Cerita Keluarga di AS yang Lakukan Perkawinan Sedarah, Begini Kondisinya

1 day ago 5

Liputan6.com, Washington DC - Rumah kecil yang dihuni oleh keluarga bernama The Whittaker di Odd, West Virginia, Amerika Serikat, terperangkap dari kehidupan dunia luar. Lingkungan yang sunyi dan terisolasi dari interaksi sosial menjadi perhatian masyarakat selama puluhan tahun. Namun, kini rumah tersebut telah mengungkap kondisi dua keluarga dari hasil perkawinan sedarah yang mengejutkan dunia.

Pagar rumah yang rusak dan berada di deretan pohon lebat menjadi dunia untuk mereka selamanya karena keterasingan yang tidak pernah dikunjungi orang sebelum akhirnya keluarga ini diketahui, memanggil banyak jurnalis dan pengunjung berdatangan. Bangunan yang tampak tidak kokoh dan hampir roboh seperti gubuk miring ini hanya mengandalkan fasilitas yang rusak akibat digunakan selama beberapa generasi.

Dulunya, rumah tersebut dihuni oleh tujuh hingga delapan orang. Kini, anggota keluarga yang tetap berada di rumah itu hanya Betty Whittaker (73) dan Larry Whittaker (69). Kehidupan mereka setelah diperhatikan oleh pemerintah menjadi berubah drastis karena sejumlah anggota keluarga dipindahkan ke tempat tinggal baru, sebagaimana yang dilansir dari Daily Star, Rabu (7/1/2026).

Menurut keluarga tersebut, pada bulan September, tiga anggota keluarga—Ray (72), saudara perempuannya Lorene (79), serta putra Lorene, Timmy (46)—dipindahkan oleh layanan perlindungan orang dewasa tanpa ada penjelasan apa pun.

Betty mengaku hanya diberitahu bahwa ketiganya "tidak dapat tinggal di sini lagi." Perpisahan dengan keluarganya terasa berat, ia mengaku sangat merindukan mereka karena seseorang yang merawat dan membesarkannya adalah dirinya.

Bagi Larry yang juga tidak mendengar kabar keluarganya sejak hari mereka dibawa pergi menduga bahwa tindakan yang dilakukan pemerintah berkaitan dengan perhatian publik semakin meningkat setelah tersebarnya video tentang keluarga mereka di internet.

Keluarga Whittaker Kini dalam Pengawasan

Setelah keluarga mereka disorot luas publik, Larry dan Betty diminta untuk tidak berbicara dengan siapa pun karena banyak pihak di luar sana menghasilkan uang dari video yang telah beredar luas.

Pejabat Departemen Layanan Kemanusiaan Virginia Barat menyatakan pihaknya menyadari situasi tersebut, namun menolak memberikan komentar lebih lanjut dengan alasan undang-undang kerahasiaan dan kasus ini masih dalam penanganan.

Sisa anggota keluarga yang masih tinggal di rumah isolasi itu, Betty dan Larry, merasakan perubahan dari anonimitas total menjadi sorotan yang semakin luas, ditambah lagi dengan pemisahan keluarga secara paksa menjadi pengalaman yang menyakitkan bagi mereka.

Riwayat keluarga ini menunjukkan adanya hubungan perkawinan sedarah, dimulai dari dua pasang sepupu yang merupakan keturunan saudara kembar identik. Orang tua mereka disebut sebagai "sepupu pertama dua kali," artinya mereka memiliki kakek dan nenek yang sama dari kedua sisi.

Respon Para Ahli dan Warganet

Para ahli yang mengetahui silsilah keluarga ini telah lama memperingatkan dampak dari hubungan keluarga sedarah. Sebuah studi dari Universitas San Francisco Valley di Brasil tahun 2021 mencatat pernikahan antar kerabat dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, termasuk malformasi bawaan, gangguan pendengaran, hingga disabilitas mental dan fisik.

Selama bertahun-tahun, kehidupan dan silsilah keluarga Whittaker yang bersembunyi dari dunia mendadak tersebar pada tahun 2020 karena sebuah film dokumenter berdurasi 12 menit di kanal YouTube milik Mark Laita, yang berjudul Soft White Underbelly. Video tersebut akhirnya meraih puluhan juta penayangan dan viral dengan cepat.

Sehingga para pengunjung mulai mencari alamat keluarga Whittaker dan berdatangan untuk melihat langsung, merekam, atau mengambil foto. Dunia sunyi mereka berubah dengan keramaian dan rasa penasaran dunia yang membuatnya seakan menjadi sebuah objek wisata.

Reaksi dari dunia maya pun bermunculan. Salah seorang pengguna sosial media turut mengungkapkan rasa kekesalannya setelah mengetahui privasi keluarga tersebut dipenuhi berbagai pertanyaan dunia luar.

"Ini adalah pelanggaran total terhadap privasi keluarga ini," tulisnya.

Sementara yang lain menyatakan kelegaan setelah mendapatkan informasi tentang anggota keluarga yang dipindahkan di lingkungan lebih bersih, dengan fasilitas dan kebutuhan hidup yang layak dan terjaga.

Polrestabes Medan menetapkan A (12), putri kandung korban Faizah Soraya (42), sebagai anak berkonflik hukum dalam kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Kecamatan Medan Sunggal. Hasil penyelidikan mengungkap motif kuat berupa tekanan psikologis dan trauma berkepanjangan akibat sering menyaksikan ...

Read Entire Article