AS Tarik Personel dari Pangkalan Militer Qatar di Tengah Ketegangan dengan Iran

4 days ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) mulai menarik sebagian personel dari pangkalan militernya di Timur Tengah di tengah ketegangan yang meningkat dengan Iran. Langkah ini dilakukan setelah Iran mengancam akan menyerang pangkalan-pangkalan AS jika Washington ikut campur dalam krisis yang tengah melanda Iran.

Berdasarkan laporan Aljazera yang dikutip dari Reuters pada Rabu (14/1/2026), tiga diplomat mengungkapkan bahwa sejumlah personel di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, telah diminta untuk meninggalkan lokasi pada Rabu malam.

Diketahui, pangkalan Udara Al Udeid sendiri merupakan salah satu basis militer terbesar AS di kawasan dan menjadi pusat operasi penting di Timur Tengah.

Sementara itu, Pemerintah Qatar menyatakan, penarikan sebagian personel dari pangkalan Al Udeid dilakukan sebagai respons terhadap ketegangan regional saat ini.

“Qatar terus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan warga serta penduduk sebagai prioritas utama, termasuk perlindungan infrastruktur penting dan fasilitas militer," kata Kantor Media Internasional Qatar.

Selain AS, Inggris juga mengurangi jumlah personelnya di pangkalan udara yang sama di Qatar. Juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan, pihaknya tidak membeberkan detail penempatan dan basis militer demi alasan keamanan.

“Inggris selalu mengambil langkah pencegahan untuk memastikan keamanan dan keselamatan personel kami, termasuk menarik personel bila diperlukan,” kata juru bicara tersebut.

Trump Dorong Rakyat Iran Terus Demo

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (13/1/2026) menyerukan kepada rakyat Iran untuk terus melakukan demonstrasi. Dia menyatakan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan".

Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Trump mungkin segera memberi otorisasi untuk melancarkan serangan militer terhadap para pemimpin Iran.

"Warga Iran yang Patriotik, TERUSLAH MELANCARKAN AKSI PROTES – AMBIL ALIH INSTITUSI KALIAN!!!" tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

"Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar dengan harga yang sangat mahal. Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN."

Trump telah berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran jika kepemimpinan negara itu terus melakukan penindasan terhadap para demonstran. Namun, ketika diminta menjelaskan maksud pernyataannya saat melakukan tur di sebuah pabrik otomotif di Michigan pada Selasa sore, Trump menolak memberikan kejelasan.

"Kalian harus mencari tahu sendiri," ujarnya seperti dikutip dari laporan TIME.

Gelombang Demonstrasi di Iran

Gelombang demonstrasi di Iran bermula dua pekan lalu di bazar-bazar, yaitu pusat perdagangan tradisional, di Teheran sebagai bentuk protes terhadap inflasi yang merajalela. Seiring waktu, aksi tersebut berkembang menjadi protes yang lebih luas di berbagai wilayah Iran dan menentang Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei beserta rezimnya, yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam tahun 1979.

Pemadaman internet secara nasional telah menghambat komunikasi efektif dengan dunia luar. Meski demikian, sejumlah perkiraan mengenai jumlah korban tewas akibat tindakan keras aparat keamanan menyebutkan angka hingga ribuan orang.

Sebuah kelompok analis sukarelawan yang bekerja berdasarkan laporan rumah sakit di Teheran mengatakan kepada TIME bahwa jumlah korban tewas secara nasional bisa mencapai 6.000 orang. Gambar-gambar yang beredar dari dalam Iran memperlihatkan sebuah kamar jenazah di wilayah Teheran yang dipenuhi ratusan jenazah hanya dari Kamis malam saja.

Read Entire Article