Kepala Staf Kepresidenan Yakin Anak Disabilitas Dapat Berkembang di Lingkungan yang Tepat

3 months ago 75

Liputan6.com, Jakarta - Penyandang disabilitas dapat berkembang dengan baik di lingkungan yang tepat dan penuh dukungan. Hal ini seperti disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari.

Menurut Muhammad Qodari, penting untuk memperkuat perspektif bahwa yang perlu menyesuaikan bukanlah selalu manusianya, tetapi lingkungannya.

Ia mencontohkan kisah Eki, seorang siswa Sekolah Luar Biasa Unit Latihan Kerja Penyandang Cacat (SLB Ulaka Penca) Jakarta yang memimpin marawis dengan suara yang sangat lantang dan bagus.

“Waktu dia di SD bahkan dia di pesantren dianggap enggak bisa ngomong karena memang dia takut mengekspresikan dirinya karena mendapatkan bully,” ujar Qodari saat menghadiri Pentas Seni dan Bazar Hari Disabilitas Internasional (HDI) SLB Ulaka Penca di Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta, pada Selasa (16/12/2025).

Namun, Qodari melihat bahwa di lingkungan yang tepat, seperti di SLB Ulaka Penca, potensi anak-anak memang akan lebih keluar.

Qodari menjelaskan bahwa Eki yang dulunya trauma akibat perundungan di pesantren sampai takut melihat pakaian santri, kini di lingkungan yang tepat bisa memakai pakaian tersebut. Menjadi bagian dari tradisi santri dan menjadi penampil yang baik.

Sebaliknya, di lingkungan yang tidak tepat, potensi anak-anak tidak bisa berkembang bahkan dapat mengalami tekanan.

HDI sebagai Medium Ekspresi Anak Difabel

Qodari menambahkan, HDI adalah perayaan kemanusiaan, perayaan keunikan, keberanian, dan aktualisasi diri.

“Peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember, penting untuk selalu kita peringati selain sebagai wadah aktualisasi untuk melihat potensi anak-anak disabilitas dan juga sebagai medium ekspresi bagi mereka,” katanya.

Dia menegaskan bahwa komitmen pemerintah terhadap pendidikan penyandang disabilitas (pendis) sangat jelas, merujuk pada pernyataan Presiden Prabowo.

“Bapak Presiden Prabowo telah menegaskan bahwa pembangunan nasional harus berangkat dari kemanusiaan dan keadilan sosial. Itu salah satu kata kunci dari Pak Prabowo. Keadilan sosial. Tidak boleh ada warga negara yang tertinggal, termasuk saudara-saudara kita yang penyandang disabilitas,” tegas Qodari.

3 Fokus Penanganan Isu Disabilitas

Lebih lanjut, Qodari memaparkan tiga fokus yang dilihatnya dalam penanganan isu disabilitas.

Pertama, terkait pendidikan inklusif dan penguatan, di mana Kantor Staf Presiden menyoroti masalah pembiayaan gaji tenaga pendidikan (tendik) yang masih minim dan belum mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial karena adanya syarat harus memiliki panti.

“Saya kira ini nanti kami komunikasikan dengan Kementerian Sosial. Artinya kalau bisa institusi yang melayani warga kita yang disabilitas tidak harus ada panti pun tetap mendapatkan bantuan. Karena memang sekolah SLB itu tidak bisa disamakan dengan sekolah umum,” tegas Qodari.

Kedua, pemberdayaan dan kemandirian disabilitas. Qodari mengapresiasi SLB Ulaka Penca karena tidak berhenti pada sekolah, tetapi juga memiliki balai latihan kerja dan workshop.

Ketiga, perlindungan sosial yang berkeadilan dan bermartabat.

Qodari juga menyoroti kerja sama di SLB Ulaka Penca, di mana lahan dan bangunan disediakan oleh pemerintah, tetapi manajemen, personalia, dan pengelolaan harian dilakukan oleh swasta.

Read Entire Article