Kisah Perundungan Paling Kejam di Inggris: Suzanne Capper Disiksa Teman Selama 7 Hari

2 months ago 42

Liputan6.com, London - Seorang gadis berusia 16 tahun yang telah menganggap enam orang sebagai teman barunya justru memberikan perlakuan kejam yang seharusnya dapat menjadi ruang aman dan kebahagian baru, di mana ia menjadi korban perundungan hingga berakhir pembunuhan paling kejam dalam sejarah kriminal Inggris.

Seperti yang dilansir dari Mirror, Senin (29/12/2025), kisah tragisnya terjadi pada bulan Desember 1992 tentang bagaimana seluruh penyiksaan terhadapnya harus bertahan selama tujuh hari. Gadis bernama Suzanne Capper yang berasal dari Moston, Greater Manchester, mengalami berbagai kekerasan oleh enam pelaku berusia 16 tahun hingga 29 tahun.

Meski tinggal bersama ayah tirinya, ia tetap merasa sendiri dan kesepian yang semakin mudah dipengaruhi oleh para pelaku. Ia dikenal sebagai gadis yang ramah, lembut, dan sering menghabiskan waktu di rumah Jean Powell—seorang ibu berusia 26 tahun yang hidup dengan kondisi rumah menjadi markas perdagangan narkoba, pesta, dan hubungan seksual.

Sahabat Jean, Bernadette McNeilly (23) yang memiliki tiga anak saat itu juga tinggal bersamanya, dan Suzanne kerap mengasuh anak-anaknya sehingga ia juga sering menginap dan bermain di sana.

Selain itu, beberapa orang lainnya yang sering mengunjungi rumah Jean meliputi Glyn Powell (suami Jean yang telah bercerai), Anthony Dudson (pacar McNeilly) berusia 16 tahun yang juga menjadi pemuas untuk hubungan seksual Jean, Clifford Pook (adik laki-laki Jean), dan Jeffrey Leigh yang turut menjalin hubungan seksual dengan Jean.

Kekejaman kepada Suzanne Bermula

Rumah tersebut pun semakin dipenuhi banyak orang yang memiliki kemungkinan tindakan kejahatan dapat terjadi tanpa mengenal waktu, yang mana Suzanne menjadi korban dan dimulai dengan penculikan sebelum kekerasan menyerang tubuh, setelah adanya tuduhan dan saling menyalahkan satu sama lain di rumah Jean.

Suzanne dituduh telah mencuri mantel duffle merah muda milik McNeilly seharga 50 Pound Sterling, serta ia marah bersama Dudson yang turut menyalahkannya setelah terinfeksi kutu kemaluan.

Sehari setelah kejadian itu, McNeilly dan Jean mendatangi rumah ayah tiri Suzanne untuk membujuknya berkunjung ke rumah dengan alasan bahwa seorang pemuda yang disukai sedang menunggu di sana, yaitu Glyn dan Dudson—jebakan yang sengaja untuk memancingnya ke rumah Jean pada 7 Desember 1992.

Penahanan dan Penyiksaan

Begitu tiba di rumah, Suzanne langsung ditangkap dan ditahan, sementara Glyn dan Dudson mencukur rambut kepala dan alisnya secara paksa. Bahkan lebih parahnya lagi, ia dipukuli dan dipermalukan yang dipaksa mencukur rambut kemaluannya sendiri sebelum dikurung di dalam lemari semalaman.

Pada 8 Desember, Suzanne dipindahkan ke rumah McNeilly agar tangisannya tidak mengganggu anak-anak. Di sana, penyiksaannya berlanjut dengan diikat ke dasar tempat tidur menggunakan tali, kabel listrik, ikat pinggang, dan rantai.

Selama enam hari dan enam malam dalam penahanan ini, ia hidup dengan rasa sakit disekujur tubuh karena diksisa tanpa henti, seperti disuntik dengan amfetamin, disundut dengan rokok, dan dua gigi depannya dicabut paksa.

Selama beberapa hari itu juga ia dipaksa berbaring dalam air kencing dan kotorannya sendiri. pada waktu tertentu, tubuhnya masuk ke dalam bak mandi berisi disinfektan pekat dan digosok dengan sikat kasar yang membuat kulitnya terkelupas.

Pernyataan Suzanne Mengungkap Pelaku

Berbagai bentuk penyiksaan dan rasa nyeri yang dilakukan keenam orang dewasa beserta remaja ini seolah menganggap tubuhnya sebagai salah satu cara bentuk kepuasan mereka. puncak dari kekejaman terjadi pada dini hari 14 Desember 1992, ia dipaksa masuk ke bagasi mobil Fiat Panda putih curian dan dibawa sejauh sekitar 15 mil ke daerah terpencil di Stockport.

Setibanya di sana, Suzanne didorong ke semak berduri dan McNeilly menyiramkan bensin ke tubuhnya dan dibakar sambil bernyanyi lagu "Disco Inferno" dari The Trammps pada bagian lirik "Burn baby burn! Burn baby burn!" Panas membara membakar tubuh Suzanne hidup-hidup, sedangkan para pelaku bergembira melihat kesakitan yang diterimanya.

Tetapi, ia dapat berhasil merangkak keluar dari api yang membakarnya dan berjalan terhuyung-huyung sejauh hampir seperempat mil sebelum ditemukan oleh para pekerja yang segera memanggil bantuan. Meski tubuhnya dalam keadaan sekarat, ia mampu bertahan hidup selama empat hari di rumah sakit.

Dalam kesempatan itu, Suzanne menjelaskan seluruh identitas dirinya dan menyebutkan keenam pelaku dengan alamat tempat penyiksaan. Banyak luka bakar hingga mencapai 80 persen menutupi tubuhnya, bahkan mengalami kegagalan multi-organ sebelum akhirnya meninggal dalam keadaan tanpa sadarkan diri pada 18 Desember 1992.

Para pelaku pun didakwa pada 23 Desember 1992 dan pengadilan berlangsung pada 16 November 1993 yang dijalani selama 22 hari. Walaupun mereka membantah atas kejahatan yang telah diperbuat, putusan pengadilan telah menetapkan hukuman pada keenam pelaku.

Jejak Kelam Kekerasan

Tiga orang dewasa (Jean, McNeilly, dan Glyn) dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan minimal 25 tahun, sementara Dudson dijatuhi hukuman minimum 18 tahun yang kemudian dikurangi menjadi 16 tahun. Clifford Pook (saudara laki-laki Jean) dan Jeffrey Leigh dinyatakan bersalah atas penahanan ilegal dan dijatuhi hukuman masing-masing 15 dan 12 tahun penjara.

Setelah melewati masa hukuman, mereka kini dapat hidup bebas. Seperti McNeilly dibebaskan pada 2015, sementara Jean yang telah merubah namanya menjadi Gillespie dibebaskan pada 2017. Lalu Dudson dibebaskan pada 2013, Glyn pada Mei 2023, Clifford Pook pada 2001, dan Jeffrey Leigh pada 2008.

Kisah yang penuh kekejaman ini telah menjadi gambaran bagaimana kekerasan terjadi tanpa adanya belas kasih atau kemanusiaan sedikit pun saat menjalaninya. Hal ini pun diakibatkan latar belakang kehidupan mereka yang dipenuhi berbagai tindakan buruk atau kejahatan lainnya, sehingga mereka tidak ragu untuk menyiksa Suzanne.

Kejaksaan Agung menetapkan "saudagar minyak" Riza Chalid ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Riza Chalid juga ditetapkan sebagai tersangka kasus tindak pidana pencucian uang.

Read Entire Article