Pemerataan Imunisasi Campak di Daerah, Upaya Kemenkes Tekan Kasus dan Penularan

14 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Imunisasi campak-rubella (MR) adalah langkah paling efektif untuk mencegah penularan campak. Meski secara nasional cakupan imunisasi MR sudah melampaui target, tapi masih ada daerah-daerah yang tingkat imunisasinya rendah.

Desa atau wilayah kecil yang tingkat imunisasi MR-nya belum memadai berpotensi menjadi tempat berkembangnya campak. Desa-desa inilah yang kemudian disebut sebagai ‘kantong-kantong’ campak yang imunisasinya perlu ditingkatkan.

“Secara nasional capaian imunisasi MR sudah melampaui target, tetapi kasus campak masih bisa terjadi jika ada desa atau wilayah tertentu yang cakupannya rendah. Kantong-kantong inilah yang harus menjadi fokus pencegahan,” kata Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti dalam konferensi pers daring, Kamis (26/2/2026).

Mulya menekankan pentingnya melihat data imunisasi hingga tingkat paling bawah.

Untuk itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Andi Saguni menyampaikan bahwa capaian imunisasi nasional terus ditingkatkan untuk melindungi masyarakat dari penyakit yang dapat dicegah ini.

“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Ketika cakupan tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan bisa dihentikan,” kata Andi dalam kesempatan yang sama.

Ia menambahkan, Kemenkes melakukan penguatan imunisasi rutin, imunisasi kejar, serta imunisasi tambahan di wilayah dengan cakupan rendah.

Selain imunisasi, pemerintah juga memperkuat edukasi perilaku hidup bersih dan sehat serta kewaspadaan masyarakat terhadap gejala campak.

Kondisi Terkini Dua Pasien Campak Australia

Andi pun mengungkapkan kondisi terkini dua pasien campak yang berasal dari penerbangan rute Jakarta ke Australia. Dua pasien yang merupakan warga negara asing tersebut kini sudah sembuh dari campak.

Untuk diketahui, sebelumnya ditemukan kasus campak pertama melibatkan seorang perempuan (18) dengan riwayat vaksinasi lengkap dengan riwayat perjalanan dari Indonesia. Penumpang ini menempuh penerbangan rute Jakarta–Perth pada 7-8 Februari 2026. Gejala ruam muncul pada tanggal 8 Februari di Perth.

Lalu, kasus kedua melibatkan anak perempuan berusia enam tanpa riwayat imunisasi yang melakukan perjalanan Jakarta–Sydney pada pertengahan Februari. Yang bersangkutan mengalami gejala demam, batuk dan pilek. Selain Jakarta, yang bersangkutan juga sempat melakukan perjalanan ke Sumatera.

Andi Saguni mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah berkomunikasi dengan otoritas kesehatan Australia. Saat ini, pasien perempuan 18 tahun sudah sembuh dari campak.

"Kami sudah dapat laporan dari otoritas kesehatan Australia, yang bersangkutan sudah sembuh pada 24 Februari 2026," kata Andi.

Begitu juga dengan pasien berusia enam, menurut laporan sudah sembuh dari campak pada 26 Februari 2026.

Sudah Lakukan Surveilans

Usai menerima notifikasi resmi International Health Regulation (IHR) dari Otoritas Kesehatan Australia terkait dua kasus campak itu, Kemenkes RI melakukan penguatan surveilans.

Untuk kasus perempuan 18 tahun, yang bersangkutan tinggal nyaris satu bulan di Indonesia. Kemenkes sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Jawa Barat untuk melakukan penyelidikan epidemiologi kepada orang yang pernah kontak erat dengan yang bersangkutan.

"Selama di Bandung, yang bersangkutan ada kontak erat dangan dua asisten rumah tangga, satu sopir dan kerabat. Namun, tidak ada gejala," kata Andi.

Begitu juga dengan perempuan cilik sudah dilakukan penyelidikan epidemiologi dengan yang kontak erat dengannya tapi tidak ada yang bergejala.

Campak di Negara Lain

Andi mengatakan bahwa campak masih ditemukan di berbagai negara. Thailand, India, Australia, Amerika Serikat, Meksiko, Bolivia dan negara-negara Eropa yang berbatasan dengan Asia melaporkan kasus campak.

"Penyakit ini memang bersifat sangat menular. Pada 2025 tercatat ada 11 ribu kasus campak di Indonesia," kata Andi.

Campak merupakan penyakit yang mudah menular melalui droplet dan airborne transmission dari orang yang terkena campak kepada orang lain saat batuk, bersin atau jika bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi. Campak disebebkan virus campak genus Morbillivirus dari family Paramyxoviridae.

Read Entire Article