Dokter Relawan Manfaatkan Penjernih Air Bertenaga Surya untuk Penyintas Bencana Aceh

1 day ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu tantangan utama dalam penanganan bencana di Aceh adalah akses yang terputus dan kesulitan air bersih. Meski demikian, fasilitas kesehatan masih tetap beroperasi dengan kondisi terbatas.

“Air mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Kondisi ini sangat memengaruhi layanan kesehatan,” kata dokter spesialis kandungan, Muhammad Nurhadi Rahman, Jumat (2/1/2025).

Merespons situasi ini, Pemimpin Tim Cadangan Kesehatan – Emergency Medical Team, Academic Health System (TCK-EMT AHS) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut bekerja sama dengan tim relawan Universitas Teuku Umar (UTU) dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) untuk membangun sistem penjernih air.

Pemanfaatan penjernih air bertujuan menguatkan layanan puskesmas terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah. Sistem penjernih air ini bertenaga surya dan merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat untuk tanggap darurat bencana. Program ini bersifat lintas disiplin dan melibatkan dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Dr. Sc. Adhy Kurniawan, S.T.

Saat ini, Nurhadi, Adhy dan tim telah berhasil melakukan pemasangan sistem penjernih air sederhana di satu titik, yakni RSUD Bener Meriah, sebagai langkah awal penguatan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Untuk Bener Meriah, sesuai hasil asesmen awal, alat diprioritaskan pada Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, dan Polindes di daerah Simpur.

“Selanjutnya penempatan alat penjernih air bertenaga surya akan dipasang di titik prioritas lainnya,” ujar Adhy Kurniawan.

Air Bersih adalah Kebutuhan Mendasar

Menurut Adhy, air bersih dan listrik merupakan kebutuhan mendasar sehingga sistem panel surya ini meminimalisasi ketergantungan pada listrik maupun bahan bakar minyak (BBM).

“Sistem penjernih air yang dipasang memiliki kapasitas 500 hingga 1.000 GPD atau setara 1.900 sampai 3.800 liter per hari. Ini mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, terutama di posko pengungsian,” ungkapnya.

Di Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute, kata Nurhadi, tim melakukan pengecekan menyeluruh terhadap fasilitas kamar operasi dan kamar bersalin, termasuk ketersediaan air bersih. Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan gambaran kondisi infrastruktur air bersih.

“Kami mendapat informasi bahwa empat dari delapan sumber PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) di Bener Meriah rusak, sementara fasilitas perbaikannya belum sampai ke lokasi. Saat ini masyarakat hanya mengandalkan empat sumber PDAM secara bergantian,” jelas Nurhadi.

Edukasi Higienitas Diri

Selain membantu pelayanan kesehatan, tim juga menjangkau Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga dalam satu rumah kepala dusun.

Kondisi di posko tersebut cukup terbatas, dengan hanya satu dapur umum dan satu kamar mandi. Di lokasi ini, tim melakukan edukasi personal hygiene serta pengawasan penyakit menular dan tidak menular.

Nurhadi menuturkan, dari hasil pemantauan menunjukkan adanya kasus penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gastroenteritis akut (GEA), serta scabies dan penyakit kulit lainnya.

Sementara penyakit tidak menular yang banyak ditemui meliputi hipertensi, hiperglikemia, dispepsia, myalgia dan artritis, karies gigi, serta stomatitis.

“Tim juga mencatat satu pasien dengan dugaan gangguan kesehatan mental, yakni suspected bipolar disorder,” terangnya.

Wilayah yang Masih Terisolasi

Sementara di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, relawan UGM, UTU, dan PNL yang dipimpin oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTU, Herri Darsan, S.T, M.T., menuju lokasi Simpur untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, dan pemeriksaan antenatal care (ANC) sekaligus pemeriksaan ultrasonografi (USG) ibu hamil.

“Simpur ini wilayah yang masih terisolasi, air bersih di puskesmas belum memadai. Jadi selain posko pengungsian, wilayah Simpur dan Puskesmas Mesidah akan menjadi titik prioritas pemasangan alat penjernih air,” jelasnya.

Sedangkan di RSUD Muyang Kute, tim UGM sudah menyerahkan dua sistem sumur bor, tandon air berkapasitas 5.000 liter dan 3.000 liter, serta sistem penjernih air sederhana telah berfungsi dengan baik. Nurhadi mengatakan, kegiatan pengabdian ini bisa terlaksana berkat dukungan hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.

Read Entire Article