Liputan6.com, Seoul - Penumpang yang bepergian menggunakan kereta bawah tanah di Korea Selatan mungkin pernah menjumpai kursi tanpa pelapis kain sehingga terasa lebih licin dari biasanya. Mereka yang jeli juga mungkin memperhatikan adanya tuas pembuka pintu manual, masker gas, dan senter di dalam kereta maupun di peron stasiun.
Berbagai fasilitas tersebut merupakan bagian dari sistem keselamatan yang diterapkan setelah Korea Selatan mengalami salah satu tragedi paling kelam dalam sejarahnya: serangan pembakaran di kereta bawah tanah Kota Daegu pada 18 Februari 2003.
Pada 19 Februari 2003, surat kabar The Korea Herald memuat tajuk utama berbunyi "Subway arson attack kills 130" atau "Serangan pembakaran kereta bawah tanah menewaskan 130 orang". Namun, angka korban jiwa awal itu ternyata jauh dari jumlah akhir. Total korban meninggal dunia mencapai 192 orang, menjadikannya kejahatan tunggal paling mematikan dalam sejarah Korea Selatan.
Tiga jenazah rusak parah sehingga tidak dapat diidentifikasi melalui tes DNA, sementara tiga lainnya tidak pernah diklaim oleh keluarga. Tragedi ini menjadi titik balik besar yang memicu perombakan menyeluruh sistem keselamatan di jaringan metro di seluruh negeri. Meski kebakaran dipicu oleh satu individu, lemahnya prosedur penanganan darurat saat itu turut menyebabkan tingginya jumlah korban.
Kronologi Kejadian
Mengutip laporan The Korea Herald, peristiwa terjadi sekitar pukul 09.30 waktu setempat, ketika kereta metro nomor 1079 tiba di Stasiun Songhyeon, Daegu. Di antara penumpang yang naik terdapat pria berusia 56 tahun bernama Kim Dae-han.
Kim membawa dua liter bensin yang disimpan dalam botol sampo serta sebuah korek api. Ia sebelumnya didiagnosis mengalami gangguan mental tingkat dua pada 2001 akibat stroke yang membuatnya mengalami disabilitas dan kehilangan pekerjaan. Sepuluh hari sebelum kejadian, ia sempat mengancam akan membakar sebuah rumah sakit jiwa.
Sekitar 20 menit kemudian, setelah kereta 1079 tiba di Stasiun Jungangno, Kim menyalakan bensin tersebut dan melemparkannya ke lantai gerbong. Seorang saksi perempuan berusia 35 tahun bermarga Seok mengatakan para penumpang di sekitarnya berusaha menghentikannya, namun ia tetap menyalakan api dan kemudian melarikan diri.
Tiga menit setelah kebakaran terjadi, kereta metro nomor 1080 memasuki Stasiun Jungangno dari jalur berlawanan dan berhenti di peron. Masinis kereta tersebut menerima pesan, "Lanjutkan perjalanan dengan aman. Ada kebakaran di Stasiun Jungangno."
Sementara itu, pada saat yang sama, stasiun sudah dipenuhi asap tebal dan aliran listrik terputus. Baik masinis kereta 1080 maupun pusat kendali metro tidak memahami seberapa serius kondisi yang sedang terjadi. Para penumpang di dalam kereta 1080 juga tidak menyadari besarnya bahaya.
Beberapa menit kemudian, masinis berusaha berkomunikasi dengan pusat kendali untuk meminta instruksi. Ia juga mencoba mengaktifkan generator listrik cadangan setelah aliran listrik terputus, tetapi generator tersebut tidak berfungsi.
Setelah akhirnya menerima perintah untuk mengevakuasi penumpang, masinis kereta 1080 meninggalkan kereta sambil membawa kunci utama sesuai instruksi. Pencabutan kunci tersebut menghentikan hampir seluruh fungsi kereta, termasuk sistem pembukaan dan penutupan pintu.
Akibatnya, banyak penumpang masih berada di dalam gerbong ketika asap semakin tebal. Sejumlah penumpang sempat menghubungi keluarga mereka sebelum akhirnya meninggal dunia.
Dalam salah satu percakapan yang kemudian dilaporkan media lokal, seorang ibu berkata kepada putrinya yang berada di dalam kereta, "Ikuti penumpang lain untuk keluar dengan selamat."
Putrinya menjawab, "Tetapi pintunya tidak bisa dibuka, bu."
Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Lebih dari 100 orang tewas di dalam kereta nomor 1080 saja.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4373616/original/042892900_1679963213-Israel-Netanyahu-AFP-800x500-780x470.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/768743/original/079922500_1416393926-800px-Lyndon_B._Johnson_taking_the_oath_of_office__November_1963.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567610/original/070744600_1777294514-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567164/original/047554500_1777268280-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566928/original/049803500_1777261071-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566757/original/089781000_1777248097-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3506454/original/048190800_1625843212-ilustrasi-gempa-bumi-istock--2_ratio-16x9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566059/original/031220600_1777109982-Watermark_Landscape_Baru.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566010/original/036839400_1777104760-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5145770/original/018147600_1740733515-Al_Aqsa_11_februari.jpg)










:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477859/original/053823700_1768883478-disabilitas_kab_probolinggo.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457498/original/029853000_1767002852-WhatsApp_Image_2025-12-29_at_15.31.11_3f186a85.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473955/original/050209800_1768462709-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1216325/original/021439400_1461734180-dokter.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5425992/original/049039500_1764245301-20251126AA_PMPC_Persija_Vs_PSIM-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493594/original/084966300_1770260452-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5461255/original/043750800_1767354469-20260102AA_PMPC_Persija_Jakarta_Jelang_Lawan_Persijap_Jepara-12.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482139/original/022541100_1769162196-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460719/original/079940300_1767274638-WhatsApp_Image_2026-01-01_at_20.17.11.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471330/original/010256700_1768283654-John_Herdman_-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4779777/original/024592200_1711004833-IMG_1798.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432108/original/063647300_1764756771-20142.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452898/original/039508500_1766462162-guru_hina_difabel.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468640/original/049006500_1767964837-pus2.jpg)