Menu Buka Puasa Manis dan Gorengan, Dampaknya ke Kulit Tak Main-Main

8 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Menu buka puasa manis dan gorengan memang sulit ditolak. Kolak, es buah, gorengan hangat, hingga minuman manis kerap menjadi 'primadona' saat azan Maghrib berkumandang. Namun, di balik kenikmatan tersebut, ada dampak yang sering tidak disadari, terutama bagi kesehatan kulit.

Selama berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama belasan jam. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan mengalami dehidrasi. Jika saat berbuka justru didominasi makanan manis dan berminyak tanpa diimbangi cairan serta nutrisi seimbang, dampaknya bisa langsung terlihat pada kulit.

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Rachmah Diana Putri, SpDVE, MKes, FINSDV, FAADV, menjelaskan, kekurangan cairan selama puasa dapat menurunkan vitalitas kulit. Kulit menjadi lebih kering, kusam, bahkan rentan iritasi.

Menurut Rachmah, dehidrasi membuat kulit kehilangan kelembapan alaminya. Aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa saat puasa, tubuh tetap mengeluarkan keringat dan urine, sehingga cairan terus berkurang.

Jika tidak segera diganti dengan cukup air putih dan asupan bergizi saat berbuka, kulit bisa terasa kencang, tampak kasar, berkerut, bahkan mengelupas.

Dalam kondisi tertentu, kulit kering juga dapat disertai kemerahan dan rasa gatal. "Dehidrasi menghambat sirkulasi darah ke kulit. Akibatnya, wajah terlihat lebih pucat dan kusam," katanya dikutip dari ipb.ac.id pada Rabu, 3 Maret 2026.

Penumpukan sel kulit mati pun lebih mudah terjadi ketika kulit dalam kondisi kering. Regenerasi kulit menjadi terhambat, sehingga wajah tampak tidak segar.

Gorengan dan Makanan Manis Picu Jerawat

Menu buka puasa manis dan gorengan tidak hanya memengaruhi berat badan, tapi juga kondisi kulit. Makanan tinggi gula dapat meningkatkan lonjakan kadar gula darah yang memicu produksi hormon tertentu, termasuk yang berperan dalam pembentukan jerawat.

Sementara itu, gorengan yang tinggi lemak jenuh dapat merusak keseimbangan antioksidan tubuh dan memicu produksi minyak berlebih. Kombinasi ini membuat kulit lebih mudah berjerawat dan beruntusan.

Kurangnya asupan serat dari sayur dan buah juga memperlambat proses detoksifikasi alami tubuh. Dampaknya, racun tidak terbuang optimal dan kondisi kulit bisa semakin memburuk.

Tak hanya itu, kurang tidur selama Ramadan turut memperparah keadaan. Wajah tampak lebih lelah, sayu, dan kurang bercahaya. Stres juga berperan meningkatkan hormon kortisol yang dapat memicu peradangan dan jerawat.

Pola 2-4-2 untuk Cegah Dehidrasi

Untuk mencegah kulit kering dan kusam saat puasa, Rachmah menyarankan pola minum 2-4-2. Artinya, dua gelas air saat berbuka, empat gelas antara berbuka dan sahur, serta dua gelas saat sahur.

Kebutuhan cairan yang tercukupi membantu menjaga elastisitas dan kelembapan kulit dari dalam. Selain air putih, konsumsi buah tinggi air seperti semangka dan melon juga dapat membantu.

Dia juga mengingatkan agar membatasi konsumsi kafein dan minuman bersoda karena bersifat diuretik dan dapat mempercepat kehilangan cairan.

Bukan berarti kamu tidak boleh menikmati makanan favorit saat berbuka. Kuncinya adalah porsi dan keseimbangan. Jika ingin tetap menjaga kesehatan kulit, sebaiknya batasi gorengan dan pilih sumber lemak sehat seperti alpukat, ikan salmon, serta kacang-kacangan.

Lemak sehat membantu menjaga elastisitas kulit dan mendukung fungsi lapisan pelindung kulit. Dipadukan dengan sayur, buah, dan protein yang cukup, kondisi kulit akan lebih stabil selama Ramadan.

Selain menjaga menu buka puasa, hindari mandi terlalu lama dengan air panas karena dapat menghilangkan minyak alami kulit. Gunakan pelembap setelah mandi untuk mempertahankan hidrasi.

Read Entire Article