Imlek 2026, Menang Nasaruddin: Semoga Tahun Baru Ini Membawa Kedamaian dan Kesehatan

21 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili jatuh pada 17 Februari 2026. Menyambut Tahun Baru China, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat yang merayakan.

“Atas nama Kementerian Agama dan pribadi menyampaikan Selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, gong he xin xi kong hesin si wan she ru yi, kepada umat Konghucu dan warga bangsa yang merayakan,” kata Nasaruddin di Jakarta, Senin (16/2/2026).

“Semoga tahun yang baru ini membawa kedamaian, kesehatan, kebijaksanaan, dan kesejahteraan bagi kita semuanya,” tambahnya, mengutip laman Kementerian Agama (Kemenag).

Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya nilai keadilan sebagai fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia.

“Keadilan adalah pondasi utama kehidupan berbangsa. Dengan keadilan yang ditegakkan, kemiskinan dapat kita atasi bersama melalui persaudaraan dan kepedulian sosial,” lanjutnya.

Menurut Nasaruddin, upaya menghadirkan keadilan tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan semangat persaudaraan dan kepedulian sosial antarwarga. Dia berharap, momen Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, menjadi penguat nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam membangun kehidupan yang harmonis.

“Semoga Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili memperkuat persatuan dan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia. Salam kebajikan,” harapnya.

Imlek Bukan Sekadar Pergantian Waktu

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan budaya masyarakat Tionghoa yang menandai pergantian musim dan awal siklus baru dalam kalender lunar.

Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian waktu, tetapi juga digunakan sebagai perayaan kebersamaan keluarga, rasa syukur, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Imlek dirayakan lintas agama dan keyakinan sebagai momentum harapan, doa, dan pembaruan hidup.

“Di Tiongkok, perayaan Imlek telah ada jauh sebelum Buddhisme berkembang. Namun sebagaimana kita ketahui, agama Buddha tidak hadir untuk menghapus budaya lokal, melainkan memperkaya tradisi yang ada dengan nilai-nilai spiritualitas yang lebih mendalam,” kata Penyuluh Agama Buddha Kota Yogyakarta, Totok, S.Ag, M.Hum, mengutip laman Kemenag, Selasa (17/2/2026).

Oleh karenanya, agama Buddha tampil kaya dalam ekspresi budaya baik di Tiongkok, Jepang, Korea, Thailand, Myanmar, Sri Lanka hingga Indonesia (Nusantara). Di Tiongkok sendiri agama Buddha telah mengakar kuat dan memperkaya budaya Tiongkok hingga menyebar ke berbagai belahan dunia dengan berbagai adat budayanya.

Ciong dan Hoki

Selain barongsai, angpao dan kue keranjang, tema menarik Imlek umumnya seputar ramalan berdasarkan shio dan elemennya.

Bahasan seputar ‘ciong’ dan ‘hoki’ (kesialan dan peruntungan) begitu dinanti. Tidak jarang, karena kurangnya pemahaman benar ramalan menjadi acuan pasti dalam melangkah. Tidak sedikit orang yang menggantungkan kualitas hidupnya pada kecocokan shio atau menghindari ciong.

“Di titik inilah Imlek menjadi cermin bagi umat Buddha: apakah kita sekadar menunggu peruntungan berubah, atau mulai mengubah sebab-sebab kehidupan kita sendiri?”

Dalam pandangan Buddhis, cara pandang ini perlu diperkaya dengan pemahaman Dhamma. Buddha menegaskan bahwa kebahagiaan dan penderitaan tidak ditentukan oleh nasib semata, melainkan oleh perbuatan seseorang.

Dalam Anguttara Nikaya, III: 415, Buddha menyatakan bahwa kamma adalah kehendak (cetana) yang diwujudkan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Artinya, arah kehidupan ditentukan oleh kualitas kehendak dan tindakan kita sendiri. Karma (tindakan kita) adalah yang paling mungkin dikontrol oleh diri sendiri.

Kesehatan Bukan Hadiah yang Turun Tiba-Tiba

Lebih lanjut, dalam Cūḷakammavibhaṅga Sutta (Majjhima Nikāya 135), Buddha menjelaskan bahwa perbedaan kondisi hidup manusia seperti umur panjang atau pendek, sehat atau sakit, berkecukupan atau kekurangan, keberuntungan dan kesialan berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan di masa lalu dan masa kini.

“Dengan demikian, kesehatan, rezeki, kelancaran karier, dan kualitas hidup bukanlah hadiah yang turun tiba-tiba, melainkan buah dari sebab-sebab kebajikan yang ditanam melalui hidup bermoral, penuh perhatian, dan bijaksana,” kata Totok.

Ajaran Buddha tidak menentang tradisi budaya, termasuk tradisi Imlek. Tradisi tetap dapat dirayakan sebagai identitas kultural dan sarana kebersamaan sosial. Namun, umat Buddha diajak untuk memberi makna yang lebih dalam.

Dari sekadar berharap keberuntungan menjadi tekad untuk menanam sebab kebahagiaan. Dari sekadar ritual tahunan menjadi momentum refleksi diri. Dari sekadar mengikuti ramalan menjadi komitmen untuk memperbaiki kualitas pikiran, ucapan, dan perbuatan. Mengembangkan sebab-sebab keberuntungan (kebajikan) dan menghindari sebab-sebab keruntuhan hidup.

Read Entire Article