Suriah Tuding Israel Kampanye Destabilisasi Mematikan, Imbas Gelombang Serangan Tewaskan 13 Orang

19 hours ago 5

Liputan6.com, Damaskus - Suriah menuduh Israel pada hari Kamis (3/4) melancarkan kampanye destabilisasi yang mematikan setelah gelombang serangan menghantam target militer, termasuk bandara, dan serangan darat menewaskan 13 orang.

Sementara itu, mengutip pemberitaan AFP, Kamis (3/4/2025), Israel mengatakan bahwa mereka menanggapi tembakan dari orang-orang bersenjata selama operasi di Suriah selatan, dan memperingatkan Presiden sementara Ahmed al-Sharaa bahwa ia akan menghadapi konsekuensi berat jika keamanannya terancam.

Israel dilaporkan telah melakukan kampanye pengeboman yang luas terhadap aset militer Suriah sejak pemberontak yang dipimpin Islamis menggulingkan orang kuat lama Bashar al-Assad pada November 2024. Israel juga telah melakukan serangan darat ke Suriah selatan dalam upaya untuk menjauhkan pasukan pemerintah baru dari perbatasan.

Pihak berwenang di provinsi selatan Daraa mengatakan sembilan warga sipil tewas dan beberapa lainnya terluka dalam penembakan Israel di dekat Kota Nawa.

Pemerintah provinsi mengatakan pemboman itu terjadi di tengah serangan darat terdalam Israel ke Suriah selatan sejauh ini.

Syrian Observatory for Human Rights mengatakan korban tewas adalah orang-orang bersenjata setempat yang terbunuh "ketika mencoba menghadapi pasukan Israel, menyusul seruan dari masjid-masjid di daerah itu untuk berjihad melawan serbuan Israel".

Menurut militer Israel, pasukannya tengah melakukan operasi di daerah Tasil, dekat Nawa, "menyita senjata dan menghancurkan infrastruktur teroris" ketika "beberapa orang bersenjata menembaki pasukan kami".

Mereka "merespons dengan menembaki mereka dan melenyapkan beberapa teroris bersenjata dari darat dan udara", kata seorang juru bicara. Tidak ada korban dari pihak Israel.

"IDF (militer) tidak akan membiarkan adanya ancaman militer di Suriah dan akan bertindak melawannya," tambah juru bicara itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuntut pada bulan Februari agar Suriah selatan didemiliterisasi sepenuhnya dan mengatakan pemerintahnya tidak akan menerima kehadiran pasukan pemerintah baru yang dipimpin kaum Islamis di dekat wilayah Israel.

Pada Desember 2024, Netanyahu memerintahkan pasukan untuk memasuki zona penyangga yang dipatroli PBB yang memisahkan pasukan Israel dan Suriah di sepanjang garis gencatan senjata tahun 1974 di Dataran Tinggi Golan.

Promosi 1

Eskalasi yang Tidak Dapat Dibenarkan

Pada hari Rabu (2/4), Israel dilaporkan menyerang target di seluruh Suriah termasuk di wilayah Damaskus.

Kementerian luar negeri Suriah mengatakan serangan tersebut mengakibatkan "kehancuran hampir total" bandara militer di provinsi tengah Hama dan melukai puluhan warga sipil dan tentara.

"Eskalasi yang tidak dapat dibenarkan ini merupakan upaya yang disengaja untuk mengacaukan Suriah dan memperburuk penderitaan rakyatnya," kata Kementerian luar negeri Suriah dalam sebuah pernyataan di Telegram.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membalas dengan peringatan kepada Sharaa di mana ia dengan sengaja merujuk kepada presiden dengan nama samaran yang ia gunakan sebagai komandan pemberontak Islam.

"Saya memperingatkan pemimpin Suriah Jolani: Jika Anda mengizinkan pasukan musuh memasuki Suriah dan mengancam kepentingan keamanan Israel, Anda akan membayar harga yang mahal," kata Israel Katz.

"Aktivitas angkatan udara kemarin di dekat bandara di T4, Hama, dan wilayah Damaskus mengirimkan pesan yang jelas dan berfungsi sebagai peringatan untuk masa mendatang," tambah Israel Katz.

Militer Israel mengatakan pasukannya "menyerang kemampuan militer yang masih berada di pangkalan Suriah di Hama dan T4, bersama dengan lokasi infrastruktur militer tambahan yang tersisa di wilayah Damaskus".

Israel mengatakan ingin mencegah senjata canggih jatuh ke tangan otoritas baru, yang dianggapnya sebagai militan.

Sharaa bersekutu dengan Al Qaeda di Irak setelah invasi pimpinan AS tahun 2003 dan kemudian mendirikan cabang jaringan militan di Suriah sebelum memutuskan semua hubungan.

Kementerian Suriah mengatakan serangan Israel terjadi saat negara itu mencoba bangkit kembali setelah 14 tahun perang, menyebutnya sebagai strategi untuk "menormalkan kekerasan di dalam negeri".

Selama kunjungan ke Yerusalem bulan lalu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan bahwa serangan Israel terhadap Suriah "tidak perlu" dan berisiko memperburuk situasi.

Read Entire Article
Opini Umum | Inspirasi Hidup | Global |