Liputan6.com, Seoul - Kesehatan seorang pria di Korea Selatan ini ternyata didiagnosis menderita penyakit hati langka, dan dokter yang menanganinya mengatakan bahwa transplantasi hati dapat dilakukan dengan donor dari sang istri karena memiliki tingkat kecocokan yang sesuai dengan penilaian medis. Namun, ia menolak mendonorkannya yang berakhir pada perceraian.
Pasangan yang tidak disebutkan namanya sama-sama berusia 30 tahun dan telah menikah selama tiga tahun, mereka memiliki dua anak kecil dan hidup penuh dengan keharmonisan.
Tetapi kesehatan suaminya menunjukkan adanya masalah pada organ hati, ia didiagnosis penyakit hati langka yang disebut sirosis bilier primer serta hanya memiliki sisa hidup sekitar satu tahun lagi, seperti yang dilansir dari Oddity Central, Senin (29/12/2025).
Meski mendapatkan dukungan dari orang tuanya dan perawatan dari sang istri yang setia menemaninya, dokter menyatakan bahwa tanpa transplantasi hati, kondisi pria tersebut tetap tidak akan mengalami pemulihan dengan baik.
Setelah berusaha mencari pendonor yang sesuai, ketegangan muncul dalam hubungan pasangan ini ketika dokter mengatakan bahwa sang istri merupakan donor yang sangat cocok dengan kompatibilitas HLA (Human Leukocyte Antigen) lebih dari 95 persen. Nyatanya, pria yang telah bahagia akan mendapatkan donor dari istrinya ini dijawab dengan penolakan.
Salah satu hal yang menjadi alasan istrinya adalah ia memiliki ketakutan patologis terhadap jarum dan benda tajam sehingga tidak dapat menjalani transplantasi hati kepada suaminya.
Alasan Terungkap yang Berakhir Perceraian
Penolakan pun memicu suami yang meragukan ketulusan istrinya dan mengatakan bahwa semuanya kini sia-sia, di mana keputusan tersebut seakan tidak peduli kepadanya lagi.
Akhirnya, ia mendapatkan transplantasi hati dari orang lain yang mana pasien ini mengalami kondisi mati otak. Setelah melalui perawatan medis dan tubuhnya kembali pulih, pria tersebut tetap masih merasa aneh dengan ketakutan sang istri dan mulai menyelidikinya.
Fakta mengejutkan diungkap oleh istrinya yang sebenarnya bukanlah fobia jarum, melainkan ketakutan akan risiko operasi yang berpotensi membuat anak-anaknya kehilangan seorang ibu.
Penjelasan itu tidak cukup menenangkannya, ia kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan dengan tuduhan gagal menjalankan kewajiban sebagai pasangan hidup.
Tetapi, pengadilan memutuskan untuk memihak kepada sang istri dengan alasan bahwa donor organ adalah masalah pribadi yang berkaitan dengan otonomi tubuh dan tidak dapat dianggap sebagai kewajiban meski dalam status hubungan suami istri.
Pengadilan juga menambahkan bahwa adanya penolakan tersebut karena kekhawatiran terhadap kesejahteraan anak-anaknya tanpa ibu yang dianggap sebagai hal wajar dan masuk akal.
Walaupun hukum berada di pihak sang istri, pasangan ini sepakat untuk bercerai. Hak asuh atas kedua anak mereka diberikan kepada istrinya, sementara ia juga tetap memberikan dukungan finansial untuk pemulihan medis mantan suaminya, menurut Seoul Broadcasting System.
Kasus investasi bodong berkedok robot trading kembali merebak. Kali ini robot trading Net89 yang menyeret sejumlah artis dari Atta Halilintar hingga Kevin Aprilio. News Liputan6.com hari ini mengabarkan sekitar 230 orang melapor menjadi korban penipu...

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530439/original/068576200_1773440906-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516525/original/044369700_1772322540-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530339/original/025873100_1773408788-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466635/original/060914700_1767850248-WhatsApp_Image_2026-01-08_at_11.38.38__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529924/original/037780400_1773386744-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528532/original/013772800_1773287232-Untitled.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5421473/original/046767000_1763906676-Sarmila_wati.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441248/original/084139500_1765462277-1000257193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427236/original/042414200_1764338646-FOD.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419257/original/042198300_1763651316-photo_2025-11-20_21-21-14.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430647/original/095128500_1764668680-WhatsApp_Image_2025-12-02_at_16.43.15_c2c5627c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400168/original/005067900_1762067797-000_1DL27K.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4760696/original/079555300_1709519479-20240304-Peringatan_10_Tahun_MH370-AFP_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1448550/original/003955100_1482914623-20161228-Chappy-Hakim-IA1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376526/original/002811900_1760007161-sppg1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415229/original/060484900_1763364384-perda_disab_jatim.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5414859/original/098956300_1763353030-Seniman_Autisme_di_Konser_Andien.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418126/original/061933400_1763605368-Ika_Rizki.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397321/original/033792500_1761806055-2.jpg)