Kenalan dengan Fasya Hariyuda, Sosok yang Aktif Mengenalkan Bahasa Isyarat di Kampus

1 month ago 41

Liputan6.com, Jakarta - Fasya Hariyuda Pratama dinilai sebagai salah satu contoh baik wisudawan disabilitas di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur.

Pasalnya, selain tekun belajar, teman Tuli ini juga aktif mengajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) kepada mahasiswa UB selama masa kuliah.

Fasya aktif menjadi mentor Juru Bahasa Isyarat (JBI) pada Kegiatan Raja Brawijaya 2025 dan turut memberikan khidmat saat khotbah salat Jumat di Masjid Raden Patah (MRP).

“Saya sempat mengikuti pelatihan guru Tuli di SLDPI (Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi) UB sejak 2023 hingga 2025 untuk bisa mengajarkan isyarat dengan baik. Alhamdulillah, saya terpilih menjadi guru Tuli kelas bahasa isyarat (KBI) sejak 2023,” ujarnya.

Fasya menjelaskan preferensinya terhadap BISINDO karena gestur, ekspresi, dan gerakan tangan yang lebih bebas dibanding mengikuti tata bahasa lisan.

Langkah ke depan, ia berharap menambah jumlah JBI di SLDPI UB melalui pengajarannya.

“Saya juga ingin madif (mahasiswa difabel) Tuli bisa menjadi guru Tuli bagi generasi berikutnya,” tambahnya.

Cita-cita profesional Fasya tak hanya berhenti pada pengajaran BISINDO. Ia bercita-cita kelak menjadi programmer IT Tuli dan ingin menjadi dosen agar bisa mengajar mahasiswa Tuli.

Fasya pun berhasil menyelesaikan studi dan menjadi wisudawan UB periode IX tahun ajaran 2025/2026 pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Neyla Vista Maramy

Selain Fasya, ada satu wisudawati yang menunjukkan prestasi baik di UB. Dia adalah Neyla Vista Maramy, peneliti minasarua dengan IPK sempurna.

Neyla mengukir prestasi gemilang melalui penelitian minasarua, minuman tradisional khas Bima. Mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian UB tersebut juga merupakan penerima beasiswa program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Minasarua tidak hanya dinilai dari nilai gizinya. Neyla menekankan bahwa minuman ini memiliki nilai historis dan ilmiah, memanfaatkan bahan seperti rempah-rempah, tapai ketan hitam, dan gula merah.

“Secara ilmiah, masing-masing bahan berperan sebagai sumber energi dan kaya antioksidan,” katanya.

Pangan Fungsional Berlandaskan Kearifan Lokal

Melalui studi in silico, in vitro, dan in vivo, ia menemukan bahwa Minasarua berpotensi sebagai anti-fatigue dan imunomodulator, sehingga bisa menjadi pangan fungsional yang berlandaskan kearifan lokal.

Penelitian Neyla tidak hanya berperan sebagai karya ilmiah pribadi, tetapi juga sebagai jembatan antara pengetahuan tradisional dan sains modern.

“Penelitian ini juga menjadi kontribusi dalam pengembangan dan pelestarian produk lokal Indonesia melalui pendekatan ilmiah yang komprehensif,” jelasnya.

Gairah mengajar dan semangat berinovasi mendorong Neyla untuk menjadi dosen, melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia juga menorehkan prestasi luar biasa dengan menyelesaikan studi Magister dalam 1,5 tahun dan Doktor dalam 2,5 tahun, termasuk studi di Korea selama lima bulan. PMDSU dinilainya sebagai program yang tepat bagi mereka yang menyukai tantangan.

Fasya dan Neyla dikenal sebagai contoh nyata bagaimana bakat yang berbeda—keterampilan bahasa isyarat dan penelitian di bidang pangan tradisional—dapat berdampak luas bagi komunitas kampus maupun masyarakat luas.

Read Entire Article