Liputan6.com, Tokyo - Pada awal 1945, Perang Pasifik mencapai titik buntu yang mematikan. Meskipun Amerika Serikat (AS) telah merebut posisi kunci di Iwo Jima, Kekaisaran Jepang menolak menyerah dan justru menyiapkan strategi Ketsu-Go—mobilisasi total warga sipil untuk perlawanan bunuh diri jika terjadi invasi darat.
Menghadapi risiko jutaan korban di pihak sekutu, Washington mencari cara untuk mengakhiri perang tanpa pendaratan pasukan infanteri. Mayor Jenderal Curtis LeMay, komandan Komando Pengebom ke-21, mengambil keputusan radikal setelah pengeboman presisi dari ketinggian tinggi terus gagal akibat angin jet stream.
Sebagaimana dijelaskan dalam catatan teknis U.S. Army Air Forces, jet stream adalah arus angin yang sangat kuat dan cepat di atmosfer bagian atas (troposfer) yang bergerak dari barat ke timur. Di langit Jepang, kecepatan angin ini bisa mencapai kurang lebih 322 kilometer per jam, yang mengakibatkan bom-bom yang dijatuhkan B-29 tertiup jauh dari sasaran pabrik militer. Kegagalan teknis inilah yang mendorong LeMay beralih ke taktik pengeboman area pada malam hari di ketinggian rendah (sekitar 1.500–2.700 meter) guna menghindari pengaruh jet stream.
Berdasarkan laporan United States Strategic Bombing Survey yang diterbitkan tahun 1946, Tokyo dipilih sebagai target utama bukan hanya karena statusnya sebagai ibu kota, tetapi karena struktur industrinya yang unik; mesin perang Jepang tidak hanya diproduksi di pabrik besar, melainkan tersebar di ribuan bengkel kecil di rumah-rumah penduduk. Sejarawan Tami Davis Biddle dalam "Rhetoric and Reality in Air Warfare" mencatat bahwa kepadatan bangunan kayu dan kertas di Tokyo menjadikan kota itu target "ideal" untuk taktik baru: pengeboman menggunakan bom pembakar pada malam hari di ketinggian rendah.
Kronologi Serangan
Operasi yang diberi kode Operation Meetinghouse ini dimulai pada 9 Maret 1945, pukul 17.35 waktu setempat. Sebanyak 334 pesawat B-29 Superfortress lepas landas dari pangkalan di Kepulauan Mariana.
Tepat pukul 00.08 dini hari tanggal 10 Maret, pesawat penanda (Pathfinder) tiba di langit Tokyo untuk membentuk pola 'X' raksasa di atas Distrik Shitamachi sebagai panduan target. Pola api ini dibuat dengan menjatuhkan bom pembakar M-69 yang berisi napalm—zat kimia berbasis bensin yang telah dikentalkan menjadi gel agar dapat terbakar lebih lama pada suhu ekstrem dan melekat kuat pada permukaan bangunan. Hanya berselang tujuh menit, pukul 00.15, gelombang utama serangan dimulai dengan 279 pesawat B-29 yang menumpahkan total 1.665 ton bom M-69.
Begitu unit-unit bom ini menghantam sasaran, muatan napalm di dalamnya muncrat dan mengikatkan api pada struktur kayu serta kertas, seketika mengubah seluruh kawasan padat penduduk itu menjadi lautan api yang tak terkendali
Menurut sejarawan Kenneth P. Werrell dalam "Blankets of Fire", angin kencang malam itu menyatukan ribuan titik api menjadi badai api raksasa yang menyedot oksigen dan menciptakan suhu ekstrem hingga 980 derajat Celsius. Serangan ini berlangsung selama hampir tiga jam hingga pukul 03.00 pagi, saat pesawat terakhir meninggalkan langit Tokyo yang telah memerah.
Korban dan Kehancuran
Ketika Matahari terbit pada pagi 10 Maret 1945, sebagian besar wilayah Tokyo timur telah hancur.
Laporan United States Strategic Bombing Survey mencatat sekitar 41 kilometer persegi wilayah kota musnah, sementara lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggal.
Jumlah korban tewas diperkirakan antara 80.000 hingga lebih dari 100.000 orang hanya dalam satu malam. Sejarawan Richard Rhodes dalam bukunya "The Making of the Atomic Bomb" menyebut angka ini menjadikan serangan Tokyo sebagai serangan udara paling mematikan dalam satu malam dalam sejarah.
Sebagian besar korban meninggal akibat kebakaran, runtuhnya bangunan, atau menghirup asap tebal saat mencoba menyelamatkan diri.
Operation Meetinghouse menjadi bagian penting dari tahap akhir Perang Dunia II di kawasan Pasifik. Setelah peristiwa ini, AS melanjutkan serangan udara menggunakan bom pembakar terhadap banyak kota Jepang lainnya.
Sejarawan Tsuyoshi Hasegawa dalam "Racing the Enemy" mencatat bahwa kehancuran besar di Tokyo menunjukkan semakin rapuhnya kemampuan Jepang mempertahankan kotanya dari serangan udara menjelang berakhirnya perang pada tahun 1945.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524823/original/016537400_1773015313-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5312382/original/058803300_1754958946-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524822/original/062327900_1773012804-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510715/original/057824500_1771836342-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4928474/original/073159500_1724676923-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524253/original/002395900_1772926454-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1548580/original/063560300_1490604445-20170327-Kasim.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524008/original/089650700_1772882597-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523472/original/075002900_1772839836-1.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293741/original/045684500_1753341485-2148817396.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355962/original/087526300_1758388524-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5375172/original/076301400_1759912975-WhatsApp_Image_2025-10-08_at_3.21.23_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5421473/original/046767000_1763906676-Sarmila_wati.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5410431/original/071573100_1762932802-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419257/original/042198300_1763651316-photo_2025-11-20_21-21-14.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427236/original/042414200_1764338646-FOD.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407787/original/057126800_1762754875-Marc_Cucurella__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360415/original/611719069-picture-frustrated-young-dark-haired-female-studying-skin-her-arm-after-she-fell-off-bike-student-girl-dressed-stylish-striped-t-shirt-looking-her-elbow-feeling-itch-pain_343059-1454__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441248/original/084139500_1765462277-1000257193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4839034/original/095965500_1716300898-lifestyle-child-wheelchair_23-2149158049.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430647/original/095128500_1764668680-WhatsApp_Image_2025-12-02_at_16.43.15_c2c5627c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400168/original/005067900_1762067797-000_1DL27K.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)