Siapa Delcy Rodriguez, Pemimpin Venezuela Usai Maduro Ditangkap AS

2 months ago 36

Liputan6.com, Jakarta - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer Amerika Serikat (AS) mengubah peta kekuasaan di negara tersebut. Dalam situasi darurat itu, pucuk kepemimpinan Venezuela kini berada di tangan Wakil Presiden Eksekutif Delcy Rodriguez, figur senior yang selama bertahun-tahun berada di lingkar inti kekuasaan chavismo.

Peralihan peran ini sesuai dengan ketentuan Konstitusi Venezuela, khususnya Pasal 233 dan 234, yang mengatur bahwa wakil presiden mengambil alih tugas presiden apabila terjadi ketidakhadiran kepala negara, baik bersifat sementara maupun permanen.

Rodriguez mulai menjalankan perannya pada Sabtu sore, hanya beberapa jam setelah Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap. Ia langsung memimpin rapat Dewan Pertahanan Nasional, didampingi jajaran menteri dan pejabat tinggi negara, serta menyuarakan tuntutan keras terhadap Amerika Serikat.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi pemerintah VTV, Rodriguez mengecam operasi militer AS dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan negaranya. Ia juga mendesak pembebasan segera Maduro dan Flores.

“Kami menyerukan kepada rakyat di tanah air besar ini untuk tetap bersatu, karena apa yang dilakukan terhadap Venezuela bisa dilakukan terhadap siapa pun. Penggunaan kekuatan brutal untuk membengkokkan kehendak rakyat bisa dilakukan terhadap negara mana pun,” kata Rodriguez di hadapan Dewan Pertahanan Nasional, dilansir dari CNN, Minggu (4/1/2026).

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dikabarkan telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negaranya dalam sebuah operasi militer berskala besar. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui unggahan di Truth ...

Figur Lama di Pusat Kekuasaan

Delcy Rodriguez, 56 tahun, berasal dari Caracas dan merupakan lulusan fakultas hukum Universitas Pusat Venezuela. Ia telah mengabdikan lebih dari dua dekade karier politiknya dalam gerakan chavismo, yang didirikan oleh Hugo Chavez dan dilanjutkan oleh Nicolas Maduro setelah 2013.

Bersama kakaknya, Jorge Rodriguez, yang kini menjabat Ketua Majelis Nasional, Delcy Rodriguez dikenal sebagai salah satu aktor paling berpengaruh sejak era Chavez. Ia pernah menjabat Menteri Komunikasi dan Informasi pada 2013–2014, lalu Menteri Luar Negeri pada 2014-2017.

Sebagai menteri luar negeri, Rodríguez kerap tampil membela pemerintahan Maduro di forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menepis kritik dunia internasional terkait tudingan kemunduran demokrasi dan pelanggaran hak asasi manusia, serta menuding negara lain berupaya melemahkan Venezuela.

Pada 2017, Rodriguez dipercaya memimpin Majelis Konstituante Nasional, lembaga yang memperluas kewenangan pemerintah setelah oposisi memenangkan pemilu legislatif 2015. Setahun kemudian, Maduro menunjuknya sebagai wakil presiden untuk periode keduanya. Jabatan itu terus ia emban hingga masa jabatan ketiga Maduro yang dimulai pada 10 Januari 2025, pasca pemilu kontroversial 28 Juli 2024.

Sebelum penangkapan Maduro, Rodriguez juga dikenal sebagai otoritas ekonomi utama Venezuela dan menjabat menteri perminyakan, posisi strategis di tengah krisis ekonomi dan energi yang melanda negara tersebut.

Dinilai Sangat Berpengaruh

Oposisi Venezuela menilai pemilu 2024 sarat kecurangan dan menolak mengakui Maduro sebagai presiden sah. Mereka menyatakan Edmundo Gonzalez Urrutia, mantan duta besar, sebagai pemenang pemilu, klaim yang mendapat dukungan dari sejumlah negara di kawasan.

Menurut pakar hukum tata negara dan analis politik Jose Manuel Romano, posisi Rodriguez di pemerintahan menunjukkan tingkat kepercayaan penuh dari Maduro.

“Wakil presiden eksekutif republik adalah operator yang sangat efektif, seorang perempuan dengan kemampuan kepemimpinan yang kuat dalam mengelola tim,” ujar Romano kepada CNN.

“Ia sangat berorientasi pada hasil dan memiliki pengaruh besar terhadap seluruh aparat pemerintahan, termasuk Kementerian Pertahanan. Itu sangat penting untuk dicatat dalam situasi saat ini,” tambahnya.

Sinyal Berbeda dari Washington

Beberapa jam setelah penangkapan Maduro, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah berbicara dengan Rodriguez. Trump menilai Rodriguez tampak bersedia bekerja sama dengan Washington dalam fase baru bagi Venezuela.

“Ia berbicara dengan Marco. Ia mengatakan, ‘Kami akan melakukan apa pun yang Anda perlukan.’ Saya pikir ia cukup sopan. Kami akan melakukan ini dengan benar,” kata Trump.

Namun, pernyataan tersebut justru memunculkan tanda tanya di kalangan analis. Mereka menilai Rodriguez bukan sosok kompromistis.

“Ia bukan alternatif moderat bagi Maduro. Ia adalah salah satu figur paling kuat dan paling keras di seluruh sistem,” kata analis kebijakan Imdat Oner kepada CNN.

“Kenaikannya ke tampuk kekuasaan tampaknya merupakan hasil dari suatu bentuk kesepahaman antara Amerika Serikat dan para aktor kunci yang sedang mempersiapkan skenario pasca-Maduro. Dalam konteks itu, ia pada dasarnya akan berperan sebagai penjaga sementara hingga pemimpin yang dipilih secara demokratis mengambil alih,” lanjutnya.

Meski demikian, sikap awal Rodriguez justru menunjukkan garis keras. Dalam wawancara telepon dengan VTV pada pagi hari, ia menyatakan keberadaan Maduro dan Flores tidak diketahui serta menuntut bukti bahwa keduanya masih hidup. Pada sore harinya, ia kembali mengecam operasi AS dan menegaskan bahwa Maduro tetap memimpin Venezuela.

“Hanya ada satu presiden di negara ini, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros,” tegas Rodriguez, yang kini menjadi wajah paling menonjol dari pemerintahan Venezuela di tengah krisis politik terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Read Entire Article