Sambut Musim Mudik Lebaran, Kemenkes Siapkan 7000 Posko Kesehatan

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Menyambut musim mudik Lebaran 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyiapkan sekitar 7000 posko kesehatan.

“Posko 7000-an kita bikin, baik di jalan tol maupun di jalan biasa. Kalau masalah kesehatan yang paling besar kan sebenarnya karena kecelakaan. Nah kita sudah ada program cek kesehatan pengemudi supaya pada saat mereka nyetir, mereka kondisinya fit, menghindari kecelakaan,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) saat ditemui di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Selain kecelakaan mobil, kecelakaan lain yang sering terjadi adalah motor. Sepeda motor tidak melintas di jalan tol sehingga posko kesehatan juga perlu ada di jalan biasa.

“Sekarang udah kerja sama dengan Pak Menteri Perhubungan kita mau coba bikin posko kesehatan di masjid, daripada di puskesmas, orang kan berhenti lebih banyak kalau salat kan, di masjid-masjid sepanjang jalur Pantura kita akan pasang pos-pos kesehatan,” jelas Budi.

Selain bisa cek kesehatan, pemudik juga bisa istirahat, makan, dan buka pusa di posko-posko tersebut.

Budi menambahkan, penambahan fasilitas vaksinasi campak di posko mudik juga merupakan ide bagus. Mengingat, pemudik juga banyak usia anak.

“Memang benar banyak anak-anak, saya pikir boleh juga (ada vaksinasi campak di posko mudik), aku enggak tahu mau dipasang imunisasi campak di beberapa titik posko, idenya sih boleh juga kalau untuk anak-anak,” katanya.

Vaksin Campak Selamatkan Nyawa Anak

Sayangnya, sebagian orangtua enggan memberikan vaksinasi campak kepada anak-anaknya lantaran termakan berita bohong dari kelompok antivaksin.

Menanggapi hal ini, Budi memastikan bahwa vaksin campak diberikan untuk menyelamatkan nyawa anak.

“Apapun yang kita lakukan harusnya untuk menyelamatkan nyawa, banyak narasi-narasi, dari dulu juga COVID seperti itu, tapi dengan bantuan para wartawan kan bisa menjelaskan juga. Ngapain sih buang-buang waktu untuk menjelek-jelekkan suatu hal yang padahal itu menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

Dia menambahkan, campak sudah memakan korban jiwa dan vaksinasi adalah cara terbaik untuk melindungi mereka.

“Kasihan sekali karena campak ini kan yang meninggal sudah ada, karena anaknya tidak diimunisasi, padahal imunisasi sudah ada dan efektif. Sama seperti COVID dulu ini adalah program yang bagus menyelamatkan nyawa anak-anak kita, tolong jangan menyebarkan berita-berita yang malah mendorong agar tidak divaksin,” ujar Budi.

Pasien Meninggal Akibat Campak

Pada 6 Maret 2026, Kemenkes menyampaikan, total ada enam orang meninggal akibat campak di Indonesia selama minggu pertama hingga ke-8 tahun 2026.

“Ada penambahan satu kasus meninggal dibanding minggu ke-7,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Jumat (6/3/2026).

Andi menambahkan, keenam pasien meninggal ini tidak memiliki riwayat imunisasi campak sama sekali. Padahal, imunisasi campak diperlukan anak sebanyak dua dosis.

“Ada enam pasien meninggal selama 2026 ini, keenam pasien yang meninggal tersebut tidak mempunyai riwayat imunisasi meski hanya sekali. Imunisasi campak itu kan harus dua kali, pada umur 9 bulan dan 18 bulan.”

“Namun, dari enam kasus yang meninggal ini sama sekali tidak ada riwayat imunisasi,” tambahnya.

Keenam kasus meninggal ini merupakan kelompok usia balita (bawah lima tahun). Dan sebelum meninggal, para pasien mengalami komplikasi yang berujung fatal.

“Penyebab kematiannya (komplikasi fatal) adalah diare, pneumonia atau radang paru, dan bronkopneumoni,” jelas Andi.

Tren Kasus Campak

Sebelumnya, dia menjelaskan bahwa tren kasus suspek campak meningkat pada Januari dan mulai menurun sepanjang Februari 2026. Hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Hingga kini, total ada 10.453 suspek campak, bertambah 506 dari minggu sebelumnya. Sementara, kasusnya mencapai 8.372, bertambah 450 kasus dari minggu sebelumnya yakni minggu ke-7 2026.

Guna menurunkan kasus campak di Indonesia, Kemenkes melakukan respons dengan mendorong Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign (imunisasi kejar) di daerah terdampak KLB.

Untuk itu, Kemenkes menetapkan 102 Kabupaten/Kota terdampak untuk pelaksanaan ORI dan Imunisasi Kejar. ORI dilakukan di wilayah KLB, sementara imunisasi kejar dilakukan pada wilayah berisiko KLB.

“Sasaran prioritasnya usia 9-59 bulan dan targetnya kita optimalkan pada Maret 2026 ini. Di mana lokasi pelayanan dilakukan di Puskesmas, Posyandu, tempat ibadah, satuan pendidikan (PAUD/TK), pos pelayanan mudik, dan dari rumah ke rumah,” kata Andi.

Read Entire Article