Mengapa Sustainability Sangat Penting

17 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, sustainability atau keberlanjutan sering terasa jauh dari keseharian. Istilahnya terdengar esoterik dan ndakik-ndakik, padahal konsepnya sebenarnya sederhana. Sustainability adalah sistem penopang kehidupan. Jika diabaikan, yang lain ikut runtuh.

Bayangkan Anda punya rumah mewah. Anda sibuk mengganti sofa, memasang lukisan di dinding, dan mengganti gorden. Tapi Anda tak sadar fondasi rumah mulai keropos dimakan rayap, rembes air, dan retak di sana-sini. Sampai suatu hari, tanpa diduga, dapur ambles atau tembok utama miring.

Konsep sustainability sering terasa sulit dipahami karena dampak dari tindakan hari ini baru terlihat di masa depan dan cakupannya sangat luas. Filsuf ekologi Timothy Morton menyebutnya sebagai hiperobjek, sesuatu yang begitu besar dan kompleks hingga sulit dilihat secara utuh. Seperti menggesek kartu kredit tanpa pernah melihat tagihannya. Anda merasa baik-baik saja sekarang, sampai suatu hari debt collector mengetuk pintu dengan surat penyitaan rumah di tangan.

Sustainability sering dirangkaikan dengan perubahan iklim. Kira-kira begini kedudukannya: sustainability adalah rumahnya, sementara perubahan iklim adalah salah satu kebakaran besar yang sedang terjadi di dalamnya. Perubahan iklim memang mendesak dan berbahaya, tapi bukan satu-satunya masalah. Ada juga polusi air dan udara, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan sistem ekonomi yang rakus tanpa batas. Semua ini saling terkait, seperti api yang menjalar dari satu ruangan ke ruangan lain.

Mari kita mulai dengan perubahan iklim sebagai krisis yang paling terlihat, paling terukur, dan paling mendesak. Karena itu, ia sering menjadi pintu masuk untuk memahami sustainability secara lebih luas.

Untuk memahami pintu masuk ini secara sederhana, saya menyarankan Anda membaca buku How to Avoid a Climate Disaster karya Bill Gates. Buku ini sering menjadi rujukan karena mudah dipahami. Ada baiknya pula Anda mengikuti saran Bill Gates dengan membaca Climate for Dummies serta menonton dokumenter Prof Richard Wolfson tentang perubahan iklim. Jika dokumenter itu terasa panjang, kuliah-kuliah Prof Wolfson banyak bertebaran di YouTube.

Uraian Bill Gates bisa disimpulkan begini: berdasarkan data historis, suhu global berfluktuasi secara wajar hingga sekitar 1940. Namun sejak 1950-an, suhu mulai naik drastis melampaui pola alami. Pemicu utamanya adalah peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, terutama karbondioksida, dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia. Kenaikan suhu ini menyebabkan dampak nyata seperti cuaca ekstrem, pencairan es, dan kenaikan muka air laut.

Dalam buku The Uninhabitable Earth karya David Wallace-Wells dijelaskan 12 kekacauan berantai akibat perubahan iklim: panas mematikan, kelaparan, tenggelam, kebakaran hutan, bencana yang tidak lagi alami, krisis air tawar, lautan yang sekarat, udara yang tak bisa dihirup, wabah penyakit akibat pemanasan, keruntuhan ekonomi, konflik iklim, dan krisis sistem.

Bill Gates kemudian mengajak dunia untuk mengurangi, dalam hitungannya, 51 miliar ton emisi gas rumah kaca global per tahun menjadi nol sebagai satu-satunya cara menghentikan krisis iklim. Untuk mencapainya, energi bersih harus dibuat lebih murah, andal, dan mudah digunakan daripada bahan bakar fosil melalui inovasi teknologi.

Tantangan terbesar ada pada sektor yang sulit mengurangi emisi, seperti industri berat, pertanian, dan transportasi jarak jauh. Karena itu, kebijakan pemerintah, investasi besar, dan kerja sama global menjadi kunci menuju ekonomi dengan emisi nol bersih.

Dari sini terlihat bahwa perubahan iklim hanyalah bagian dari pertanyaan yang lebih besar: bagaimana ekonomi modern bisa terus berkembang tanpa merusak sistem penopang kehidupan.

Jika sustainability masih terasa terlalu besar dan rumit, hiperobjek tadi, kita bisa melihatnya secara lebih sederhana. Dalam bukunya Sustainability: A Very Short Introduction, Saleem H. Ali merangkum keberlanjutan dalam empat gagasan praktis: menggunakan sumber daya dan energi secara hemat; mengembangkan teknologi yang lebih bersih seperti panel surya atau kendaraan listrik; menjaga alam dan masyarakat tetap tangguh menghadapi krisis, misalnya melalui sistem peringatan banjir atau pertanian tahan kekeringan; serta membangun ekonomi sirkular, seperti mendaur ulang sampah plastik atau memperbaiki barang lama agar bisa dipakai kembali.

Sampai di sini barangkali ada pandangan bahwa sustainability adalah agenda negara-negara besar. Padahal tidak. Nilainya sejatinya tidak asing bagi budaya Nusantara. Pohon kehidupan Kalpataru sudah terukir di relief candi era Hindu-Buddha sebagai simbol keseimbangan alam dan kehidupan. Pada masa Islam di Jawa, gagasan pohon kehidupan hadir dalam bentuk gunungan wayang yang melambangkan asal dan tujuan manusia yang kembali menyatu dengan alam. Nilai yang sama juga tercermin dalam filosofi Jawa melalui semboyan memayu hayuning bawana, ajakan untuk menjaga dan merawat dunia.

Memasuki awal republik, pesan itu kembali ditegaskan oleh founding father Soekarno yang mengingatkan tanggung jawab manusia terhadap bumi:“Marilah kita tidak terlalu banyak meminta kepada Ibu Pertiwi. Marilah kita banyak memberi, memberi, memberi, dan sekali lagi memberi kepada Ibu Pertiwi.”

Dari warisan leluhur hingga pemikiran para pendiri bangsa, keberlanjutan selalu hadir sebagai nilai dasar, manusia hidup bukan untuk menghabiskan alam, melainkan merawatnya agar tetap menjadi rumah bagi generasi berikutnya.

Sebagai media, kami ingin membantu menjelaskan gagasan sustainability dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, agar isu ini tidak terasa jauh dari publik. Kami juga ingin ikut mendorong tumbuhnya kesadaran bersama untuk menjaga bumi, mulai dari cara berpikir sampai tindakan kecil yang bisa dilakukan setiap hari.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Liputan6.com

Read Entire Article