Liputan6.com, Ulaan Baatar - Budaya yang dirayakan setiap tahun melalui balapan pacuan kuda ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Mongolia. Negara yang menjadi tempat kelahiran Genghis Khan mengubah kuda sebagai salah satu lomba di dalam festival Naadam yang menggambarkan simbol kedaulatan dan identitas bangsa.
Partisipasi untuk perayaan tradisi tersebut melibatkan anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan sebagai joki cilik, dimulai dari usia minimal lima atau tujuh tahun yang telah dapat mengikuti lomba pacuan kuda, melansir Al Jazeera, Senin (5/1/2026).
Salah satu pengalaman yang menggambarkan sisi menyenangkan tradisi ini dibagikan oleh Babu, seorang anak laki-laki berusia lima tahun dari sekitar 30.000 joki anak Mongolia. Setelah berlatih selama berbulan-bulan dan membutuhkan ayahnya untuk diangkat ke atas pelana karena tubuhnya sangat kecil, ia mampu membuktikan diri dengan menjadi bagian dari tradisi yang dijunjung tinggi keluarganya.
Kompetisi pertama kalinya dilakukan bersama 80 joki lain dengan menunggangi kuda jantan milik ayahnya, melewati jalur berdebu sepanjang 24 kilometer tanpa diberikan tanda petunjuk apa pun.
Tetapi semangatnya yang besar telah mendorong bocah tersebut untuk terus melaju hingga mencapai garis akhir.
"Saya suka menunggang kuda dan saya (juga) suka memenangkan (kompetisi ini)," ucapnya.
Keluarganya juga mendukung jiwa kompetitif Babu, di mana ayahnya mengatakan bahwa ia adalah salah satu anak yang diharapkan menjadi penerus selanjutnya untuk menjaga tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
"(Tradisi) ini rasanya seperti kami menyatu dengan kuda. Seperti ada ikatan dengan hewan ini," katanya.
Tradisi Pacuan Kuda dapat Berbahaya bagi Anak
Berdasarkan informasi dari media News.MN, festival Naadam diartikan sebagai "tiga olahraga kejantanan," berakar pada kehidupan masyarakat kuno yang hidup secara nomaden di padang rumput luas. Tiga kegiatan utama dari perlombaan terdiri dari gulat, pacuan kuda, dan panahan, yang menjadi sejarah dan budaya Mongolia.
Sejauh pengalaman menyenangkan dan menegangkan dari berpacu kuda, anak-anak yang ikut serta dalam lomba ini tak jarang menimbulkan kekhawatiran publik terkait keselamatan mereka.
Dalam lima tahun terakhir, 1.500 joki anak dilaporkan mengalami cedera serius hingga 10 korban meninggal akibat jatuh dan terinjak kuda lain, menurut catatan medis dari Rumah Sakit Traumatologi Ulaan Baatar.
Seperti kisah tragis yang dialami Lkhagvadorj, bocah tujuh tahun yang meninggal setelah terjatuh dan terinjak kuda saat balapan dengan kecepatan tinggi. Peralatan keselamatan tidak dipastikan memenuhi standar, karena ia tidak mengenakan helm yang membuat tengkoraknya hancur.
Saat itu, ayahnya, S Baasandorj, yang menunggu di garis akhir justru harus menuju ke rumah sakit. Setibanya di sana, putranya dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami keadaan kritis. Kasus ini pun menarik aktivis perlindungan anak dan organisasi internasional yang menyoroti tradisi tersebut sebagai bentuk pekerjaan anak yang berbahaya.
Dr. P. Bayarsaikhan, seorang ahli bedah trauma di rumah sakit yang menangani ribuan korban joki anak mengungkap banyak penunggang kuda mengalami cedera otak jangka panjang.
Keselamatan Anak Masih Dipertanyakan
Selain itu, Tsanlig Battuya dari kelompok yang menentang bentuk-bentuk pekerjaan anak terburuk mengatakan bahwa banyak joki dari keluarga miskin yang terpaksa berpatisipasi dalam lomba ini serta sering kali berakhir pada sebutan eksploitasi anak.
Battuya yang memperhatikan hak anak-anak berusaha memberikan perlindungan dan keselamatan meski tetap menghormati tradisi yang dilakukan agar nilai sejarahnya tetap terjaga dan hidup hingga generasi selanjutnya.
"Yang ingin kami sampaikan adalah untuk menjauhkan anak-anak dari eksploitasi, bukan karena kami tidak ingin mereka menunggang kuda. Kami mencoba melindungi hak dan keselamatan mereka," ujarnya.
Aturan yang mewajibkan joki mengenakan helm sebenarnya telah diperkenalkan sejak 2011. Namun, menurut Oyungerel Tsedevdamba, mantan menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Mongolia, aturan tersebut hanya diberlakukan untuk balapan resmi dalam festival Naadam. Sementara jika seorang anak meninggal, pelatihnya harus berhadapan dengan hukum untuk memberikan tanggung jawab apabila terbukti mengabaikan standar keselamatan.
Denda yang dijatuhkan pun maksimal sebesar 8.000 dolar AS atau sekitar Rp133 juta. Dari jumlah tersebut, Tsedevdamba tetap menilai denda yang diberikan tidak cukup dan menyerukan hukuman yang lebih berat atas kematian seorang anak.
"Sejauh ini belum ada yang dipenjara karena kematian seorang anak dalam pacuan kuda. Ini masalah besar karena tidak ada yang dituntut dan negara tidak pernah menuntut siapa pun atas kematian seorang anak," jelasnya yang mengharapkan adanya pemberlakuan aturan untuk melindungi keselamatan anak-anak.
Meski terdapat kritik yang berhubungan dengan anak-anak, sedikitnya dukungan untuk melarang keterlibatan mereka yang berusia muda dalam lomba pacuan kuda diperkirakan akan terus berlangsung agar tetap mempertahankan budaya Mongolia.
Kementerian Kesehatan memastikan kasus Influenza Subkled-K sudah terdeteksi di Indonesia. Sebelumnya virus Influenza yang dijuluki "Superflu" itu memicu lonjakan kasus flu di negara Amerika Serikat terutama pada anak-anak.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5464614/original/084351000_1767696447-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5462464/original/026686000_1767580891-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5464139/original/027092000_1767680583-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463943/original/010286700_1767674625-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461829/original/047106800_1767458658-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463522/original/059314300_1767628994-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463629/original/063354300_1767665801-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463519/original/043457700_1767627519-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377670/original/075911800_1680174652-mayat-perempuan-tanpa-identitas-ditemukan-mengambang-di-kali-bekasi-20072022-214253.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406089/original/006566900_1762512009-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161503/original/090966100_1741846958-1741840983693_penyebab-autis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5032120/original/020113400_1733123995-fotor-ai-2024120214155.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405703/original/088328900_1762495927-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380909/original/004147800_1760438190-Ilustrasi_perundungan_di_Grobogan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5369993/original/045407100_1759484291-WhatsApp_Image_2025-10-03_at_16.34.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5398804/original/020121200_1761897445-Abdul_Rauf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293741/original/045684500_1753341485-2148817396.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406988/original/070457800_1762657462-uld_pb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406319/original/030571500_1762537820-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355962/original/087526300_1758388524-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403042/original/097694400_1762315278-job_fair_disabilitas_pramono_anung.jpeg)