Liputan6.com, Caracas - Associated Press melaporkan sedikitnya tujuh ledakan dan suara pesawat terbang rendah terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas, sekitar pukul 02.00 waktu setempat pada Sabtu (3/1/2026).
Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat (AS) telah menyerang instalasi sipil dan militer di sejumlah negara bagian.
Kementerian Pertahanan AS merujuk permintaan komentar kepada Gedung Putih, yang hingga saat ini belum memberikan tanggapan. Sementara itu, Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) melarang penerbangan komersial AS melintasi wilayah udara Venezuela akibat aktivitas militer yang sedang berlangsung menjelang terjadinya ledakan di Caracas.
Komando Selatan AS (USSOUTHCOM) yang mengawasi operasi militer di kawasan tersebut pun belum memberikan pernyataan.
Ledakan-ledakan di Caracas terjadi dalam kurun waktu kurang dari 30 menit. Warga di berbagai lingkungan berhamburan ke jalan, sementara yang lain menggunakan media sosial untuk melaporkan bahwa mereka mendengar dan melihat ledakan tersebut. Dua jam kemudian, sejumlah wilayah di kota itu masih mengalami pemadaman listrik, meskipun kendaraan tetap dapat melintas dengan bebas.
Asap terlihat membumbung dari hanggar di salah satu pangkalan militer di Caracas. Sementara itu, instalasi militer lainnya di ibu kota dilaporkan mengalami pemadaman listrik.
"Seluruh tanah berguncang. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan pesawat," kata Carmen Hidalgo, seorang pegawai kantor berusia 21 tahun, dengan suara gemetar.
Dalam pernyataannya, pemerintah Venezuela menyerukan para pendukungnya untuk turun ke jalan.
"Rakyat turun ke jalan!" demikian bunyi pernyataan pemerintah Venezuela. "Pemerintah Bolivarian menyerukan kepada seluruh kekuatan sosial dan politik di negara ini untuk mengaktifkan rencana mobilisasi dan mengecam serangan imperialis ini."
Dalam pernyataan yang sama, pemerintah menyebutkan bahwa Presiden Nicolas Maduro telah memerintahkan seluruh rencana pertahanan nasional untuk dilaksanakan serta menetapkan keadaan gangguan eksternal. Status darurat tersebut memberikan kewenangan kepada presiden untuk menangguhkan hak-hak warga dan memperluas peran angkatan bersenjata.
Ketegangan yang Terus Meningkat
Ledakan pada Sabtu ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan, setelah militer AS dalam beberapa hari terakhir menargetkan kapal-kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba. Sehari sebelumnya, pada Jumat (2/1), Venezuela menyatakan terbuka untuk merundingkan kesepakatan dengan AS guna memerangi perdagangan narkoba.
Dalam konteks tersebut, Presiden Maduro mengatakan dalam sebuah wawancara rekaman yang ditayangkan pada Kamis bahwa AS berupaya memaksakan pergantian pemerintahan di Venezuela dan memperoleh akses terhadap cadangan minyaknya yang sangat besar. Menurut Maduro, tekanan itu telah berlangsung selama berbulan-bulan dan dimulai dengan pengerahan militer besar-besaran ke Laut Karibia pada Agustus.
Maduro sendiri telah didakwa atas tuduhan narkoterorisme di Amerika Serikat, yaitu keterlibatan dalam perdagangan narkoba yang dipandang sebagai ancaman keamanan dan politik.
Dalam perkembangan terkait, Badan Intelijen Pusat AS (CIA) disebut berada di balik serangan drone pekan lalu di sebuah area dermaga yang diyakini digunakan oleh kartel narkoba Venezuela. Serangan tersebut disebut sebagai operasi langsung pertama di wilayah Venezuela sejak AS mulai menyerang kapal-kapal pada September.
Presiden Donald Trump selama berbulan-bulan telah mengancam akan memerintahkan serangan terhadap target-target di darat Venezuela. Selain itu, AS telah menyita kapal tanker minyak yang terkena sanksi di lepas pantai Venezuela, dan Trump memerintahkan pemblokadean kapal-kapal lainnya dalam langkah yang tampak bertujuan memperketat tekanan terhadap perekonomian negara Amerika Selatan tersebut.
Militer AS telah menyerang kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak awal September. Hingga Jumat, jumlah serangan kapal yang diketahui mencapai 35, dengan sedikitnya 115 orang tewas.
Serangan-serangan tersebut terjadi setelah pengerahan besar-besaran pasukan AS di perairan lepas Amerika Selatan, termasuk kedatangan kapal induk paling canggih AS pada November.
Trump membenarkan serangan terhadap kapal-kapal yang ditargetkan dalam operasi sebagai eskalasi yang diperlukan untuk membendung aliran narkoba ke AS, serta menegaskan bahwa pihaknya sedang terlibat dalam konflik bersenjata dengan kartel narkoba.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530439/original/068576200_1773440906-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516525/original/044369700_1772322540-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530339/original/025873100_1773408788-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466635/original/060914700_1767850248-WhatsApp_Image_2026-01-08_at_11.38.38__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529924/original/037780400_1773386744-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528532/original/013772800_1773287232-Untitled.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5421473/original/046767000_1763906676-Sarmila_wati.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441248/original/084139500_1765462277-1000257193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427236/original/042414200_1764338646-FOD.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419257/original/042198300_1763651316-photo_2025-11-20_21-21-14.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430647/original/095128500_1764668680-WhatsApp_Image_2025-12-02_at_16.43.15_c2c5627c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400168/original/005067900_1762067797-000_1DL27K.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4760696/original/079555300_1709519479-20240304-Peringatan_10_Tahun_MH370-AFP_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1448550/original/003955100_1482914623-20161228-Chappy-Hakim-IA1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376526/original/002811900_1760007161-sppg1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415229/original/060484900_1763364384-perda_disab_jatim.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5414859/original/098956300_1763353030-Seniman_Autisme_di_Konser_Andien.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418126/original/061933400_1763605368-Ika_Rizki.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397321/original/033792500_1761806055-2.jpg)