Uji Klinis Vaksin Tuberkulosis Hampir Rampung, Menkes Budi Harap Bisa Dirilis pada 2029

9 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan saat ini uji klinis tahap 3 vaksin tuberkulosis hampir selesai. Sejauh ini, hasil yang ditunjukkan dinilai cukup menjanjikan dan membuka harapan baru dalam penanggulangan TB.

"Kita sudah hampir selesai untuk clinical trial ketiga. Hasilnya bagus," tutur Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Jakarta, Senin, 20 April 2026 dipantau secara daring.

Terkait itu, Budi pun menuturkan bahwa Biofarma kini tengah menyiapkan fasilitas produksi saat memproduksi vaksin tuberkulosis.

Harapannya vaksin tuberkulosis itu bisa diluncurkan pada 2029. "Kita berharap diluncurkan 2029. Tadinya 2032, tapi saya bilang supaya bisa di 2029," kata Budi.

Tak Hanya Vaksin, Obat Tuberkulosis 1 Bulan Jadi Harapan Baru

Selain vaksin, harapan baru dalam penanggulangan tuberkulosis juga datang lewat obat. Saat ini tengah dikembangkan obat untuk melawan bakteri penyebab TB Mycobacterium tuberculosis.

Budi menerangkan bahwa saat ini di Amerika Serikat telah dilakukan uji klinik fase 2 obat tuberkulosis yang memiliki durasi pengobatan hanya satu bulan konsumsi diikuti dengan penyuntikan di bulan berikutnya.

Obat yang masih dalam tahap penelitian ini tengah menunggu approval dari U.S. Food and Drug Administration (FDA). Bila FDA memberikan persetujuan maka akan dilakukan uji klinik tahap 3.

Budi mengajukan Indonesia menjadi tempat uji klinik tahap 3 obat tersebut. "Kita menawarkan diri, di Indonesia saja, sehingga pasien Indonesia bisa dapat duluan," tutur Budi.

Harapan pada Obat Vaksin TB 1 Bulan

Obat yang tengah dikembangkan ini cara kerjanya dengan dikonsumsi selama sebulan lalu disuntik. Berbeda halnya dengan obat TB resisten yang mesti mengonsumsi obat selama 6 bulan atau  makan obat 4 bulan untuk TB Sensitif.

"Jadi ini (obat TB yang sedang diteliti) satu bulan makan obat, kemudian disuntik," tuturnya.

Budi mengungkapkan bahwa secara teori bakteri penyebab TB sulit dimusnahkan. Maka dari itu mesti mengonsumsi obat selama 4 bulan. Namun, mengonsumsi obat selama empat bulan sangat menantang karena pasien bisa berhenti di tengah jalan, maka dari itu dikembangkan obat yang bisa dikonsumsi satu bulan saja disusul suntikan.

"Kenapa ga obat saja? Obat itu kalau sudah masuk kan akan keluar, nah kalau disuntik, itu kan darah mutar tersus, obat yang tadinya pil antibiotik itu akan diganti, yang tadinya masuk ke saluran pencernaan menjadi ke darah," tutur Budi.

"Kalau ini jadi, akan menjadi inovasi besar dalam pengobatan tuberkulosis. "Ia pun berharap, obat TB satu bulan tersebut bisa dirilis pada 2029.

Mengapa Ajukan Indonesia Sebagai Tempat Uji Klinis Fase 3 Obat TB?

Budi menerangkan alasan mengajukan Indonesia menjadi tempat uji klinis fase 3 obat tuberkulosis terbaru.

Ia mengatakan bahwa ketika suatu obat sudah melewati uji klinis fase 1 dan 2 . Ini berarti telah membuktikan keamanan (safety) dan efektivitas (efikasi).

Pada fase 3, pengujian dilakukan dalam skala populasi yang lebih besar untuk melihat bagaimana obat bekerja di kondisi nyata yang lebih beragam.

"Clinical trial level 3 memang dibutuhkan untuk melihat penerapannya di skala populasi besar. Dan, kami melihat kadang tiap negara punya genetik berbeda," tutur Budi.

Ia mencontohkan vaksin malaria yang sudah dirilis. Vaksin tersebut cocok untuk masyarakat di Afrika karena uji klinis dilakukan di sana. "Begitu ditaruh di Indonesia, beda."

Sehingga dengan menjadikan Indonesia sebagai lokasi uji klinis fase 3 itu untuk memudahkan dalam modifikasi dengan populasi kita.

"Justru dengan menjadi site clinical trial, kecocokan atau modifikasi terapi bisa disesuaikan dengan masyarakat kita. Selain masyarakat juga mendapatkan akses lebih dulu," kata Budi.

Read Entire Article