Selebgram Kena Campak tapi Masih Keluyuran, Kemenkes: Tingkat Penularannya Sangat Tinggi

9 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan seorang selebgram atau sosok seleb di Instagram menjadi buah bibir warganet gegara keluyuran saat terkena campak

Terkait kejadian ini, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Andi Saguni memberi tanggapan.

“Campak itu sangat tinggi tingkat penularannya dari satu orang bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang. Jadi, jika sedang sakit, sebaiknya menahan diri dulu membatasi aktivitasnya hingga benar-benar sembuh agar tidak menular ke keluarga atau orang sekitarnya,” kata Andi dalam dalam konferensi pers daring, Jumat (6/3/2026).

Andi menambahkan, mestinya sebagai seorang influencer atau pemengaruh maka yang bersangkutan tidak melakukan hal tersebut.

“Mestinya sebagai influencer tidak melakukan itu karena bisa memengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat,” tambahnya.

Bagi orang yang sudah terlanjur bertemu dengan selebgram tersebut ketika sakit, Andi mengimbau untuk melakukan pemantauan kesehatan mandiri.

“Jadi misalkan terkena demam, apalagi kalau ada ruam, sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, segera,” imbaunya.

Kematian Akibat Campak Selama 2026

Di kesempatan yang sama, Andi menyampaikan bahwa total ada enam orang meninggal akibat campak di Indonesia selama minggu pertama hingga ke-8 pada tahun 2026.

“Ada penambahan satu kasus meninggal dibanding minggu ke-7,” katanya.

Andi menambahkan, keenam pasien meninggal ini tidak memiliki riwayat imunisasi campak sama sekali. Padahal, imunisasi campak diperlukan anak sebanyak dua dosis.

“Ada enam pasien meninggal selama 2026 ini, keenam pasien yang meninggal tersebut tidak mempunyai riwayat imunisasi meski hanya sekali. Imunisasi campak itu kan harus dua kali, pada umur 9 bulan dan 18 bulan.”

“Namun, dari enam kasus yang meninggal ini sama sekali tidak ada riwayat imunisasi,” imbuhnya.

Keenam kasus meninggal ini merupakan kelompok usia balita (bawah lima tahun). Dan sebelum meninggal, para pasien mengalami komplikasi yang berujung fatal.

“Penyebab kematiannya (komplikasi fatal) adalah diare, pneumonia atau radang paru, dan bronkopneumoni,” jelas Andi.

Kemenkes Dorong Imunisasi Campak

Sebelumnya, dia menjelaskan bahwa tren kasus suspek campak meningkat pada Januari dan mulai menurun sepanjang Februari 2026. Hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Hingga kini, total ada 10.453 suspek campak, bertambah 506 dari minggu sebelumnya. Sementara, kasusnya mencapai 8.372, bertambah 450 kasus dari minggu sebelumnya yakni minggu ke-7 2026.

Guna menurunkan kasus campak di Indonesia, Kemenkes melakukan respons dengan mendorong Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign (imunisasi kejar) di daerah terdampak KLB.

Untuk itu, Kemenkes menetapkan 102 Kabupaten/Kota terdampak untuk pelaksanaan ORI dan Imunisasi Kejar. ORI dilakukan di wilayah KLB, sementara imunisasi kejar dilakukan pada wilayah berisiko KLB.

“Sasaran prioritasnya usia 9-59 bulan dan targetnya kita optimalkan pada Maret 2026 ini. Di mana lokaso pelayanan dilakukan di Puskesmas, Posyandu, tempat ibadah, satuan pendidikan (PAUD/TK), pos pelayanan mudik, dan dari rumah ke rumah,” kata Andi.

Read Entire Article