21 April Hari Apa: Memaknai Hari Kartini Lewat 7 Isu Kesehatan Perempuan Global

5 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 21 April sering membuat banyak orang bertanya, 21 April hari apa? Jawabannya adalah Hari Kartini, momen penting untuk mengenang perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia.

Namun, ketika kembali muncul pertanyaan 21 April hari apa, maknanya tidak hanya sebatas perayaan simbolik. Menurut Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara sekaligus Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes, Prof Tjandra Yoga Aditama, Hari Kartini juga bisa menjadi refleksi untuk melihat kondisi nyata kesehatan perempuan, baik di Indonesia maupun secara global.

Data dunia menunjukkan bahwa tantangan kesehatan perempuan masih besar. Tjandra menekankan ada tujuh isu utama yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pertama, angka kematian ibu masih tinggi. Data WHO per 2023 menunjukkan lebih dari 700 perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan dan persalinan yang sebenarnya bisa dicegah. Bahkan, kata Tjandra, kematian maternal terjadi hampir setiap dua menit sekali di dunia.

Kedua, kehamilan remaja masih menjadi masalah serius. Pada 2019, diperkirakan ada 21 juta kehamilan pada remaja usia 15 s.d 19 tahun, dengan sekitar 50 persen tidak direncanakan.

"Kondisi ini meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu muda dan bayinya," kata Tjandra kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat, Selasa, 21 April 2026.

Ketiga, akses terhadap tenaga kesehatan profesional menjadi faktor krusial. Pelayanan sejak masa kehamilan hingga persalinan terbukti mampu menyelamatkan nyawa ibu dan bayi.

Keempat, meski ada kemajuan, penurunan angka kematian ibu secara global baru mencapai sekitar 40 persen dalam dua dekade terakhir. "Artinya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan," tambahnya.

Kelima, angka kelahiran pada anak usia sangat muda (10 s.d 14 tahun) masih terjadi, dengan estimasi mencapai 1,5 per 1.000 perempuan. Tjandra menekankan bahwa ini menunjukkan adanya tantangan sosial dan kesehatan yang kompleks.

Keenam, kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya.

Ketujuh, kesehatan perempuan harus dilihat secara menyeluruh, tidak hanya fisik tapi juga mental, serta sepanjang siklus kehidupan.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia ini menegaskan bahwa isu ini tidak bisa diabaikan.

"Upaya peningkatan kesehatan kaum perempuan adalah kegiatan mendasar untuk mencapai pelayanan kesehatan universal, kesetaraan kesehatan, dan kesetaraan gender," ujarnya.

Dia juga menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam pelayanan kesehatan perempuan.

"Pelayanan kesehatan perempuan harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup kesehatan fisik dan mental sepanjang siklus kehidupan," pungkasnya.

Read Entire Article