Manusia Makhluk Antroposen di Kue Donat 

1 month ago 50

Liputan6.com, Jakarta - Pekan lalu saya sudah menjelaskan mengapa sustainability sangat penting. Pekan ini saya akan melanjutkan dengan konsep lain yang dikembangkan untuk mengoperasionalkan prinsip-prinsip sustainability, yaitu planetary boundaries atau batas aman bumi.

Mengapa planetary boundaries perlu mendapat tempat berikutnya setelah sustainability? Karena sustainability tanpa pemahaman tentang batas aman bumi ibarat berlayar tanpa peta. Kita tahu harus menjaga keseimbangan, tapi tidak tahu di mana batas-batas kritisnya. Batas aman bumi memberikan kerangka sains konkret tentang ambang yang jika dilanggar akan membuat bumi keluar dari zona aman yang telah menopang peradaban manusia selama ini.

Zona aman ini memiliki nama era Holosen, periode stabil yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu setelah zaman es terakhir. Di era Holosen, iklim bumi stabil untuk memungkinkan pertanian, kota, dan peradaban berkembang. Manusia menyesuaikan diri dengan musim, sungai, hutan, dan iklim yang relatif dapat diprediksi. Alam menentukan arah perjalanan, manusia belajar bertahan di dalamnya.

Namun kini, ilmuwan berpendapat kita telah memasuki era baru: Antroposen. Pada tahun 2000, ilmuwan Paul Crutzen mengusulkan istilah ini untuk menandai zaman ketika manusia menjadi kekuatan utama yang mengubah planet. Bumi tetap bekerja dengan hukum alam, tetapi manusia sekarang mengubah suhu "mesin" lewat emisi karbon, mengubah arus air dan daratan lewat bendungan dan tambang, serta meninggalkan jejak permanen seperti plastik dan beton. Tentang Antroposen ini, The Economist menulisnya sebagai sampul pada 2011.

Holosen itu seperti manusia menjadi penumpang kapal alam. Antroposen ibarat manusia sudah duduk di ruang kemudi. Kita sudah memegang setir, tetapi belum sepenuhnya tahu cara mengemudikan kapal sebesar planet. Di sinilah batas aman bumi menjadi penting.

Jika Antroposen adalah era di mana kita memegang kemudi, maka batas aman bumi adalah dashboard instrumen yang menunjukkan seberapa jauh kita boleh belok, seberapa cepat boleh melaju, dan kapan harus mengerem sebelum semuanya tak terkendali.

**

Belum lama ini, sebuah kisah menjadi viral di media sosial. Di Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten, pasangan Sri Widodo dan Nurul Fitri Hidayati menjalani kehidupan yang berbeda dari kebanyakan orang. Di lahan sekitar 500 meter persegi di pekarangan rumah mereka, sayuran tumbuh berdampingan dengan kolam lele dan kandang ayam. Limbah dapur diolah menjadi kompos, sebagian menjadi pakan ternak melalui budidaya maggot. Kebutuhan pangan sehari-hari sebagian besar dipenuhi dari kebun sendiri. Mereka menyebutnya homestead, hidup mandiri pangan. Pelan, sederhana, dan selaras dengan alam.

Tak jauh dari Klaten, Reporter Liputan6.com meliput aktivitas Taufik Azhari atau Ziarry yang melakukan eksperimen hidup dengan nama Piramida Projects. Di sebuah kompleks perumahan di Yogyakarta, gemericik air kolam lele berpadu dengan suara ayam petelur dan rimbun tanaman sayur di halaman rumah. Proyek integrasi pertanian kecil, peternakan, dan pengelolaan limbah itu berhasil menekan pengeluaran pangan hingga sekitar 70 persen.

Bagi Ziarry, ini bukan sekadar soal ekonomi rumah tangga, melainkan perjalanan spiritual dan sosial. Ia menyebutnya sebagai cara berdamai dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan alam.

Kedua cerita ini mungkin tampak kecil. Namun di dalamnya ada gagasan besar yang sebenarnya sangat tua dalam kebudayaan Jawa, urip prasaja lan samadya. Hidup sederhana dan secukupnya. Sadar akan batas.

Bagi generasi 90-an yang kerap mendengarkan drama radio Misteri Gunung Merapi dengan lakon Sembara, pasti mengenal istilah Hutan Larangan, tempat yang tidak boleh dijamah manusia karena angker. Ada Mak Lampir di hutan itu. 

Dalam banyak masyarakat tradisional Nusantara, ternyata konsep hutan larangan benar-benar ada. Dengan embel-embel mistis, hutan larangan menggambarkan kawasan yang tidak boleh ditebang atau dimanfaatkan sembarangan.

Bukan karena masyarakat tidak membutuhkan kayu atau lahan, melainkan karena mereka memahami sesuatu yang sederhana yaitu alam punya batas. Hutan larangan adalah cara menjaga keseimbangan. Ia adalah bentuk kearifan yang lahir dari pengalaman panjang hidup bersama alam. Di sana, filosofi samadya bekerja. Mengambil secukupnya agar kehidupan tetap berlangsung. Tidak berlebihan. Tidak merusak sumber kehidupan.

Apa yang dipahami secara intuitif oleh masyarakat tradisional Nusantara lewat hutan larangan, kini dijelaskan oleh sains modern lewat konsep planet boundaries atau batas aman bumi. Pada 2009, Johan Rockstrom dari Stockholm Resilience Centre mengidentifikasi sembilan ambang batas kritis sistem Bumi, mulai dari perubahan iklim hingga kehilangan keanekaragaman hayati. Mereka menyebutnya sebagai "ruang operasi yang aman bagi umat manusia," zona di mana peradaban bisa berkembang tanpa memicu perubahan lingkungan yang tak terkendali.

Namun planetary boundaries hanya menjelaskan batas atas, seberapa jauh kita boleh mengeksploitasi planet. Pertanyaan berikutnya: Bagaimana memastikan semua orang hidup layak tanpa melampaui batas tersebut?

Di sini ekonom Kate Raworth menghadirkan model Doughnut Economy pada 2017. Bayangkan sebuah donat, lingkaran luar adalah batas aman bumi yang tidak boleh dilanggar, lingkaran dalam adalah fondasi minimum yang harus dipenuhi setiap manusia. Antara lain akses ke makanan, air bersih, kesehatan, pendidikan, dan energi. Zona aman umat manusia berada di tengah-tengahnya, di ruang donat itu: cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tanpa melampaui kemampuan planet.

Ini adalah terjemahan visual dari samadya dalam bahasa ekonomi modern yaitu hidup dalam batas yang adil dan aman. Terlalu sedikit, manusia menderita. Terlalu banyak, planet rusak. Yang kita butuhkan ada di tengah. Secukupnya.

Raworth menunjukkan bahwa banyak negara kaya sudah melampaui batas ekologi sementara tetap membiarkan sebagian warganya di bawah fondasi sosial. Sebaliknya, negara miskin sering belum memenuhi kebutuhan dasar warganya meski jejak ekologisnya masih rendah. Tantangannya, bagaimana seluruh umat manusia masuk ke zona donat. Tidak ada yang kekurangan, tidak ada yang berlebihan.

Kembali ke pekarangan Sri Widodo di Klaten dan halaman rumah Ziarry di Yogyakarta. Mereka berdua sedang mempraktikkan kehidupan di dalam zona donat. Mereka memenuhi kebutuhan dasar dari sistem yang mereka kendalikan sendiri, tanpa mengeksploitasi sistem bumi secara berlebihan. Limbah menjadi sumber daya. Konsumsi dikendalikan oleh produksi lokal. Kecukupan menggantikan kelebihan.

Mereka menunjukkan bahwa hidup di dalam batas bukan berarti kembali ke gua atau menolak peradaban. Ini tentang mengembalikan kendali, dan menghormati batas, baik batas planet maupun batas kebutuhan sendiri.

Nenek moyang kita menyebutnya samadya. Dunia modern menyebutnya ekonomi donat. Apapun namanya, pesan inti tetap sama: yang kita butuhkan bukan pertumbuhan tanpa batas, melainkan kebijaksanaan untuk tahu kapan harus berhenti.

Read Entire Article