Liputan6.com, Jakarta - Kentang merupakan bahan pangan pokok yang sering dijumpai dalam berbagai masakan. Namun, di beberapa jenis terjadi perubahan warna menjadi kehijauan yang ternyata berisiko bagi kesehatan manusia yang mengonsumsinya.
Kondisi yang terjadi secara alami ini diketahui karena adanya peningkatan kadar senyawa tertentu yang dapat membahayakan kesehatan. Jika masuk ke dalam tubuh, akan memunculkan gejala keracunan seperti mual, muntah, nyeri perut dan lainnya. Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk mengecek kondisinya sebelum diolah menjadi bahan makanan agar tetap aman.
Lantas bagaimana kentang jenis ini bisa dianggap berbahaya dan berisiko saat dikonsumsi? Simak informasi selengkapnya berikut, dirangkum Liputan6.com pada Kamis (26/2).
Kentang Hijau Dianggap Berbahaya
Kentang yang menunjukkan warna hijau sering kali menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Perubahan warna ini indikasikan adanya peningkatan kadar senyawa alami yang disebut solanin. Solanin adalah glikoalkaloid yang secara alami terdapat pada tanaman kentang, berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dari serangga dan hama.
Disampaikan dosen Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Dr Andi Early Febrinda, di laman resmi IPB University, peningkatan kadar solanin pada kentang hijau menjadikannya berpotensi berbahaya bagi manusia. Konsentrasi solanin yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi.
Menurutnya hal ini terjadi karena kentang tersebut sedang melakukan mekanisme pertahanan alaminya sebagai tanaman, terhadap hama dan penyakit. Sayangnya, jika sedang berada di fase ini, kentang dianjurkan untuk tidak dikonsumsi karena berbahaya.
Mengonsumsi Kentang Hijau Bisa Mengalami Gejala Keracunan
Konsumsi kentang hijau dengan kadar solanin tinggi dapat memicu berbagai gejala keracunan. Gejala ini umumnya muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsi kentang yang bermasalah. Tingkat keparahan gejala bergantung pada jumlah solanin yang tertelan dan kondisi tubuh individu.
Gejala keracunan solanin meliputi gangguan pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare. Selain itu, dapat muncul keluhan saraf seperti sakit kepala, pusing, sensasi kebas atau kesemutan, serta kelemahan otot. Pada kasus yang lebih parah, keracunan solanin dapat menyebabkan gangguan pernapasan, penurunan tekanan darah, bahkan gangguan irama jantung.
Rasa pahit yang kuat di mulut setelah makan kentang juga menjadi indikasi adanya solanin dalam jumlah tinggi. Anak-anak dan lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala yang lebih cepat dan parah karena massa tubuh yang lebih kecil dan daya tahan tubuh yang mungkin lebih lemah.
Memasak Kentang Hijau Tidak Menghilangkan Racunnya
Banyak orang beranggapan bahwa proses memasak dapat menghilangkan racun pada kentang hijau. Namun, menurut Dr Andi Early Febrinda, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Solanin adalah senyawa yang tahan terhadap panas. Proses memasak seperti merebus, menggoreng, atau mengukus tidak efektif menurunkan kadar solanin secara signifikan.
Senyawa ini hanya akan rusak pada suhu di atas 300°C, suhu yang tidak tercapai dalam metode memasak rumahan biasa. Bahkan, merebus kentang hanya mengurangi kadar solanin sekitar 1 persen saja. Oleh karena itu, mengandalkan proses memasak untuk menghilangkan racun solanin pada kentang hijau tidak disarankan.
"Penelitian menunjukkan bahwa merebus hanya mampu mengurangi kandungan solanin sekitar satu persen saja. Kentang dengan kadar solanin tinggi akan terasa pahit," katanya.
Risiko Kesehatan yang Ditimbulkan
Sejumlah risiko kesehatan pun akan mengintai ketika seseorang tetap memaksakan mengonsumsi kentang yang terdapat warna hijaunya. Beberapa kondisi yang akan dirasakan di antaranya mual, muntah, rasa pahit yang kuat, kram perut hingga diare. Bahkan, jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, risikonya akan bertambah sehingga makin berbahaya bagi pencernaan.
"Gejala keracunan yang dapat muncul antara lain rasa terbakar di mulut, mual, muntah, kram perut, diare, hingga pendarahan internal,” ungkapnya.
Jika mendapat kondisi hijau di kentang dan hanya di sebagian kecilnya saja, masyarakat bisa membuangnya dengan cara mengiris menggunakan pisau pada bagian hijaunya. Jika dibiarkan, bagian hijau ini akan menyebar ke seluruh bagian kentang.
Tips Aman Mengonsumsi Kentang
Mengonsumsi kentang dengan aman memerlukan perhatian pada pemilihan dan pengolahan. Dengan langkah yang tepat, kentang dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
- Pilih Kentang Berkualitas Baik: Pilih kentang yang kulitnya mulus, tidak ada luka atau memar. Hindari kentang yang sudah bertunas atau menunjukkan warna kehijauan.
- Buang Bagian Hijau dan Tunas: Jika terdapat sedikit warna hijau atau tunas pada kentang, kupas bagian tersebut secara menyeluruh. Buang tunas dan bagian hijau karena di situlah konsentrasi solanin tinggi.
- Jangan Konsumsi Kentang yang Sangat Hijau atau Pahit: Jika kentang sangat hijau atau memiliki rasa pahit yang kuat, sebaiknya buang seluruhnya. Rasa pahit merupakan indikator kadar solanin yang tinggi.
- Prioritaskan Metode Memasak Sehat: Olah kentang dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang. Metode ini menjaga nutrisi dan menghindari penambahan lemak berlebih.
- Perhatikan Porsi: Kentang adalah sumber karbohidrat. Konsumsi dalam porsi yang sesuai untuk menjaga keseimbangan nutrisi.
Tips Menyimpan Kentang
Penyimpanan kentang yang benar dapat mencegah perubahan warna hijau dan pertumbuhan tunas, sehingga menjaga kualitas dan keamanannya.
- Simpan di tempat sejuk, gelap, dan kering: Kentang harus disimpan di tempat yang gelap, sejuk, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
- Hindari paparan cahaya: Jauhkan kentang dari sinar matahari langsung atau cahaya lampu.
- Jangan simpan di kulkas: Menyimpan kentang di kulkas dapat mempercepat perubahan pati menjadi gula.
- Gunakan wadah berventilasi: Simpan kentang dalam keranjang, kantong kertas, atau wadah berventilasi lainnya.
- Jauhkan dari bawang dan buah-buahan: Bawang dan beberapa buah-buahan menghasilkan gas etilen yang dapat mempercepat pematangan dan pertumbuhan tunas pada kentang.
- Jangan cuci sebelum disimpan: Mencuci kentang sebelum disimpan dapat membuat permukaannya lembap.
- Periksa secara rutin: Periksa kentang secara berkala untuk memastikan tidak ada yang busuk atau bertunas.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik
Q: Apakah kentang hijau benar-benar beracun?
A: Ya, kentang hijau mengandung solanin, senyawa glikoalkaloid yang beracun jika dikonsumsi dalam jumlah tinggi.
Q: Apa saja gejala keracunan solanin dari kentang hijau?
A: Gejala keracunan solanin meliputi mual, muntah, sakit perut, diare, sakit kepala, dan pusing.
Q: Bisakah racun pada kentang hijau dihilangkan dengan memasak?
A: Tidak, solanin adalah senyawa yang tahan panas dan tidak dapat dihilangkan secara signifikan dengan memasak.
Q: Mengapa kentang bisa berubah warna menjadi hijau?
A: Kentang berubah warna menjadi hijau karena paparan cahaya, yang memicu produksi klorofil dan solanin.
Q: Bagaimana cara menyimpan kentang agar tidak cepat hijau atau bertunas?
A: Simpan kentang di tempat yang sejuk, gelap, kering, dan berventilasi baik, jauh dari paparan cahaya langsung.

18 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514861/original/025345600_1772114260-IMG-20260226-WA0106.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5234184/original/087376700_1748337352-13891a88-af14-46fe-9133-64b60982b12a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514818/original/076173900_1772108555-Plt_kemenkes_andi_saguni_26_feb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5514263/original/027606400_1772085220-jeffry.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5299507/original/054605100_1753842252-c86f471a-703b-49ed-bf9f-ea0e7d99f788.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513443/original/031261000_1772013061-IMG20260225094636.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770210/original/023945300_1710251088-20240312-Berburu_Takjil-ANG_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5177593/original/020614500_1743217179-2bbdbe92-88f5-4db1-a02f-511f4b3352d8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5512679/original/024210400_1771990462-pasien_kanker_puasa.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5512996/original/042364300_1772000456-WhatsApp_Image_2026-02-25_at_12.52.44.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3323368/original/057006800_1607930307-20201214-Vaksin-Campak-Pentablo-dan-Polio-penyuluhan-anak-anak-DWI-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507798/original/043803100_1771552984-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4624482/original/098799900_1698292432-saraf_kejepit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1622111/original/030016800_1497325545-telor-ceplok-673x373px.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436286/original/027618800_1765167738-Ide_Jualan_Minuman_Cup_Sederhana_untuk_Produk_Cokelat_Hangat_dan_Kopi_Gula_Aren_Panas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5420568/original/009927800_1763794275-ubi_cilembu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510887/original/095725800_1771842183-Gemini_Generated_Image_jy8pc7jy8pc7jy8p.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4777981/original/067485400_1710879359-young-muslim-businesswoman-check-product-purchase-order-stock-save-tablet-computer-work-home-office_7861-2997.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4894595/original/094443000_1721262079-fotor-ai-202407187201.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406089/original/006566900_1762512009-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161503/original/090966100_1741846958-1741840983693_penyebab-autis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5032120/original/020113400_1733123995-fotor-ai-2024120214155.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380909/original/004147800_1760438190-Ilustrasi_perundungan_di_Grobogan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5398804/original/020121200_1761897445-Abdul_Rauf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405703/original/088328900_1762495927-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5369993/original/045407100_1759484291-WhatsApp_Image_2025-10-03_at_16.34.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406988/original/070457800_1762657462-uld_pb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406319/original/030571500_1762537820-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293741/original/045684500_1753341485-2148817396.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403042/original/097694400_1762315278-job_fair_disabilitas_pramono_anung.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355962/original/087526300_1758388524-Untitled.jpg)