Hizbullah Siap Hadapi Perang Panjang, Israel Ancam Infrastruktur Lebanon

11 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Jumat, 13 Maret 2026, menyatakan bahwa kelompoknya siap menghadapi konflik jangka panjang dengan Israel. Pernyataan itu muncul setelah Israel memperingatkan bahwa Lebanon akan membayar “harga yang semakin mahal” melalui kerusakan infrastruktur nasional.

Lebanon terseret ke dalam konflik di Timur Tengah pekan lalu, ketika kelompok militan yang didukung Teheran tersebut melancarkan serangan terhadap Israel. Serangan itu dilakukan sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pidato televisi keduanya sejak perang terbaru dimulai, Qassem menegaskan kesiapan Hizbullah menghadapi konflik berkepanjangan.

"Kami telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi yang panjang, dan Insyaallah, mereka (orang-orang Israel) akan terkejut di medan perang," kata Qassem, dikutip Sabtu (14/3/2026), dilansir dari Channel News Asia.

"Ini adalah pertempuran eksistensial, bukan pertempuran yang terbatas atau sederhana," sambungnya.

Pada hari yang sama, Israel menghancurkan sebuah jembatan di atas Sungai Litani yang menghubungkan kota Zrariyeh dan Tayr Falsay, menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA). Sungai tersebut membelah Lebanon selatan dari timur ke barat.

Militer Israel dalam pernyataannya menyebut jembatan itu sebagai “penyeberangan kunci” bagi Hizbullah “dari Lebanon utara ke selatan Lebanon, untuk membangun kekuatan dan mempersiapkan pertempuran”.

Serangan tersebut menjadi serangan pertama terhadap infrastruktur publik Lebanon yang secara terbuka diakui Israel sejak perang terbaru di kawasan itu dimulai.

"Ini baru permulaan dan pemerintah Lebanon serta negara Lebanon akan membayar harga yang semakin mahal berupa kerusakan pada infrastruktur nasional Lebanon yang digunakan oleh teroris Hizbullah," kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, Jumat.

Ia juga memperingatkan bahwa Lebanon akan mengalami “kehilangan wilayah - sampai memenuhi komitmen utamanya untuk melucuti Hizbullah”.

Awal pekan ini, Presiden Lebanon Joseph Aoun menawarkan untuk melakukan negosiasi langsung dengan Israel. Namun pada Jumat, ia menyatakan belum menerima tanggapan.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Kamis, bahwa ia telah memperingatkan pemerintah Lebanon.

"Kalian bermain dengan api jika terus membiarkan Hizbullah beroperasi, melanggar komitmen kalian untuk melucuti mereka," ujarnya.

Militer Israel juga membombardir beberapa jalan di Lebanon selatan pada Jumat, menurut NNA. Serangan tersebut memutus akses dari wilayah utara Sungai Litani dan dari Lembah Bekaa, wilayah timur yang sering digunakan Hizbullah untuk mengangkut persenjataan.

NNA juga melaporkan bahwa tembakan artileri Israel mengenai batalion Nepal dari Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) di kota perbatasan Mays al-Jabal.

Hentikan Perang

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan penghentian perang antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran saat memulai kunjungannya ke Beirut pada Jumat.

"Seruan kuat saya kepada pihak-pihak tersebut, kepada Hizbullah dan kepada Israel, adalah untuk gencatan senjata guna menghentikan perang," tutur Guterres.

Guterres juga meluncurkan seruan bantuan kemanusiaan senilai  325 juta USD untuk membantu Lebanon menangani pengungsian ratusan ribu orang akibat perang.

Serangan Israel terus berlanjut pada Jumat. Salah satunya menewaskan delapan orang di desa Miyeh w Miyeh, Lebanon selatan, dekat kota pelabuhan Sidon, menurut kementerian kesehatan.

Di desa terdekat Irkey, seorang warga bernama Mohammad Taqi menguburkan empat putrinya yang berusia antara enam hingga 13 tahun. Mereka tewas dalam serangan Israel pada Kamis bersama lima anggota keluarga lainnya.

Dengan kepala dibalut perban putih dan wajah penuh luka, ia berbicara kepada AFP saat pemakaman.

"Musuh Israel mengatakan setiap hari bahwa mereka menargetkan infrastruktur," kata dia. "Apakah ini infrastruktur? Apakah kalian melihatnya?," sambungnya sembari menunjuk ke arah jenazah anak-anaknya.

"Saya kehilangan empat putri. Saya tidak punya yang lain. Zainab, Zahra, Malika dan Yasmina," ungkapnya, seraya menambahkan bahwa ia juga kehilangan orang tua, saudara laki-laki, keponakan, dan saudara iparnya dalam serangan yang sama.

Di kota Sawaneh, Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan sebuah serangan juga menewaskan dua petugas medis. Salah satunya berasal dari Komite Kesehatan Islam yang berafiliasi dengan Hizbullah, sementara yang lain dari asosiasi Risala Scouts, organisasi yang terkait dengan gerakan Amal, sekutu Hizbullah.

Selebaran Propaganda

Pada Jumat, Hizbullah juga melancarkan serangan terhadap pasukan Israel sebagai bagian dari operasi yang mereka sebut sebagai operasi Hari Quds.

Hari Quds merupakan demonstrasi tahunan di Iran yang mendukung perjuangan Palestina dan diselenggarakan setiap Jumat terakhir pada bulan suci Ramadan.

Militer Israel kembali mengeluarkan peringatan evakuasi, termasuk bagi warga di pinggiran selatan Beirut. Menurut NNA, sejumlah serangan udara kembali menghantam wilayah tersebut.

Sehari sebelumnya, Israel telah memperluas zona evakuasi di Lebanon selatan hingga lebih dari 40 kilometer dari perbatasan Lebanon–Israel.

Pesawat Israel juga menjatuhkan selebaran propaganda di atas Beirut pada Jumat.

Salah satu selebaran yang ditujukan kepada rakyat Lebanon berbunyi:

"Kalian harus melucuti Hizbullah, perisai Iran" dan "Lebanon adalah keputusan kalian, bukan milik orang lain".

Sumber: AFP/ss

Read Entire Article