/original/029853000_1767002852-WhatsApp_Image_2025-12-29_at_15.31.11_3f186a85.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5312155/original/068813000_1754906267-1000195601.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1216325/original/021439400_1461734180-dokter.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4081174/original/010090300_1657147252-penyandang_kusta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5425992/original/049039500_1764245301-20251126AA_PMPC_Persija_Vs_PSIM-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432107/original/022771100_1764756771-Flu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440982/original/029784500_1765449160-Bonnie_Blue.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452727/original/035236000_1766455041-peparkot_serang.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5461255/original/043750800_1767354469-20260102AA_PMPC_Persija_Jakarta_Jelang_Lawan_Persijap_Jepara-12.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455631/original/056411400_1766721548-aceh_ispa.png)