China Peringatkan Warganya Agar Tidak Bepergian ke Venezuela Pasca Serangan AS

2 months ago 43

Liputan6.com, Beijing - Kementerian Luar Negeri China dan Kedutaan Besar China di Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) mengimbau warga negara China untuk sementara waktu menahan diri dari bepergian ke Venezuela, dengan alasan memburuknya situasi keamanan di negara tersebut secara tajam.

Imbauan itu dikeluarkan menyusul serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela pada Sabtu, yang secara signifikan meningkatkan risiko keamanan di seluruh wilayah negara tersebut.

Mengutip laporan China Daily, warga negara China dan institusi China yang saat ini berada di Venezuela diminta untuk memantau secara ketat perkembangan situasi keamanan setempat, memperkuat langkah-langkah keselamatan serta kesiapsiagaan darurat, dan menghindari aktivitas keluar rumah yang tidak perlu. Mereka juga disarankan untuk menjauhi zona konflik dan area sensitif lainnya.

Dalam keadaan darurat, warga negara China diinstruksikan untuk segera menghubungi kepolisian setempat dan mencari bantuan dari Kedutaan Besar China di Venezuela.

Kata Jaksa Agung AS

AS tidak hanya melancarkan serangan terhadap Venezuela, namun juga menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden Donald Trump.

"AS telah berhasil melaksanakan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS. Rincian lebih lanjut akan disampaikan segera. Akan diadakan konferensi pers hari ini pukul 11.00 (waktu setempat) di Mar-a-Lago. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!," tulis Trump di platform Truth Social. 

Dalam perkembangannya, Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan bahwa Maduro akan "segera menghadapi seluruh kekuatan hukum AS di wilayah AS dan di pengadilan AS".

Pernyataan itu disampaikan Bondi melalui platform media sosial X pada Sabtu pagi waktu setempat, setelah Maduro dilaporkan ditangkap. Dalam unggahannya, Bondi merujuk pada dakwaan terhadap Maduro yang telah diajukan oleh otoritas hukum AS.

Bondi menyebut bahwa Maduro didakwa atas sejumlah tuduhan, yaitu konspirasi narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan perangkat penghancur, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan perangkat penghancur yang ditujukan terhadap AS. 

Maduro didakwa pada tahun 2020 oleh pengadilan federal di New York terkait tuduhan-tuduhan di atas. Hingga berita ini dipublikasikan keberadaan Maduro belum diketahui secara pasti. 

Dalam pernyataannya, Bondi turut menyampaikan terima kasih kepada Presiden Trump dan militer AS. Ia mengatakan bahwa mereka "melaksanakan misi yang luar biasa dan sangat berhasil untuk menangkap dua terduga pengedar narkoba internasional."

Read Entire Article