, Berlin - Keputusan parlemen Jerman Bundestag untuk meningkatkan anggaran pertahanan secara masif dalam beberapa tahun mendatang berpotensi mengubah seluruh peta industri Jerman.
Kebijakan ini dapat menyebabkan perpindahan pekerjaan, misalnya, dari perusahaan otomotif yang tengah bergumul dengan kesulitan keuangan menuju industri senjata yang tengah berbenah diri, dikutip dari DW Indonesia, Senin (31/3/2025).
Sementara perusahaan-perusahaan industrialis unggulan Jerman seperti Volkswagen tengah mengurangi tenaga kerjanya di tengah penurunan penjualan, produsen tank seperti Rheinmetall, dan rudal jelajah seperti Diehl justru berjuang keras mencari tenaga kerja yang kompeten.
Bagaimana Ledakan Anggaran Eropa Memengaruhi Pekerjaan?
Sebuah studi yang dilakukan oleh firma konsultan EY dan bank Jerman DekaBank mengenai "Dampak Ekonomi dari Investasi Pertahanan Eropa" menghitung bahwa anggota NATO Eropa akan mengucurkan dana sekitar €72 miliar setiap tahunnya untuk memperkuat pertahanan militer mereka.
Investasi tersebut akan menciptakan atau mengamankan sekitar 680.000 lapangan pekerjaan di Eropa, demikian temuan dari studi tersebut.
Sebuah survei yang dilakukan oleh firma konsultan Kearney di Jerman juga menunjukkan bahwa pekerjaan di sektor ini akan mengalami ledakan di seluruh Eropa.
Namun, survei tersebut mencatat, jumlah pasti pekerja terampil yang dibutuhkan bergantung pada seberapa besar negara-negara NATO di Eropa akan meningkatkan belanja pertahanan mereka.
Jika negara-negara tersebut mengalokasikan 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka untuk belanja pertahanan, sebagaimana disarankan oleh pedoman NATO, sekitar 160.000 pekerja terampil akan dibutuhkan di Eropa pada tahun 2030, demikian menurut analisis dari Kearney.
"Jika ada peningkatan moderat (2,5% dari PDB), sekitar 460.000 posisi mungkin tetap kosong, dan dengan peningkatan signifikan (3%), angka tersebut bisa mencapai hingga 760.000 posisi (di Eropa)," tulis para penulis tersebut, seraya menambahkan bahwa para spesialis dalam kecerdasan buatan dan big data sangat dibutuhkan.
Sebuah toko roti di Frankfrut Jerman menjual donat perdamaian sebagai bentuk dukungan pada Ukraina. Donat-donat tersebut dihias dengan topping warna bendera nasional Ukraina, yakni biru dan kuning.
Siapa yang Mendapat Manfaat dari Belanja Pertahanan Eropa?
Basis industri pertahanan Eropa sebagian besar berpusat di Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Swedia.
Jerman, sebagai negara pengekspor senjata terbesar kedua di Eropa, diperkirakan akan menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari pembaruan persenjataan Eropa.
Sektor pertahanan negara ini saat ini mempekerjakan sekitar 60.000 orang, dengan tambahan 90.000 orang yang bekerja di pemasok industri, menurut Klaus-Heiner Röhl, seorang pakar industri dari German Economic Institute yang berkantor di Kota Köln, Jerman.
Dari Mana Pekerja Didatangkan?
Mengingat lonjakan permintaan akan perangkat keras militer seperti artileri, teknologi radar, atau kendaraan lapis baja, para produsen tidak hanya mencari pekerja baru, tetapi juga lokasi produksi yang mampu menangani gelombang pesanan yang datang.
Oleh karena itu, sangat masuk akal untuk merekrut dari industri Jerman yang saat ini tengah menghadapi kesulitan dan mungkin tengah memangkas tenaga kerja mereka.
Oliver Dörre, CEO Hensoldt, sebuah perusahaan pertahanan terkemuka yang berbasis di Jerman, dengan tegas mengakui dalam wawancara dengan kantor berita Reuters bahwa Hensoldt akan "mendapat manfaat dari kesulitan di sektor otomotif."
Hensoldt berfokus pada teknologi sensor untuk misi perlindungan dan pengawasan. Radar mereka yang berperforma tinggi, misalnya, digunakan dalam sistem pertahanan udara Ukraina, bahkan mampu mendeteksi pembom siluman seperti F-35 buatan AS.
Dalam wawancara tersebut, Dörre menyatakan bahwa percakapan sudah dimulai dengan pemasok otomotif Jerman seperti Continental dan Bosch untuk mempekerjakan pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja.
Perusahaan pertahanan KNDS mengumumkan pada Februari bahwa mereka berencana untuk mengambil alih sebuah pabrik di Jerman dari produsen kereta Alstom, yang dijadwalkan untuk ditutup pada 2026.
KNDS ingin mempertahankan sekitar setengah dari 700 pekerja Alstom di sana dan berencana untuk memproduksi komponen dan modul untuk tank Leopard 2 mereka, serta untuk kendaraan lapis baja Puma dan Boxer di pabrik kereta tersebut, dengan produksi yang dijadwalkan dimulai pada 2025.
Produsen senjata Jerman Rheinmetall juga bergantung pada pekerja yang hijrah dari industri otomotif. Laporan terbaru dari media Jerman NDR menyebutkan bahwa setidaknya satu pekerja yang sebelumnya memproduksi komponen khusus untuk industri minyak kini memproduksi laras untuk tank Rheinmetall di sebuah pabrik di Jerman bagian utara.
Apa yang Berhasil dan Apa yang Tidak?
Namun, beralih dari pekerjaan sipil ke pekerjaan di sektor pertahanan tidaklah selalu mudah, ujar Direktur Utama dari perusahaan perekrutan Jerman Heinrich & Coll Eva Brückner: "Peralihan hanya mungkin terjadi pada posisi-posisi tertentu dan peran-peran khusus," ujar Brückner, yang mengkhususkan diri dalam perekrutan untuk industri keamanan dan pertahanan.
Seorang pekerja perakitan yang terampil di Volkswagen tentu bisa melakukan pekerjaan yang sama di perusahaan pertahanan, ungkap Brückner. Demikian pula, seorang insinyur pengembangan dapat beralih ke sektor pertahanan setelah pelatihan ulang.
Namun, untuk peran-peran lainnya, transisinya tidak semudah itu, terutama dalam bidang penjualan atau pengadaan, tambah Brückner.
"Seorang pembeli dari industri otomotif, yang terbiasa dengan pemasok yang selalu siap melaksanakan perintah mereka, tidak bisa begitu saja ditempatkan di sektor pertahanan," ujarnya kepada DW.
Pemeriksaan Keamanan dan Kesempatan di AS
CEO Asosiasi Industri Keamanan dan Pertahanan Jerman, Hans Christoph Atzpodien, mengungkapkan tantangan lain yang dihadapi oleh perusahaan pertahanan ketika merekrut tenaga kerja baru adalah izin keamanan. "Waktu pemrosesan untuk izin tersebut saat ini terlalu lama untuk memungkinkan transisi personel yang cepat," paparnya kepada DW.
Selain itu, Undang-Undang Pemeriksaan Keamanan Jerman, yang mengatur izin bagi karyawan yang bekerja di industri pertahanan, mengacu pada daftar negara (disebut Staatenliste dalam bahasa Jerman) yang dianggap memiliki risiko besar terhadap keamanan nasional, seperti Afganistan, Cina, Vietnam, Irak, Iran, Suriah, dan Rusia.
Potensi karyawan yang merupakan warga negara dari negara-negara yang tercantum dalam daftar tersebut, atau bahkan warga negara Jerman yang telah tinggal lama di salah satu negara tersebut, mungkin akan kesulitan memperoleh izin keamanan.
Banyak pakar setuju bahwa dorongan untuk pembaruan persenjataan Eropa mungkin akan melambat karena kurangnya tenaga kerja terampil di benua ini.
Namun, apa yang bisa membantu, papar Eva Brückner, adalah kebijakan dari Presiden AS Donald Trump.
"Karena Trump mengumumkan pemotongan dana untuk lembaga penelitian dan universitas, peluang baru kini terbuka untuk Eropa," tandasnya, seraya mencatat bahwa persepsi tentang AS dan universitas-universitas elite yang didanai dengan baik mungkin akan berubah di kalangan talenta terbaik dunia.
"Jika dana dipotong, Eropa memiliki kesempatan untuk memposisikan dirinya sebagai pusat inovasi dan merekrut peneliti."
Brückner menambahkan bahwa ia telah menerima pertanyaan dari para profesional di AS yang kartu hijau mereka tidak diperpanjang atau yang merasa tidak dihargai dalam pekerjaan mereka di AS.
Banyak di antara mereka yang kini mempertanyakan apakah mereka ingin menyelaraskan diri dengan arah politik dan geopolitik AS yang baru.
"Ini adalah peluang besar, dan kesempatan ini harus dimanfaatkan. Eropa bisa menarik beberapa pikiran paling cemerlang," tambahnya.
Proses Perekrutan
Brückner percaya bahwa sektor pertahanan perlu segera memikirkan kembali strategi perekrutan mereka, serta melibatkan lebih banyak perempuan dalam peran kepemimpinan di industri yang masih didominasi oleh mantan perwira militer, yang sebagian besar adalah pria.
Analisis Kearney menyoroti bahwa laju digitalisasi yang cepat dalam industri pertahanan mengubah profil pekerjaan dan persyaratannya.
Spesialis teknologi informasi dan ahli kecerdasan buatan (AI) untuk menghubungkan sistem senjata modern dan menggunakan big data untuk analisis situasional sangat dibutuhkan, tetapi sangat langka, demikian temuan analisis tersebut.
"Industri pertahanan secara tradisional bersifat analog. Sekarang, mereka kekurangan talenta digital yang sangat dibutuhkan," tulis Nils Kuhlwein, salah satu penulis analisis Kearney.
Gaji yang lebih tinggi dari perusahaan sipil akan dibutuhkan untuk menarik para spesialis yang sangat dibutuhkan, catatnya, sambil menambahkan bahwa "perusahaan-perusahaan harus menaikkan skala gaji mereka lebih jauh lagi."