Ramadan Lebih dari Ibadah, Ini 5 Formula Sehat ala Nabi Muhammad yang Jarang Dibahas

23 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Menjaga keseimbangan hidup merupakan bagian penting dari kesehatan. Dalam ajaran Islam, pola hidup sehat telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad melalui keseimbangan antara aktivitas fisik, ibadah, serta pengendalian diri. Prinsip ini menjadi semakin relevan saat Ramadan, ketika umat Muslim dituntut menjaga stamina sekaligus kualitas ibadah.

Ustadz Muhammad Assad menjelaskan pentingnya kebiasaan sehat harian, terutama di bulan Ramadan. Menurutnya, kesehatan dalam Islam tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan nilai ibadah dan kehidupan sehari-hari.

"Healthy life balance itu sangat penting dan Nabi pun menjaga kesehatan dengan pola hidup yang disiplin," ujarnya dalam acara Ask Me Anything Session About Ramadan di Jakarta pada Jumat, 13 Februari 2026.

Berikut beberapa prinsip hidup sehat ala Rasulullah yang relevan diterapkan selama Ramadan:

1. Mengatur Asupan Cairan dan Energi Tubuh Saat Ramadan

Salah satu teladan Rasulullah dalam menjaga kesehatan adalah memperhatikan kebutuhan tubuh, termasuk cairan. Saat Ramadan, kebutuhan hidrasi harus diatur dengan bijak agar tubuh tetap bugar selama berpuasa.

Ustadz Assad menyarankan pembagian waktu minum secara bertahap agar penyerapan cairan lebih optimal.

"Minum itu kalau mau dibagi, 2 liter air, dibagi saja per waktu sholat, kalau bulan puasa dibagi 3 waktu salat saja," katanya.

Kebiasaan ini sejalan dengan prinsip kesehatan modern yang menekankan pentingnya hidrasi stabil untuk menjaga metabolisme, fungsi otak, dan daya tahan tubuh selama Ramadhan.

2. Menjaga Pola Aktivitas dan Ketahanan Diri

Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan haus, tapi juga tentang menjaga konsistensi. Rasulullah mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar bergerak cepat, melainkan menjaga ritme agar mampu bertahan hingga akhir.

"Ibadah puasa ini seperti maraton, orang yang fisiknya sehat, dia yang bisa bertahan sampai akhir," tambah Assad.

Artinya, kesehatan dan ibadah selama Ramadan membutuhkan ketahanan fisik serta konsistensi, bukan hanya semangat di awal saja.

3. Membiasakan Dzikir dan Pengendalian Emosi

Kesehatan mental saat Ramadan juga menjadi perhatian penting. Dalam Islam, kebersihan hati dan ketenangan batin menjadi fondasi kesehatan jiwa.

Salah satu cara sederhana menjaga stabilitas emosi adalah memperbanyak istighfar dan dzikir.

"Dengan beristighfar kita ingat Allah, insyaallah hati kita adem, iman kita naik," ujarnya.

Dzikir dapat menjadi mekanisme alami pengelolaan stres. Dengan mengingat Allah, seseorang lebih mampu mengendalikan emosi, meredam amarah, serta menjaga ketenangan selama menjalani Ramadhan.

4. Melatih Pengendalian Diri dalam Perkataan dan Sikap

Ramadan adalah momentum terbaik untuk melatih kontrol diri, termasuk dalam menjaga lisan. Rasulullah mencontohkan pentingnya berkata baik atau memilih diam.

Prinsip 'lebih baik diam daripada berkata yang menyakiti' bukan hanya bagian dari adab, tapi juga berkontribusi pada kesehatan sosial. Hubungan yang harmonis membantu menjaga kesejahteraan psikologis dan menciptakan lingkungan yang lebih tenang selama Ramadan.

5. Memberi Hak Tubuh untuk Istirahat

Islam tidak hanya mengajarkan kerja keras dan ibadah, tetapi juga keseimbangan. Tubuh memiliki hak untuk beristirahat.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

"Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu." (HR. Bukhari & Muslim)

Istirahat yang cukup, meluangkan waktu bersama keluarga, hingga relaksasi sederhana sangat penting selama Ramadhan. Dengan tubuh dan pikiran yang segar, produktivitas serta kualitas ibadah pun bisa lebih optimal.

Read Entire Article