PCOS Diam-Diam Ganggu Kesuburan, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan Perempuan

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome menjadi salah satu gangguan kesehatan reproduksi yang kerap dialami perempuan. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, yang salah satunya dapat dipicu oleh obesitas.

Banyak orang masih menganggap obesitas hanya sebatas masalah berat badan atau penampilan. Padahal, kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius, termasuk masalah hormonal yang berdampak pada sistem reproduksi perempuan.

Spesialis Penyakit Dalam, Vardian Mahardika, menjelaskan, obesitas dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan hormon yang berkaitan dengan kesuburan.

"Obesitas bukan sekadar masalah penampilan, tapi merupakan kondisi medis yang perlu mendapat perhatian. Obesitas banyak banget datang dengan fertilitas, seperti PCOS, itu juga terjadi karena obesitas," ujar Vardian dalam sebuah kesempatan pada Rabu, 4 Maret 2026.

Menurutnya, PCOS dapat memengaruhi siklus menstruasi dan fungsi ovarium pada perempuan. Gangguan ini terjadi akibat ketidakseimbangan hormon yang membuat ovarium menghasilkan hormon androgen lebih tinggi dari normal.

Akibatnya, perempuan dengan PCOS bisa mengalami menstruasi tidak teratur, kesulitan hamil, hingga munculnya kista kecil di ovarium.

Oleh sebab itu, Vardian mengingatkan perempuan untuk lebih peduli terhadap kondisi tubuhnya, terutama terkait berat badan.

"Jadi, perempuan-perempuan mulai harus lebih aware dengan yang namanya obesitas," tambahnya.

Obesitas Juga Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Selain memicu PCOS, obesitas juga berisiko menimbulkan berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung.

Penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut, dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh. Kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyempitan pembuluh darah, hingga gangguan irama jantung.

Vardian menjelaskan bahwa hubungan antara obesitas dan penyakit jantung terjadi secara bertahap.

"Ketika obesitas disertai kolesterol tinggi dan gangguan gula darah, pembuluh darah akan lebih cepat mengalami kerusakan. Dari situ bisa menyebabkan risiko penyakit jantung," ujarnya.

Dia, menambahkan, banyak pasien tidak menyadari bahwa berat badan berlebih dapat memberikan beban tambahan bagi jantung.

"Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah pada orang dengan obesitas. Kalau kondisi ini berlangsung lama tanpa pengendalian, komplikasi kardiovaskular sangat mungkin terjadi," tambahnya.

Pentingnya Deteksi Dini Obesitas

Secara medis, obesitas diukur menggunakan indeks massa tubuh (IMT), yang dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan seseorang.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menilai obesitas hanya dari penampilan fisik. Akibatnya, peningkatan berat badan yang terjadi secara perlahan sering kali tidak disadari.

Padahal, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting untuk mendeteksi obesitas lebih dini.

Dengan deteksi sejak awal, penanganan dapat dilakukan lebih cepat melalui perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, serta pendampingan medis bila diperlukan.

Read Entire Article