Menelisik Alasan Negara Teluk Enggan Bergabung dalam Perang Iran

4 hours ago 2

Liputan6.com, Teheran - Sejak perang Iran dimulai, negara-negara di kawasan Teluk menghadapi rentetan serangan rudal dan drone dari Iran. Situasi ini menempatkan para pemimpin mereka pada pilihan yang tidak menguntungkan: membuat marah sekutu terdekat sekaligus penjamin keamanan mereka, atau menghadapi kemarahan negara tetangga yang kuat yang harus mereka hidupi berdampingan lama setelah perang berakhir.

Akhir pekan lalu, Garda Revolusi Iran mengakui bahwa sekitar 40 persen kekuatan tembaknya diarahkan ke Israel, sementara sebagian besar justru menargetkan negara-negara Arab tetangganya. Lebih dari 2.000 proyektil telah ditembakkan ke negara-negara Teluk.

Kedua pihak dalam konflik dinilai memanfaatkan serangan terhadap negara-negara Teluk untuk keuntungan masing-masing. Iran berharap serangan tersebut akan mendorong negara-negara Teluk menjauh dari Amerika Serikat (AS), sementara AS dan Israel menggunakan serangan Iran itu untuk menekan pemerintah Arab agar bergabung dalam perang.

Kamal Kharrazi, penasihat utama kebijakan luar negeri bagi pemimpin tertinggi Iran, mengatakan kepada CNN bahwa serangan akan terus berlanjut sebagai upaya mendorong negara-negara Teluk agar membujuk Presiden Donald Trump untuk mundur dari konflik.

Pekan lalu, Trump mengatakan kepada CNN bahwa melihat sekutu Arab AS dihantam serangan Iran merupakan "kejutan terbesar" dalam perang yang sedang berlangsung. Ia menambahkan bahwa serangan itu mendorong negara-negara Teluk untuk "bersikeras terlibat".

Namun hingga kini, negara-negara Arab di kawasan Teluk berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak memiliki keinginan untuk bergabung dalam perang.

Senator Partai Republik sekaligus sekutu Trump, Lindsey Graham, menjadi salah satu pihak yang paling terang-terangan mendesak sekutu Arab AS agar ikut serta. Setelah melakukan perjalanan ke Israel, ia mempertanyakan mengapa AS harus mempertahankan mitra seperti Arab Saudi yang menolak ambil bagian dalam apa yang ia gambarkan sebagai perjuangan bersama melawan Iran.

"Jika mereka tidak melakukannya, konsekuensi akan mengikuti," katanya.

Para pemimpin kawasan sebagian besar menghindari tanggapan terbuka terhadap tekanan tersebut. Namun miliarder dan pengusaha asal Dubai, Khalaf Al Habtoor, sempat memberikan gambaran mengenai sentimen di kawasan Teluk melalui tanggapannya atas pernyataan Graham.

Dalam unggahan di platform X yang kemudian dihapus, ia menulis, "Kami tahu sepenuhnya mengapa kami diserang dan kami juga tahu siapa yang menyeret seluruh kawasan ke dalam eskalasi berbahaya ini tanpa berkonsultasi dengan mereka yang ia sebut sebagai 'sekutu'-nya di kawasan."

Negara-negara Teluk sangat berhati-hati agar tidak terseret ke dalam perang yang lebih luas, yang konsekuensi jangka panjangnya mungkin harus mereka tangani sendiri.

Hasan Alhasan, peneliti senior kebijakan Timur Tengah di International Institute for Strategic Studies, mengatakan ada pandangan di kawasan Teluk bahwa dengan melancarkan perang terhadap Iran, pemerintahan Trump memprioritaskan keamanan Israel di atas keamanan sekutu Arab-nya.

"Ketidakpercayaan itu kemungkinan akan menjadi penghalang bagi negara-negara Teluk untuk bergabung dalam tindakan ofensif," tutur Hasan.

Dilema Negara Teluk: Antara Iran sebagai Tetangga dan Tekanan Sekutu

Negara-negara Teluk sangat menyadari posisi sulit yang mereka hadapi.

"Pada akhirnya, Anda adalah tetangga," kata seorang pejabat Uni Emirat Arab (UEA) kepada CNN, merujuk pada Iran.

Menurut pejabat UEA itu, hubungan dengan Teheran pada akhirnya harus dinormalisasi kembali, meskipun mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memperbaiki kesenjangan kepercayaan yang besar.

Bader Al Saif, profesor sejarah di Universitas Kuwait menuturkan bahwa pasukan AS pada akhirnya akan berkemas dan pergi dari Timur Tengah, sementara Iran akan tetap menjadi tetangga permanen.

"Mereka telah meninggalkan Afghanistan. Mereka sedang meninggalkan Irak, dan pada akhirnya juga akan meninggalkan kawasan kita. Karena itu, kita harus mengurus kepentingan kita sendiri," ujarnya. 

Sejumlah negara Teluk yang lebih kecil juga mungkin menunggu untuk melihat bagaimana sikap Arab Saudi. Kerajaan tersebut merupakan kekuatan utama di kawasan dan keputusannya dapat menentukan apakah negara-negara lain akan mengikuti.

Namun masuk ke dalam konflik dapat memaksa Riyadh bertempur di beberapa front sekaligus, termasuk di perbatasan selatannya dengan Yaman, tempat pemberontak Houthi yang didukung Iran baru saja mengurangi serangan bertahun-tahun terhadap wilayah Arab Saudi.

Di antara negara-negara Arab Teluk yang menjadi sasaran Iran, Arab Saudi adalah satu-satunya yang memiliki garis pantai di Laut Merah, yang memberinya jalur ekspor yang tidak melalui Selat Hormuz. Namun jalur itu juga rentan terhadap kelompok proksi Iran.

Kelompok Houthi di Yaman sebelumnya pernah mengganggu pelayaran melalui Selat Bab al-Mandab—jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan jalur pelayaran global—dan dapat kembali mengancamnya jika konflik meningkat.

Hasan mengatakan negara-negara Teluk harus menimbang risiko bergabung dalam perang dengan biaya jika tetap berada di luar konflik. Ia memperingatkan bahwa sikap tidak bertindak dapat melemahkan daya tangkal dan membuat serangan Iran di masa depan lebih mungkin terjadi.

Menurutnya, negara-negara Teluk dapat mendukung operasi AS dengan membuka wilayah udara dan pangkalan militer mereka, yang disebutnya sebagai opsi dengan eskalasi paling kecil. Mereka juga dapat menargetkan lokasi peluncuran rudal dan drone Iran atau meningkatkan eskalasi lebih jauh dengan menyerang langsung infrastruktur—yang ia gambarkan sebagai "kilang dibalas kilang".

Namun, kata Hasan, jika ikut campur, pemerintah negara-negara Teluk kemungkinan bertindak untuk memulihkan efek penangkal terhadap Iran dan mengakhiri konflik dengan cepat. Sementara itu, AS dan Israel lebih berfokus pada penghancuran kemampuan militer Iran. 

Serangan terhadap Infrastruktur

Kekhawatiran lain bagi negara-negara Teluk adalah pola saling menyerang terhadap infrastruktur sipil penting.

Pada akhir pekan lalu, sebuah fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm milik Iran terkena serangan. Iran kemudian membalas dengan merusak fasilitas desalinasi di Bahrain menggunakan drone.

Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran di seluruh kawasan Teluk bahwa perang dapat meluas hingga mencakup infrastruktur air di wilayah yang sangat bergantung pada desalinasi.

Negara-negara Teluk yang sebagian besar berupa wilayah gurun memiliki kurang dari 1 persen populasi dunia tetapi menyumbang sekitar setengah kapasitas desalinasi dunia. Serangan balasan Iran terhadap infrastruktur air dapat sangat mengganggu pasokan di kawasan yang hampir sepenuhnya bergantung pada air hasil desalinasi.

Mengutip seorang pejabat Israel, Jerusalem Post melaporkan pada Minggu (8/3) bahwa UEA bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Iran tersebut, yang berpotensi menjadi serangan pertama UEA terhadap Iran selama perang.

Namun bantahan dari UEA datang dengan cepat. Para pejabat mengatakan bahwa sikap Abu Dhabi dalam perang ini sepenuhnya bersifat defensif dan akan tetap demikian, sambil menegaskan hak negara itu untuk mempertahankan kedaulatannya.

Anwar Gargash, penasihat presiden UEA, mengatakan Abu Dhabi tidak akan terseret ke dalam eskalasi.

Jerusalem Post kemudian mengutip sumber yang dekat dengan pemerintah UEA yang mengatakan bahwa klaim pejabat Israel tersebut hanyalah "rumor". 

Strategi Iran Berhasil?

Ada sejumlah tanda bahwa strategi Iran mungkin mulai memberikan dampak.

Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global—hampir terhenti setelah Iran mengumumkan penutupan selat itu. Kondisi ini menempatkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia dalam ancaman. 

Gangguan memicu apa yang oleh para analis disebut sebagai guncangan minyak terbesar dalam sejarah dan turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di AS.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga berusaha memperbesar tekanan tersebut dengan menyasar langsung para pemilih AS.

"Kesalahan atas melonjaknya harga bensin, biaya hipotek yang lebih mahal, dan dana pensiun 401(k) yang terpukul berada sepenuhnya pada Israel dan para kaki tangannya di Washington," tulis Araghchi di platform X.

Beberapa hari setelah Iran mulai menyerang negara-negara Teluk, QatarEnergy—yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan LNG dunia—menghentikan produksi setelah fasilitasnya terkena serangan. Langkah itu menyebabkan harga gas di Eropa melonjak hampir 50 persen.

Menteri energi Qatar bahkan memperingatkan bahwa harga minyak dapat mencapai sekitar 150 dolar per barel jika konflik terus mengganggu ekspor energi dari kawasan Teluk.

"Di saat yang sama, beberapa sekutu Arab Trump di kawasan Teluk juga mulai meninjau kembali investasi luar negeri mereka karena perang mulai menekan perekonomian," kata seorang pejabat Teluk kepada CNN.

Peninjauan kembali investasi itu terjadi hanya beberapa bulan setelah Trump memuji komitmen investasi senilai triliunan dolar dari kawasan tersebut sebagai kemenangan ekonomi besar. 

Namun meskipun konflik ini mengguncang pasar global dan ekonomi negara-negara Teluk, pemerintah di kawasan tersebut tetap enggan memasuki perang yang tidak mereka kendalikan. 

"Namun tetap ada risiko dari sikap tidak bertindak," ungkap Hasan. "Sampai kapan negara-negara Teluk bisa terus menjadi sasaran serangan tanpa mengambil langkah lebih jauh? Tidak bertindak juga bukan tanpa risiko." 

Read Entire Article