Semakin Banyak Negara Menolak Pengakuan Israel terhadap Somaliland

2 months ago 49

Liputan6.com, Nairobi - Semakin banyak negara pada hari Sabtu (28/12/2025) menolak pengakuan Israel terhadap wilayah Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia sebagai sebuah negara merdeka, sehari setelah pengakuan diumumkan—yang merupakan pengakuan pertama oleh negara mana pun dalam lebih dari 30 tahun.

Tidak diketahui mengapa Israel membuat deklarasi tersebut pada hari Jumat (26/12) atau apakah negara itu mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya.

Somaliland menyatakan kemerdekaannya dari Somalia pada tahun 1991 di tengah kemerosotan menuju konflik yang hingga kini terus membuat negara Afrika Timur tersebut rapuh. Meskipun memiliki pemerintahan dan mata uang sendiri, Somaliland belum pernah diakui oleh satu pun negara hingga hari Jumat.

Dalam pernyataan bersama pada hari Sabtu seperti dilansir Associated Press, lebih dari 20 negara—yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah atau Afrika—bersama Organisasi Kerja Sama Islam menolak pengakuan Israel tersebut, dengan alasan langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini memiliki dampak serius terhadap perdamaian dan keamanan di Tanduk Afrika dan Laut Merah, serta terhadap perdamaian dan keamanan internasional secara keseluruhan. 

Somaliland, yang wilayahnya kering dan tandus, terletak di Teluk Aden berhadapan langsung dengan Yaman dan bersebelahan dengan Djibouti, yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS), China, Prancis, dan beberapa negara lainnya.

Pernyataan bersama itu menegaskan pula penolakan penuh terhadap setiap kemungkinan keterkaitan antara langkah itu dan upaya apa pun untuk secara paksa mengusir rakyat Palestina dari tanah mereka. Suriah, dalam pernyataan terpisah, juga menolak pengakuan Israel tersebut.

Bagaimana Sikap AS?

Awal tahun ini, para pejabat AS dan Israel mengatakan kepada Associated Press bahwa Israel telah mendekati Somaliland untuk membahas kemungkinan menerima warga Palestina dari Gaza sebagai bagian dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk merelokasi penduduk wilayah tersebut. Namun, rencana itu kemudian ditinggalkan oleh AS. 

Kementerian Luar Negeri AS pada hari Sabtu menyatakan bahwa pihaknya tetap mengakui keutuhan wilayah Somalia, yang mencakup wilayah Somaliland.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Jumat menyatakan bahwa ia, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar, dan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi menandatangani sebuah deklarasi bersama dalam semangat Abraham Accords.

Abraham Accords merupakan sebuah inisiatif yang diluncurkan pada tahun 2020 oleh Trump, yang bertujuan membangun hubungan komersial dan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab serta negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim. Trump memandang inisiatif tersebut sebagai kunci dari rencananya untuk membawa stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.

Pemerintah federal Somalia pada hari Jumat dengan tegas menolak apa yang mereka sebut sebagai langkah ilegal oleh Israel dan menegaskan kembali bahwa Somaliland tetap merupakan bagian integral dari wilayah kedaulatan Somalia.

Badan-badan regional Afrika juga menolak pengakuan Israel. Ketua Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf mengatakan bahwa setiap upaya untuk merongrong kedaulatan Somalia berisiko mengancam perdamaian dan stabilitas di benua tersebut.

Badan pemerintahan Afrika Timur, IGAD, menyatakan bahwa kedaulatan Somalia diakui berdasarkan hukum internasional dan pengakuan sepihak apa pun bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta perjanjian-perjanjian yang membentuk organisasi tersebut dan Uni Afrika.

Read Entire Article