Aritmia Jantung Intai 1 dari 3 Orang di Dunia, Dokter Sarankan Deteksi dengan Meraba Nadi Sendiri

11 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Satu dari tiga orang di dunia berisiko mengalami aritmia jantung atau gangguan irama jantung sepanjang hidupnya. Namun, banyak kasus baru terdeteksi setelah menimbulkan komplikasi berat seperti stroke dan gagal jantung.

Aritmia sering kali tidak menimbulkan gejala awal sehingga luput dari perhatian hingga terjadi kondisi yang mengancam jiwa.

“Gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, sebenarnya deteksi dini dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan MENARI (MEraba NAdi sendiRI) secara rutin,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dicky Armein Hanafy, dalam temu media di RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Senada dengan Dicky, Founder of MENARI, Profesor Yoga Yuniadi, juga menegaskan urgensi deteksi dini gangguan irama jantung. Menurutnya, salah satu jenis gangguan irama jantung adalah Fibrilasi Atrial (atrial fibrillation/AF), penyebab stroke yang dapat dicegah.

“Fibrilasi atrial merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia, dengan dampak serius karena meningkatkan risiko Stroke hingga 5 kali lipat dan risiko kematian 2 kali lipat. Namun demikian, sekitar 50 persen kasus fibrilasi atrial tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung dalam dirinya,” jelas Yoga.

Langkah Sederhana Periksa Denyut Jantung

Kondisi tersebut melatarbelakangi dikampanyekannya MENARI sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memeriksa keteraturan denyut jantung secara mandiri melalui perabaan nadi. Menurut beberapa penelitian, MENARI terbukti mampu meningkatkan deteksi fibrilasi atrial dan membuka peluang penanganan lebih dini guna menurunkan risiko stroke.

“MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, menghitung denyut selama 30 detik lalu dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal berkisar 60–100 kali per menit, namun keteraturan irama juga perlu diperhatikan,” tambah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu.

Yoga menjelaskan, denyut nadi yang terasa tidak teratur, ada denyut yang hilang, iramanya bervariasi, terlalu cepat di atas 100 kali per menit atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan. Terutama bila disertai keluhan seperti pusing, keringat dingin, nyeri dada, sesak napas, pingsan, bicara pelo, atau kelemahan anggota gerak. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

MENARI Secara Ilmiah

Secara ilmiah, Prof. Yoga menegaskan bahwa MENARI merupakan langkah awal yang efektif untuk mendeteksi denyut jantung tidak teratur, meskipun tidak dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis.

Jika nadi terasa tidak teratur, pemeriksaan lanjutan seperti rekaman EKG perlu dilakukan, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti usia lanjut atau penderita penyakit jantung. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, termasuk penggunaan pengencer darah pada kasus fibrilasi atrial, risiko stroke dapat berkurang secara bermakna. Ini menjadikan MENARI sebagai kebiasaan sederhana dengan dampak besar bagi pencegahan penyakit kardiovaskular.

“Kebiasaan memeriksa nadi secara berkala dapat membantu menemukan gangguan irama jantung (fibrilasi atrial) yang sebelumnya tidak disadari. Bila gangguan ini terdeteksi dan diobati dengan pengencer darah yang tepat, risiko Stroke dapat berkurang secara bermakna.”

“Walaupun penelitian besar yang secara langsung membuktikan bahwa kebiasaan meraba nadi sendiri menurunkan angka stroke masih terbatas, tapi tetap saja jalur manfaatnya, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan stroke, sudah sangat kuat secara ilmiah,” katanya.

Prevalensi Fibrilasi Atrial Tertinggi di ASEAN

Sementara, Sekretaris Bidang 1 Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Ardian Rizal, mengungkapkan, dalam 21 tahun terakhir, Indonesia tercatat menjadi salah satu wilayah yang memiliki kenaikan prevalensi fibrilasi atrial tertinggi di kawasan ASEAN.

Peningkatan ini berkaitan erat dengan bertambahnya angka harapan hidup serta perubahan gaya hidup yang mendorong meningkatnya penyakit metabolik (salah satu faktor risiko fibrilasi atrial).

Selain itu, tantangan terbesar lainya adalah sifat penyakit ini yang sering kali asimtomatik atau tanpa gejala.

“Akibatnya, banyak kasus baru terdiagnosis justru setelah pasien mengalami komplikasi serius seperti stroke,” kata Ardian.

Dalam konteks tersebut, deteksi dini menjadi kunci untuk memutus rantai risiko stroke dan dampak jangka panjang fibrilasi atrial. Upaya skrining sejak dini, baik melalui metode manual MENARI maupun pemanfaatan teknologi wearable device seperti smart watch, memungkinkan intervensi medis dilakukan lebih awal sebelum komplikasi muncul. Dengan mengetahui gangguan irama jantung sejak fase awal, risiko disabilitas akibat stroke dapat ditekan sekaligus menjaga kualitas hidup dan prognosis kesehatan pasien secara berkelanjutan.

Read Entire Article