Air Kelapa Bisakah Atasi Cacar Air pada Anak? Dokter Beri Penjelasan

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Air kelapa disebut-sebut memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Banyak orang yang meyakini minum air kelapa bisa mengatasi gatal-gatal pada anak yang terkena cacar air atau varisela.

Faktanya, air kelapa tidak terbukti secara ilmiah bisa mengurangi gatal-gatal pada anak yang mengalami cacar air.

"Belum ada bukti ilmiah minum air kelapa mengurangi gatal-gatal pada anak yang cacar. Namun, boleh kok diberikan kepada anak," tutur Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T(K) dalam diskusi daring beberapa saat lalu.

Air kelapa, lanjut Ratni, mengandung banyak elektrolit. Salah satunya kalium yang merupakan mineral penting yang berperan sebagai elektrolit untuk menjaga keseimbangan cairan, mengatur tekanan darah, mendukung fungsi saraf, dan kontraksi otot.

Ratni mengatakan pada anak yang mengalami cacar air terus terhidrasi atau cukup cairan. Lalu, pastikan juga anak mendapatkan asupan makanan yang bergizi.

"Ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh," pesannya.

Anak Kena Cacar Air Mesti Mandi

Ratni juga menyarankan anak yang kena cacar air untuk mandi secara rutin. Jika tidak mandi, anak malah merasa tidak nyaman.

"Pada varisela, kan muncul gatal pating clekit gitu ya. Ini haris dimandikan, jika tidak malah muncul seperti keringet buntet begitu," pesannya.

Lalu, pakaikan pakaian dengan bahan yang nyaman. Bila dokter memberikan antihistamin, pastikan dikonsumsi sesuai resep dokter karena berfungsi untuk mengurangi gatal sehingga anak lebih nyaman dan bisa tidur.

Apa Itu Cacar Air?

Varisela atau cacar air merupakan infeksi primer akibat virus Varicella-Zoster Virus (VZV).

Penyakit ini ditandai dengan demam serta munculnya ruam vesikular yang menyebar di seluruh tubuh, terutama pada anak-anak.

Ruam biasanya berawal dari wajah dan badan, kemudian menyebar ke ekstremitas. Selain kulit, lesi juga dapat muncul di mukosa seperti mulut, mata, hingga area genital.

Ratni mengatakan varisela merupakan penyakit yang sangat menular, dengan angka reproduksi dasar (R0) mencapai 8–12. Penularan terjadi melalui udara (droplet), serta kontak langsung dengan cairan dari lepuhan kulit.

"Lingkungan tertutup seperti sekolah, rumah, atau bangsal perawatan menjadi lokasi yang berisiko tinggi terjadinya penyebaran," katanya.

Masa penularan berlangsung hingga seluruh lesi mengering dan membentuk krusta. Oleh karena itu, isolasi pasien serta penerapan kebersihan yang baik sangat penting untuk mencegah penularan ke anak lain atau anggota keluarga.

Read Entire Article